<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mengungkap Jati Diri Saudagar Syaikon (2)</title><description>Di mata sanak-keluarganya, H Syaikon Fikri dikenal sebagai sosok yang ulet dalam bekerja. Tak heran jika pengusaha kulit sapi ini paling sukses di antara empat saudaranya yang lain. </description><link>https://news.okezone.com/read/2008/09/22/1/147994/mengungkap-jati-diri-saudagar-syaikon-2</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2008/09/22/1/147994/mengungkap-jati-diri-saudagar-syaikon-2"/><item><title>Mengungkap Jati Diri Saudagar Syaikon (2)</title><link>https://news.okezone.com/read/2008/09/22/1/147994/mengungkap-jati-diri-saudagar-syaikon-2</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2008/09/22/1/147994/mengungkap-jati-diri-saudagar-syaikon-2</guid><pubDate>Senin 22 September 2008 09:08 WIB</pubDate><dc:creator>Destyan Soejarwoko</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2008/09/22/1/147994/EWNTwihbEc.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Keluarga Syaikon di Mapolresta Pasuruan</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2008/09/22/1/147994/EWNTwihbEc.jpg</image><title>Keluarga Syaikon di Mapolresta Pasuruan</title></images><description>  PASURUAN - Di mata sanak-keluarganya, H Syaikon Fikri dikenal sebagai sosok yang ulet dalam bekerja. Tak heran jika pengusaha kulit sapi ini paling sukses di antara empat saudaranya yang lain.   Usaha pengumpulan kulit sapi merupakan core bisnis (basis usaha) yang selama ini membesarkan nama H Syaikon Fikri. Pekerjaan yang digeluti sejak remaja itu bukanlah usaha yang sama sekali baru baginya.   Asal diketahui, usaha itu merupakan bisnis keluarga yang diwariskan secara turun-temurun. Ayahanda H. Syaikon Fikri, (alm) H Dahlan bin KH Abdul Adro'i merupakan pengusaha kulit sapi paling sukses pada zamannya.   Jaringan bisnis (alm) H Dahlan saat itu bahkan sudah merambah hingga tingkat Jawa Timur. Omzetnya terus meningkat. Jika diukur dengan kurs rupiah sekarang, bisa jadi perputaran uang yang berhasil dikeruk dari usaha pengepulan kulit ternak waktu itu mencapai miliaran rupiah. Tak heran jika usaha yang dijalankan (alm) H Dahlan menjadi yang terbesar. Label juragan kulit sapi pun melekat pada diri ulama yang juga pengasuh pondok pesantren Keboncandi, Desa Keboncandi, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan waktu itu. Puluhan bahkan ratusan ton kulit sapi yang berhasil dikumpulkan lalu dipasok ke pabrik-pabrik pengolahan kulit ternak untuk dijadikan berbagai jenis barang. Kisah sukses itu terus berlanjut hingga membuat pundi-pundi kekayaan H Dahlan semakin bertambah gemuk.    Semua orang di seantero Pasuruan, hampir semuanya mengenal sosok ayahanda H Syaikon. Selain berbasis ulama, pengasuh pondok pesantren Keboncandi ini dikenal sebagai keluarga berpengaruh. Konon, silsilah keluarga mereka masih memiliki garis keturunan dengan Sunan Gunung Jati.   &amp;quot;Silsilah keluarga ini selalu dipasang saat ada haul atau reuni dengan keluarga besar keturunan Sunan Gunung Jati di ponpes Keboncandi,&amp;quot; terang Mohammad Helmy, keponakan H Syaikon Fikri dari kakak kandung nomor 2, H Ahmad Nur.   Haji Syaikon Fikri sendiri merupakan merupakan anak bungsu dari empat saudara. Tiga saudaranya yang lain, sebagaimana penuturan  M helmy, antara lain adalah Hj Chotijah, (alm) H. Ahmad Nur dan Hj Malikhiyah. Keempatnya merupakan anak kandung H Dahlan Adro'i buah perkawinan dengan Hj Maslihah Binti Kyai Nawawi.   &amp;quot;Dulu keluarga kakek tinggal di di lingkungan ponpes Kebonsari, di Desa Keboncandi, Kecamatan Winongan. Tapi setelah usaha kulit sapi yang digelutinya terus berkembang, kakek kemudian memutuskan untuk hijrah ke kota. Persisnya di lingkungan Kebonsari, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan,&amp;quot; terang Helmy menceritakan.    Keputusan itu terbukti berhasil. Usaha keluarga (alm) H Dahlan waktu itu terus berkembang. Keuletan ayahanda H Syaikon dalam membangun jaringan dan bisnis membuat usaha pengepulan kulit ternak mereka semakin menggurita hingga tingkat Jawa Timur.&amp;quot;Dari empat anaknya, Haji Syaikon yang paling ulet bekerja. Dia yang menjadi ujung tombak bisnis keluarga ini saat kakek tiada,&amp;quot; papar Helmy.   Lahir dan tumbuh dari lingkungan keluarga berada tidak berarti membuat H Syaikon dan saudara-saudaranya bisa berleha-leha.   Doktrin agama yang begitu kuat dari sang ayah (H Dahlan) membuat H Syaikon Fikri kecil akhirnya memutuskan drop out dari bangku sekolah rakyat kelas IV (sekolah umum setingkat SD).    Sebagai gantinya, dia melanjutkan ke pondok pesantren Darul Hadist, Kota Malang. Jalur pendidikan agama ini juga ditempuh oleh ketiga saudara tuanya yang lain. Yakni Hj Chotijah, H Ahmad Nur Hj Malikhiyah.   &amp;quot;Keluarga Kyai Haji Dahlan memang sangat fanatik terhadap agama. Kakek tak mau peduli pendidikan anak-anaknya jika memilih jalur sekolah umum. Tapi jika di jalur pendidikan agama, sampai dimana pun akan kakek bersedia untuk membiayai,&amp;quot; timpal Tohir Alkaf, keponakan H Syaikon dari kakak pertamanya, Hj Chotijah.   Begitulah (alm) H Dahlan mendidik anak-anaknya. Sedikit banyak, lanjut Helmy dan Tohir Alkaf, pola pikir fanatis ala kakek mereka juga menurun ke empat anaknya. Mulai dari Hj Chotijah, H Ahmad Nur, Hj Malikhiyah hingga H Syaikon Fikri. Maka  itu, baik Helmy maupun Tohir mengaku tidak kaget jika banyak orang mengira H Syaikon yang sekarang menjadi perbincangan banyak orang karena tragedi zakat kelabu senin (15/9) lalu, adalah sosok yang ekslusif.   &amp;quot;Dia memang orangnya tidak macam-macam. Cenderung tertutup karena itu sudah menurun dari sifat kakek yang fanatis terhadap ajaran Islam,&amp;quot; terang Helmy menambahkan.    Keterlibatan H Ahmad Nur dan H Syaikon dalam usaha pengumpulan kulit sapi dan kambing mereka mulai saat memasuki remaja. Tentu saja H Ahmad Nur yang lebih tua menggelutinya lebih dulu.   Disusul oleh H Syaikon muda yang saat itu baru saja merampungkan pendidikan agama di Darul Hadist selama 6 tahun. Dua anak laki-laki H Dahlan ini memang menjadi ujung tombak bisnis keluarga tersebut.   Sejak H Dahlan tidak lagi aktif dan mulia menyerahkan kendali perusahaan pada anak-anaknya, H Ahmad Nur ditunjuk sebagai pengelola manajemen perusahaan.    Sedangkan H Syaikon berperan sebagai eksekutor yang mengurusi keperluan perusahan yang bersifat eksternal. Misal untuk melakukan negosiasi dengan rekanan bisnis, mengurusi surat-menyurat untuk kepentingan perusahaan maupun keperluan eksternal lainnya.   &amp;quot;Sebagai manajer, almarhum ayah (H Ahmad Nur) hanya terima bersih. H Syaikon diberi peran utama dalam urusan keluar karena di mata keluarga beliau memang dikenal sebagai sosok yang ulet, tegas dan gigih bekerja,&amp;quot; urai Helmy.    Lalu bagaimana dengan Hj Chotijah dan Hj Malikhiyah? Helmi dan Tohir mengatakan dua anak perempuan H Dahlan itu bersifat pasif.  Keduanya tidak diberi peran langsung mengurusi perusahaan tapi mendapat jatah pembagian keuntungan dari bisnis keluarga ini dengan perbandingan 2:1. Artinya, jika anak laki-laki H Dahlan akan mendapat jatah pembagian hasil usaha dobel dibanding yang diterima Hj Chotijah dan Hj Malikhiyah.   &amp;quot;Pola pembagian itu sudah sesuai dengan hukum Islam,&amp;quot; kata Tohir Alkaf.   Hingga akhirnya kakek mereka, H Dahlan berpulang ke rahmatullah pada tahun 1979 lalu disusul dengan kematian H Ahmad Nur pada 1991, atas kesepakatan keluarga usaha dibidang pengumpulan kulit sapi akhirnya dipisah.  H Syaikon lalu melanjutkan bisnis kult itu atas nama keluarganya sendiri hingga sekarang.   Tapi dalam perkembangannya H Syaikon tidak lagi melulu mengurusi bisnis kulit semata. Dia juga menggeluti sejumlah usaha lain mulai dari jual-beli kendaraan mewah, penangakaran sarang burung walet, peminjaman modal usaha hingga pengelolaan balai pelatihan ibadah haji.   Kekayaan H Syaikon terus melambung seiiring dengan rutinitas amal ibadahnya memberi zakat mal pada kaum dhuafa sejak tahun 1975.   </description><content:encoded>  PASURUAN - Di mata sanak-keluarganya, H Syaikon Fikri dikenal sebagai sosok yang ulet dalam bekerja. Tak heran jika pengusaha kulit sapi ini paling sukses di antara empat saudaranya yang lain.   Usaha pengumpulan kulit sapi merupakan core bisnis (basis usaha) yang selama ini membesarkan nama H Syaikon Fikri. Pekerjaan yang digeluti sejak remaja itu bukanlah usaha yang sama sekali baru baginya.   Asal diketahui, usaha itu merupakan bisnis keluarga yang diwariskan secara turun-temurun. Ayahanda H. Syaikon Fikri, (alm) H Dahlan bin KH Abdul Adro'i merupakan pengusaha kulit sapi paling sukses pada zamannya.   Jaringan bisnis (alm) H Dahlan saat itu bahkan sudah merambah hingga tingkat Jawa Timur. Omzetnya terus meningkat. Jika diukur dengan kurs rupiah sekarang, bisa jadi perputaran uang yang berhasil dikeruk dari usaha pengepulan kulit ternak waktu itu mencapai miliaran rupiah. Tak heran jika usaha yang dijalankan (alm) H Dahlan menjadi yang terbesar. Label juragan kulit sapi pun melekat pada diri ulama yang juga pengasuh pondok pesantren Keboncandi, Desa Keboncandi, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan waktu itu. Puluhan bahkan ratusan ton kulit sapi yang berhasil dikumpulkan lalu dipasok ke pabrik-pabrik pengolahan kulit ternak untuk dijadikan berbagai jenis barang. Kisah sukses itu terus berlanjut hingga membuat pundi-pundi kekayaan H Dahlan semakin bertambah gemuk.    Semua orang di seantero Pasuruan, hampir semuanya mengenal sosok ayahanda H Syaikon. Selain berbasis ulama, pengasuh pondok pesantren Keboncandi ini dikenal sebagai keluarga berpengaruh. Konon, silsilah keluarga mereka masih memiliki garis keturunan dengan Sunan Gunung Jati.   &amp;quot;Silsilah keluarga ini selalu dipasang saat ada haul atau reuni dengan keluarga besar keturunan Sunan Gunung Jati di ponpes Keboncandi,&amp;quot; terang Mohammad Helmy, keponakan H Syaikon Fikri dari kakak kandung nomor 2, H Ahmad Nur.   Haji Syaikon Fikri sendiri merupakan merupakan anak bungsu dari empat saudara. Tiga saudaranya yang lain, sebagaimana penuturan  M helmy, antara lain adalah Hj Chotijah, (alm) H. Ahmad Nur dan Hj Malikhiyah. Keempatnya merupakan anak kandung H Dahlan Adro'i buah perkawinan dengan Hj Maslihah Binti Kyai Nawawi.   &amp;quot;Dulu keluarga kakek tinggal di di lingkungan ponpes Kebonsari, di Desa Keboncandi, Kecamatan Winongan. Tapi setelah usaha kulit sapi yang digelutinya terus berkembang, kakek kemudian memutuskan untuk hijrah ke kota. Persisnya di lingkungan Kebonsari, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan,&amp;quot; terang Helmy menceritakan.    Keputusan itu terbukti berhasil. Usaha keluarga (alm) H Dahlan waktu itu terus berkembang. Keuletan ayahanda H Syaikon dalam membangun jaringan dan bisnis membuat usaha pengepulan kulit ternak mereka semakin menggurita hingga tingkat Jawa Timur.&amp;quot;Dari empat anaknya, Haji Syaikon yang paling ulet bekerja. Dia yang menjadi ujung tombak bisnis keluarga ini saat kakek tiada,&amp;quot; papar Helmy.   Lahir dan tumbuh dari lingkungan keluarga berada tidak berarti membuat H Syaikon dan saudara-saudaranya bisa berleha-leha.   Doktrin agama yang begitu kuat dari sang ayah (H Dahlan) membuat H Syaikon Fikri kecil akhirnya memutuskan drop out dari bangku sekolah rakyat kelas IV (sekolah umum setingkat SD).    Sebagai gantinya, dia melanjutkan ke pondok pesantren Darul Hadist, Kota Malang. Jalur pendidikan agama ini juga ditempuh oleh ketiga saudara tuanya yang lain. Yakni Hj Chotijah, H Ahmad Nur Hj Malikhiyah.   &amp;quot;Keluarga Kyai Haji Dahlan memang sangat fanatik terhadap agama. Kakek tak mau peduli pendidikan anak-anaknya jika memilih jalur sekolah umum. Tapi jika di jalur pendidikan agama, sampai dimana pun akan kakek bersedia untuk membiayai,&amp;quot; timpal Tohir Alkaf, keponakan H Syaikon dari kakak pertamanya, Hj Chotijah.   Begitulah (alm) H Dahlan mendidik anak-anaknya. Sedikit banyak, lanjut Helmy dan Tohir Alkaf, pola pikir fanatis ala kakek mereka juga menurun ke empat anaknya. Mulai dari Hj Chotijah, H Ahmad Nur, Hj Malikhiyah hingga H Syaikon Fikri. Maka  itu, baik Helmy maupun Tohir mengaku tidak kaget jika banyak orang mengira H Syaikon yang sekarang menjadi perbincangan banyak orang karena tragedi zakat kelabu senin (15/9) lalu, adalah sosok yang ekslusif.   &amp;quot;Dia memang orangnya tidak macam-macam. Cenderung tertutup karena itu sudah menurun dari sifat kakek yang fanatis terhadap ajaran Islam,&amp;quot; terang Helmy menambahkan.    Keterlibatan H Ahmad Nur dan H Syaikon dalam usaha pengumpulan kulit sapi dan kambing mereka mulai saat memasuki remaja. Tentu saja H Ahmad Nur yang lebih tua menggelutinya lebih dulu.   Disusul oleh H Syaikon muda yang saat itu baru saja merampungkan pendidikan agama di Darul Hadist selama 6 tahun. Dua anak laki-laki H Dahlan ini memang menjadi ujung tombak bisnis keluarga tersebut.   Sejak H Dahlan tidak lagi aktif dan mulia menyerahkan kendali perusahaan pada anak-anaknya, H Ahmad Nur ditunjuk sebagai pengelola manajemen perusahaan.    Sedangkan H Syaikon berperan sebagai eksekutor yang mengurusi keperluan perusahan yang bersifat eksternal. Misal untuk melakukan negosiasi dengan rekanan bisnis, mengurusi surat-menyurat untuk kepentingan perusahaan maupun keperluan eksternal lainnya.   &amp;quot;Sebagai manajer, almarhum ayah (H Ahmad Nur) hanya terima bersih. H Syaikon diberi peran utama dalam urusan keluar karena di mata keluarga beliau memang dikenal sebagai sosok yang ulet, tegas dan gigih bekerja,&amp;quot; urai Helmy.    Lalu bagaimana dengan Hj Chotijah dan Hj Malikhiyah? Helmi dan Tohir mengatakan dua anak perempuan H Dahlan itu bersifat pasif.  Keduanya tidak diberi peran langsung mengurusi perusahaan tapi mendapat jatah pembagian keuntungan dari bisnis keluarga ini dengan perbandingan 2:1. Artinya, jika anak laki-laki H Dahlan akan mendapat jatah pembagian hasil usaha dobel dibanding yang diterima Hj Chotijah dan Hj Malikhiyah.   &amp;quot;Pola pembagian itu sudah sesuai dengan hukum Islam,&amp;quot; kata Tohir Alkaf.   Hingga akhirnya kakek mereka, H Dahlan berpulang ke rahmatullah pada tahun 1979 lalu disusul dengan kematian H Ahmad Nur pada 1991, atas kesepakatan keluarga usaha dibidang pengumpulan kulit sapi akhirnya dipisah.  H Syaikon lalu melanjutkan bisnis kult itu atas nama keluarganya sendiri hingga sekarang.   Tapi dalam perkembangannya H Syaikon tidak lagi melulu mengurusi bisnis kulit semata. Dia juga menggeluti sejumlah usaha lain mulai dari jual-beli kendaraan mewah, penangakaran sarang burung walet, peminjaman modal usaha hingga pengelolaan balai pelatihan ibadah haji.   Kekayaan H Syaikon terus melambung seiiring dengan rutinitas amal ibadahnya memberi zakat mal pada kaum dhuafa sejak tahun 1975.   </content:encoded></item></channel></rss>
