<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Veteran, Mereka yang Terpinggirkan</title><description>Proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini, Jakarta Pusat, 63 tahun silam. Peristiwa bersejarah itu pun diabadikan mendiang fotografer Soemarto Frans Mendoer.  </description><link>https://news.okezone.com/read/2008/11/09/217/162189/veteran-mereka-yang-terpinggirkan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2008/11/09/217/162189/veteran-mereka-yang-terpinggirkan"/><item><title>Veteran, Mereka yang Terpinggirkan</title><link>https://news.okezone.com/read/2008/11/09/217/162189/veteran-mereka-yang-terpinggirkan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2008/11/09/217/162189/veteran-mereka-yang-terpinggirkan</guid><pubDate>Minggu 09 November 2008 16:18 WIB</pubDate><dc:creator>SINDO</dc:creator><media:content url="https://e.okezone.com/error.png" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://e.okezone.com/error.png</image><title></title></images><description>PROKLAMASI kemerdekaan Indonesia dikumandangkan di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini, Jakarta Pusat, 63 tahun silam. Peristiwa bersejarah itu pun diabadikan mendiang fotografer Soemarto Frans Mendoer.Dalam foto sejarah itu, sosok yang jelas terlihat hanyalah Soekarno dan M Hatta, dua proklamator. Lantas, siapakah pemuda bercelana pendek yang tengah mengibarkan bendera Merah Putih itu? Dialah Ilyas Karim yang saat itu masih berusia 17 tahun. Ilyas bertugas memegangi bendera atas perintah komandannya, Latief Hendraningrat.Di samping Ilyas, pengerek bendera lainnya yang berpakaian ala tentara adalah Shudanco Singgih. Begitulah penuturan kisah Ilyas di rumahnya kawasan Rawajati, Kalibata, Jakarta Selatan. Lelaki yang kini berusia 81 tahun itu berkisah, saat proklamasi dirinya adalah anggota paling kecil dalam Angkatan Muda Islam (AMI) pimpinan Latief.Sebelum peristiwa bersejarah itu, dia pernah menjadi petugas pengerek bendera saat bersekolah tarbiyah di Banten. Ilyas kini tinggal di tepi rel kereta api dekat pintu perlintasan di Kalibata, tak jauh dari Mal Kalibata. Ilyas tinggal di rumah itu sejak 1982. Sebelumnya, di tinggal di kompleks Siliwangi, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.Dia pun tergusur ketika pemerintah Orde Baru mendirikan Gedung Departemen Keuangan. Dari situ, lelaki yang pernah bertugas sebagai anggota pasukan Garuda 2, yaitu pasukan untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di Vietnam, Lebanon, dan Kongo, di bawah pimpinan Mayor Solichin GP itu mengontrak rumah di Jalan Pramuka, Jakarta Timur, sebelum akhirnya meminjam sebidang tanah seluas 70 m2 dari karyawan PJKA di Rawajati, Jakarta Selatan, yang sekarang ditempatinya. Kini, dia pun terancam tergusur lagi.Maklum, tanah yang ditinggalinya saat ini adalah milik PT Kereta Api Indonesia. Bahkan Ilyas dan puluhan keluarga yang menepati areal ini sudah mendapat surat peringatan untuk segera pindah. Sejak 5 tahun terakhir, Ilyas mengalami kesulitan penglihatan. Kulit di atas kelopak matanya tertutup sehingga harus ditarik dengan selotip agar bisa melihat. &amp;quot;Bapak sedang istirahat, sebentar saya beri tahu Bapak,&amp;quot; ujar istrinya saat itu.Di usia senjanya, Ilyas dipercaya menjadi Ketua Yayasan Pejuang Siliwangi (Yapsi). Hal ini menuntutnya untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga anggotanya sesama veteran. Nasib tidak menentu bukan hanya dialami Ilyas. Masih banyak veteran yang bernasib serupa, bahkan lebih parah. Ilyas setiap bulan mendapatkan tunjangan sebesar Rp1,5 juta dari pemerintah. Ilyas pensiun sebagai letnan kolonel.Berbeda dengan Ilyas, Soepranoto merupakan veteran yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Korps Cacat Veteran Republik Indonesia (KCVRI). Mungkin Soepranoto lebih beruntung karena jabatan Ketua Umum KCVRI membuatnya berhak menempati rumah dinas di Jalan Tambak 11A Jakarta Pusat.Namun sebagai Ketua Umum KCVRI dia sangat sedih ketika mengingat nasib para veteran cacat yang jumlahnya saat ini tinggal 500-an orang dan kalau ditambah dengan para janda veteran jumlahnya tidak sampai 2.000 jiwa. Tunjangan bagi para veteran yang menderita cacat akibat peperangan masih sangat minim.Menurutnya untuk cacat permanen seperti buta atau kedua kaki terpotong hanya mendapatkan Rp60.000 per bulan. Saat ini banyak organisasi veteran yang ada di Indonesia. Sebut saja Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD), Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Udara (PPAU), Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Pepabri), dan Badan Kontak Purnawirawan Angkatan Laut (BKPAL).Soepranoto beberapa kali harus mengelus dada ketika bertemu dengan veteran dari negara lain. Menurutnya para veteran dari negara lain mendapatkan perhatian pemerintah untuk hidup layak. Dia menceritakan pernah bertemu veteran asal Australia yang berkunjung ke Indonesia tahun lalu. Mereka setiap bulannya mendapatkan tunjangan yang menurutnya jika dikurskan pada saat itu senilai Rp10 juta per bulan.Menurut Soepranoto maupun Ilyas, mereka tidak berharap banyak kepada pemerintah Indonesia. Apalagi untuk mendapatkan penghargaan berlebih, toh mereka berjuang untuk negara tanpa pamrih. Yang mereka harapkan adalah kehidupan layak untuk menghabiskan hari tua mereka. Bukan kehidupan yang mewah atau apalagi sanjungan.Toh, mereka sadar bahwa bangsa ini masih menghadapi masalah yang cukup besar. Meski di tengah tekanan kebutuhan hidup yang terus menghimpit, Ilyas dan Soepranoto masih terus mengikuti perkembangan bangsa ini. Berita menjadi santapan yang tidak pernah mereka tinggalkan. Betapa miris hati mereka ketika dihadapkan pada perilaku generasi penerus yang kurang memaknai perjuangan para pahlawan.&amp;quot;Seharusnya jika mereka sadar akan pengorbanan harta dan jiwa para pejuang terdahulu, mereka tidak akan pernah berbuat korupsi,&amp;quot; kata Ilyas. Soeprapto berharap mereka yang diindikasikan terlibat korupsi itu segera digantikan oleh generasi yang lebih mempunyai idealisme.Â   </description><content:encoded>PROKLAMASI kemerdekaan Indonesia dikumandangkan di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini, Jakarta Pusat, 63 tahun silam. Peristiwa bersejarah itu pun diabadikan mendiang fotografer Soemarto Frans Mendoer.Dalam foto sejarah itu, sosok yang jelas terlihat hanyalah Soekarno dan M Hatta, dua proklamator. Lantas, siapakah pemuda bercelana pendek yang tengah mengibarkan bendera Merah Putih itu? Dialah Ilyas Karim yang saat itu masih berusia 17 tahun. Ilyas bertugas memegangi bendera atas perintah komandannya, Latief Hendraningrat.Di samping Ilyas, pengerek bendera lainnya yang berpakaian ala tentara adalah Shudanco Singgih. Begitulah penuturan kisah Ilyas di rumahnya kawasan Rawajati, Kalibata, Jakarta Selatan. Lelaki yang kini berusia 81 tahun itu berkisah, saat proklamasi dirinya adalah anggota paling kecil dalam Angkatan Muda Islam (AMI) pimpinan Latief.Sebelum peristiwa bersejarah itu, dia pernah menjadi petugas pengerek bendera saat bersekolah tarbiyah di Banten. Ilyas kini tinggal di tepi rel kereta api dekat pintu perlintasan di Kalibata, tak jauh dari Mal Kalibata. Ilyas tinggal di rumah itu sejak 1982. Sebelumnya, di tinggal di kompleks Siliwangi, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.Dia pun tergusur ketika pemerintah Orde Baru mendirikan Gedung Departemen Keuangan. Dari situ, lelaki yang pernah bertugas sebagai anggota pasukan Garuda 2, yaitu pasukan untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di Vietnam, Lebanon, dan Kongo, di bawah pimpinan Mayor Solichin GP itu mengontrak rumah di Jalan Pramuka, Jakarta Timur, sebelum akhirnya meminjam sebidang tanah seluas 70 m2 dari karyawan PJKA di Rawajati, Jakarta Selatan, yang sekarang ditempatinya. Kini, dia pun terancam tergusur lagi.Maklum, tanah yang ditinggalinya saat ini adalah milik PT Kereta Api Indonesia. Bahkan Ilyas dan puluhan keluarga yang menepati areal ini sudah mendapat surat peringatan untuk segera pindah. Sejak 5 tahun terakhir, Ilyas mengalami kesulitan penglihatan. Kulit di atas kelopak matanya tertutup sehingga harus ditarik dengan selotip agar bisa melihat. &amp;quot;Bapak sedang istirahat, sebentar saya beri tahu Bapak,&amp;quot; ujar istrinya saat itu.Di usia senjanya, Ilyas dipercaya menjadi Ketua Yayasan Pejuang Siliwangi (Yapsi). Hal ini menuntutnya untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga anggotanya sesama veteran. Nasib tidak menentu bukan hanya dialami Ilyas. Masih banyak veteran yang bernasib serupa, bahkan lebih parah. Ilyas setiap bulan mendapatkan tunjangan sebesar Rp1,5 juta dari pemerintah. Ilyas pensiun sebagai letnan kolonel.Berbeda dengan Ilyas, Soepranoto merupakan veteran yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Korps Cacat Veteran Republik Indonesia (KCVRI). Mungkin Soepranoto lebih beruntung karena jabatan Ketua Umum KCVRI membuatnya berhak menempati rumah dinas di Jalan Tambak 11A Jakarta Pusat.Namun sebagai Ketua Umum KCVRI dia sangat sedih ketika mengingat nasib para veteran cacat yang jumlahnya saat ini tinggal 500-an orang dan kalau ditambah dengan para janda veteran jumlahnya tidak sampai 2.000 jiwa. Tunjangan bagi para veteran yang menderita cacat akibat peperangan masih sangat minim.Menurutnya untuk cacat permanen seperti buta atau kedua kaki terpotong hanya mendapatkan Rp60.000 per bulan. Saat ini banyak organisasi veteran yang ada di Indonesia. Sebut saja Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD), Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Udara (PPAU), Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Pepabri), dan Badan Kontak Purnawirawan Angkatan Laut (BKPAL).Soepranoto beberapa kali harus mengelus dada ketika bertemu dengan veteran dari negara lain. Menurutnya para veteran dari negara lain mendapatkan perhatian pemerintah untuk hidup layak. Dia menceritakan pernah bertemu veteran asal Australia yang berkunjung ke Indonesia tahun lalu. Mereka setiap bulannya mendapatkan tunjangan yang menurutnya jika dikurskan pada saat itu senilai Rp10 juta per bulan.Menurut Soepranoto maupun Ilyas, mereka tidak berharap banyak kepada pemerintah Indonesia. Apalagi untuk mendapatkan penghargaan berlebih, toh mereka berjuang untuk negara tanpa pamrih. Yang mereka harapkan adalah kehidupan layak untuk menghabiskan hari tua mereka. Bukan kehidupan yang mewah atau apalagi sanjungan.Toh, mereka sadar bahwa bangsa ini masih menghadapi masalah yang cukup besar. Meski di tengah tekanan kebutuhan hidup yang terus menghimpit, Ilyas dan Soepranoto masih terus mengikuti perkembangan bangsa ini. Berita menjadi santapan yang tidak pernah mereka tinggalkan. Betapa miris hati mereka ketika dihadapkan pada perilaku generasi penerus yang kurang memaknai perjuangan para pahlawan.&amp;quot;Seharusnya jika mereka sadar akan pengorbanan harta dan jiwa para pejuang terdahulu, mereka tidak akan pernah berbuat korupsi,&amp;quot; kata Ilyas. Soeprapto berharap mereka yang diindikasikan terlibat korupsi itu segera digantikan oleh generasi yang lebih mempunyai idealisme.Â   </content:encoded></item></channel></rss>
