<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Arkeolog Teliti Kerusakan Situs Majapahit </title><description>Sejumlah arkeolog yang tergabung dalam tim evaluasi pembangunan Majapahit Park mulai melakukan penelitian terkait kerusakan benda bersejarah akibat pembangunan Majapahit Park di lingkungan Pusat Informasi Majapahit (PIM) Trowulan. Dalam penelitian awal itu, para arkeolog menilai ada kerusakan situs akibat proyek tersebut. </description><link>https://news.okezone.com/read/2009/01/24/1/185881/arkeolog-teliti-kerusakan-situs-majapahit</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2009/01/24/1/185881/arkeolog-teliti-kerusakan-situs-majapahit"/><item><title>Arkeolog Teliti Kerusakan Situs Majapahit </title><link>https://news.okezone.com/read/2009/01/24/1/185881/arkeolog-teliti-kerusakan-situs-majapahit</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2009/01/24/1/185881/arkeolog-teliti-kerusakan-situs-majapahit</guid><pubDate>Sabtu 24 Januari 2009 04:59 WIB</pubDate><dc:creator>Tritus Julan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2009/01/24/1/185881/OAcT0AGYUM.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Tim evaluasi pembangunan Majapahit Park mulai melakukan penelitian</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2009/01/24/1/185881/OAcT0AGYUM.jpg</image><title>Tim evaluasi pembangunan Majapahit Park mulai melakukan penelitian</title></images><description>  MOJOKERTO - Sejumlah arkeolog yang tergabung dalam tim evaluasi pembangunan Majapahit Park mulai melakukan penelitian terkait kerusakan benda bersejarah akibat pembangunan Majapahit Park di lingkungan Pusat Informasi Majapahit (PIM) Trowulan. Dalam penelitian awal itu, para arkeolog menilai ada kerusakan situs akibat proyek tersebut.   Tim yang berjumlah 10 orang tunjukan Menteri Pariwisata dan Budaya (Menparbud) Jero Wacik itu melakukan penelitian awal dengan mengamati sejumlah galian di lokasi proyek seluas 63 X 63 meter. Dipimpin ahli arkeologi Prof DR Mundardjito, tim mulai melakukan pengumpulan data terkait pembangunan proyek. Juga mencari fakta di lapangan terkait dugaan kesalahan proyek yang menyebabkan rusaknya sejumlah situs peninggalan Kerajaan Majapahit.   Dari penelitian pertama itu, tim masih belum memberikan kesimpulan. Mereka melihat adanya kesalahan proyek, termasuk penggalian yang menyebabkan rusaknya benda-benda kuno yang terpendam dalam lokasi proyek.   &amp;quot;Lihat saja, ada kesurakan di mana-mana. Kami akan teliti lebih jauh, sesuai dengan tugas yang diberikan kepada kami oleh Menparbud,&amp;quot; terang Mundardjito saat melakukan penelitian awal di lokasi proyek Jumat siang, (23/1/2009).   Dia menjelaskan, berdasarkan SK yang diterbitkan Menparbud kepada timnya, ada dua tugas besar yang diemban. Selain meneliti sejauh mana kerusakan situs, mereka juga bertugas untuk meberikan rekomendasi langkah selanjutnya. Terkait upaya rehabilitasi situs dan relokasi proyek Majapahit Park.   &amp;quot;Saat ini, kami sedang berada pada tahap awal. Yakni mengumpulkan data mulai dari awal pembangunan hingga proyek ini dihentikan, Ini diperlukan, agar langkah selanjutnya bisa ditentukan,&amp;quot; terang Arkeolog dari Universitas Indonesia (UI) ini.   Sejauh ini kata dia, pihaknya masih terus melakukan upaya pencarian data pendukung. Pasalnya, sejak tim ini ditetapkan sehari sebelumnya, tim masih belum memiliki data lengkap terkait proyek tersebut. Juga jenis kerusakan yang diakibatkan. Demikian pula dengan rencana rehabilitasi dan relokasi yang diamanatkan Menparbud.   &amp;quot;Banyak pertimbangan-pertimbangan untuk menentukan langkah penyelamatan situs dan relokasi Majapahit  Park ini. Bagaimana cara membongkar dan menentukan lokasi yang baru, kami masih uji dan teliti,&amp;quot; tukasnya.   Osrifoel Oesman, salah satu anggota tim evaluasi yang juga ahli Arsitek - Arkeologi mengatakan, dari penelitian di lokasi proyek, dia juga menilai ada kesalahan fatal dalam proses pembangunan proyek. Pengerjaan proyek dilakukan secara &amp;quot;serampangan&amp;quot; dengan mengindahkan kaidah-kaidah arkeologis.   &amp;quot;Tidak seperti yang dilakukan para arkeolog dalam melakukan penggalian. Buktinya, banyak bangunan proyek yang menerabas situs,&amp;quot; kata Osrifoel.   Dia juga menyayangkan adanya kesalahan teknis dalam pengerjaan proyek pembangunan gedung sebagai ruang pajang peninggalan benda bersejarah itu. Padahal menurut dia, sebelumnya lokasi proyek tersebut pernah dilakukan penggalian dan penelitian oleh para arkeolog.   Dan hasilnya, di lokasi tersebut memang sarat dengan benda bersejarah peninggalan Kerajaan Majapahit. &amp;quot;Rupanya, catatan-catatan para arkeolog itu tak pernah dipakai oleh kontraktor maupun pelaksana proyek ini,&amp;quot; terang pria yang pernah melakukan rekonstruksi situs pemukiman di lingkungan PIM ini.   Sementara dari hasil pengamatan di lapangan, proyek Majapahit Park ini memang telah banyak merusak situs. Bahkan tak jarang, tiang pancang dan pondasi bangunan menabrak situs-situs yang terdiri dari bangunan berupa tembok-tembok itu. Di lokasi tersebut juga ditemukan lantai-lantai rumah dan bangunan kuno yang terbuat dari batu bata. Diduga, di lokasi ini pernah menjadi pemukiman warga pada jaman kejayaan Kerajaan Mahapahit pada abab 13 lampau.  </description><content:encoded>  MOJOKERTO - Sejumlah arkeolog yang tergabung dalam tim evaluasi pembangunan Majapahit Park mulai melakukan penelitian terkait kerusakan benda bersejarah akibat pembangunan Majapahit Park di lingkungan Pusat Informasi Majapahit (PIM) Trowulan. Dalam penelitian awal itu, para arkeolog menilai ada kerusakan situs akibat proyek tersebut.   Tim yang berjumlah 10 orang tunjukan Menteri Pariwisata dan Budaya (Menparbud) Jero Wacik itu melakukan penelitian awal dengan mengamati sejumlah galian di lokasi proyek seluas 63 X 63 meter. Dipimpin ahli arkeologi Prof DR Mundardjito, tim mulai melakukan pengumpulan data terkait pembangunan proyek. Juga mencari fakta di lapangan terkait dugaan kesalahan proyek yang menyebabkan rusaknya sejumlah situs peninggalan Kerajaan Majapahit.   Dari penelitian pertama itu, tim masih belum memberikan kesimpulan. Mereka melihat adanya kesalahan proyek, termasuk penggalian yang menyebabkan rusaknya benda-benda kuno yang terpendam dalam lokasi proyek.   &amp;quot;Lihat saja, ada kesurakan di mana-mana. Kami akan teliti lebih jauh, sesuai dengan tugas yang diberikan kepada kami oleh Menparbud,&amp;quot; terang Mundardjito saat melakukan penelitian awal di lokasi proyek Jumat siang, (23/1/2009).   Dia menjelaskan, berdasarkan SK yang diterbitkan Menparbud kepada timnya, ada dua tugas besar yang diemban. Selain meneliti sejauh mana kerusakan situs, mereka juga bertugas untuk meberikan rekomendasi langkah selanjutnya. Terkait upaya rehabilitasi situs dan relokasi proyek Majapahit Park.   &amp;quot;Saat ini, kami sedang berada pada tahap awal. Yakni mengumpulkan data mulai dari awal pembangunan hingga proyek ini dihentikan, Ini diperlukan, agar langkah selanjutnya bisa ditentukan,&amp;quot; terang Arkeolog dari Universitas Indonesia (UI) ini.   Sejauh ini kata dia, pihaknya masih terus melakukan upaya pencarian data pendukung. Pasalnya, sejak tim ini ditetapkan sehari sebelumnya, tim masih belum memiliki data lengkap terkait proyek tersebut. Juga jenis kerusakan yang diakibatkan. Demikian pula dengan rencana rehabilitasi dan relokasi yang diamanatkan Menparbud.   &amp;quot;Banyak pertimbangan-pertimbangan untuk menentukan langkah penyelamatan situs dan relokasi Majapahit  Park ini. Bagaimana cara membongkar dan menentukan lokasi yang baru, kami masih uji dan teliti,&amp;quot; tukasnya.   Osrifoel Oesman, salah satu anggota tim evaluasi yang juga ahli Arsitek - Arkeologi mengatakan, dari penelitian di lokasi proyek, dia juga menilai ada kesalahan fatal dalam proses pembangunan proyek. Pengerjaan proyek dilakukan secara &amp;quot;serampangan&amp;quot; dengan mengindahkan kaidah-kaidah arkeologis.   &amp;quot;Tidak seperti yang dilakukan para arkeolog dalam melakukan penggalian. Buktinya, banyak bangunan proyek yang menerabas situs,&amp;quot; kata Osrifoel.   Dia juga menyayangkan adanya kesalahan teknis dalam pengerjaan proyek pembangunan gedung sebagai ruang pajang peninggalan benda bersejarah itu. Padahal menurut dia, sebelumnya lokasi proyek tersebut pernah dilakukan penggalian dan penelitian oleh para arkeolog.   Dan hasilnya, di lokasi tersebut memang sarat dengan benda bersejarah peninggalan Kerajaan Majapahit. &amp;quot;Rupanya, catatan-catatan para arkeolog itu tak pernah dipakai oleh kontraktor maupun pelaksana proyek ini,&amp;quot; terang pria yang pernah melakukan rekonstruksi situs pemukiman di lingkungan PIM ini.   Sementara dari hasil pengamatan di lapangan, proyek Majapahit Park ini memang telah banyak merusak situs. Bahkan tak jarang, tiang pancang dan pondasi bangunan menabrak situs-situs yang terdiri dari bangunan berupa tembok-tembok itu. Di lokasi tersebut juga ditemukan lantai-lantai rumah dan bangunan kuno yang terbuat dari batu bata. Diduga, di lokasi ini pernah menjadi pemukiman warga pada jaman kejayaan Kerajaan Mahapahit pada abab 13 lampau.  </content:encoded></item></channel></rss>
