<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Suguhi Goyang Seronok, Kiat Ferry Ujung-Kamal Bertahan</title><description>Menjelang rampungnya jembatan Suramadu, para pemilik kapal yang melayani jasa penyeberangan Ujung-Kamal semakin kreatif. Mereka berlomba-lomba untuk memberikan pelayanan dan fasilitas yang terbaik, dengan harapan agar tidak ditinggal oleh konsumen jasa penyeberangan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2009/05/04/1/216171/suguhi-goyang-seronok-kiat-ferry-ujung-kamal-bertahan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2009/05/04/1/216171/suguhi-goyang-seronok-kiat-ferry-ujung-kamal-bertahan"/><item><title>Suguhi Goyang Seronok, Kiat Ferry Ujung-Kamal Bertahan</title><link>https://news.okezone.com/read/2009/05/04/1/216171/suguhi-goyang-seronok-kiat-ferry-ujung-kamal-bertahan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2009/05/04/1/216171/suguhi-goyang-seronok-kiat-ferry-ujung-kamal-bertahan</guid><pubDate>Senin 04 Mei 2009 08:17 WIB</pubDate><dc:creator>Subairi (Koran Sindo)</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2009/05/04/1/216171/oSZNPG8Z0l.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Salah satu biduan dangdut, saat tampil di live music Kapal Dharma Ferry, beberapa waktu yang lalu. (Foto: Subairi/Koran SI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2009/05/04/1/216171/oSZNPG8Z0l.jpg</image><title>Salah satu biduan dangdut, saat tampil di live music Kapal Dharma Ferry, beberapa waktu yang lalu. (Foto: Subairi/Koran SI)</title></images><description>SURABAYA - Menjelang rampungnya jembatan Suramadu, para pemilik kapal yang melayani jasa penyeberangan Ujung-Kamal semakin kreatif. Mereka berlomba-lomba untuk memberikan pelayanan dan fasilitas yang terbaik, dengan harapan agar tidak ditinggal oleh konsumen jasa penyeberangan.&amp;quot;Selamat datang penumpang kami yang terhormat. Selamat menikmati jasa penyeberangan Ujung-Kamal bersama kami, dari PT Dharma Lautan Utama (DLU),&amp;quot; demikian terngiang suara merdu saat memasuk dan menginjakkan kaki di atas dek kapal Dharma Ferry.Suara yang berasal dari seorang perempuan, dengan nada yang melengking nan merdu itu, sudah menjadi ciri khas dari PT DLU. Sepintas, kesan yang ditangkap tidak lain untuk menyapa para penumpang kapal tujuan Kamal-Ujung, yang akan ditempuh kurang lebih 45 menit.Ternyata, pelayanan yang diberikan tidak hanya sebatas kata-kata saja. Saat menginjakkan kaki di lantai satu dan dua kapal Dharma Fery, justru pelayanan yang diberikan semakin komplet. Tata ruang yang dikemas semaksimal mungkin, dipadu dengan dinginnya Air Conditioner (AC) dan pujasera, semakin membuat penumpang betah.Rupanya, pelayanan yang disuguhkan tidak cukup sampai di situ saja. Beberapa menit setelah kapal berlabuh, muncul seorang biduan cantik melenggak-lenggok di atas panggung berukuran 3x4 meter. Sambil menyapa para penumpang, biduan tersebut langsung melantunkan sebuah lagu dangdut dipadu dengan goyang khas yang diiringi oleh alat musik electone.Itulah yang menjadi andalan khusus dari kapal Dharma Ferry, yakni dengan menyuguhkan live music, lengkap dengan goyang dangdut. Tak jarang, goyangan sang biduan yang tampil dengan busana serba minim dan ketat membuat penonton ketagihan, bahkan tidak sadar kalau kapal sudah hampir sandar.Ironisnya, suguhan goyang seronok tersebut ditampilkan di depan penumpang yang masih di bawah umur. Tanpa ada risih dan beban sedikitpun dari sang biduan. Apalagi lagu yang dibawakan, tergolong sesuai dengan selera sebagian besar penumpang kapal yang maniak dangdut. Beberapa penumpang terkadang juga duet bernyanyi dengan sang biduan, bergoyang mesra, melepas kepenatan yang dirasa saat antre masuk kapal.Penumpang yang berduet bersama biduan cantik tersebut, tak jarang memberikan uang saweran dengan nominal bervariasi, tergantung dari royalnya sang penumpang.Menurut salah satu staf pelayan kapal, suguhan tersebut sebenarnya sudah ada sejak lama. Dia mengaku sejak dirinya bekerja sampai sekarang, live music memang disuguhkan khusus bagi penumpang dan biasanya hanya siang sampai petang hari saja.&amp;quot;Itu kan bagian dari strategi untuk menghibur, sekalian membuat penumpang betah dan tidak bosan selama naik kapal,&amp;quot; ujarnya.Adanya live music plus goyang seronok tersebut, di satu sisi memang menjadi hiburan yang bisa membunuh rasa jenuh saat menikmati perjalanan di atas kapal. Akan tetapi, di sisi lain juga bisa membuat resah penumpang karena menilai lebih banyak mengumbar aurat.&amp;quot;Kalau dikatakan menghibur, saya kira ada benarnya. Tapi, kalau sudah pakaiannya ketat dan goyangannya norak, itu yang kami tidak suka,&amp;quot; ujar Mat Sawir (45), salah satu santri yang sedang menimba ilmu di salah satu Pondok Pesantren (Ponpes) Kabupaten Bangkalan.Terlepas dari itu, yang pasti semua yang disajikan oleh pemilik kapal tidak lain untuk memberikan pelayanan yang terbaik, terutama dalam menghadapi tantangan ke depan, pasca rampungnya jembatan Suramadu.</description><content:encoded>SURABAYA - Menjelang rampungnya jembatan Suramadu, para pemilik kapal yang melayani jasa penyeberangan Ujung-Kamal semakin kreatif. Mereka berlomba-lomba untuk memberikan pelayanan dan fasilitas yang terbaik, dengan harapan agar tidak ditinggal oleh konsumen jasa penyeberangan.&amp;quot;Selamat datang penumpang kami yang terhormat. Selamat menikmati jasa penyeberangan Ujung-Kamal bersama kami, dari PT Dharma Lautan Utama (DLU),&amp;quot; demikian terngiang suara merdu saat memasuk dan menginjakkan kaki di atas dek kapal Dharma Ferry.Suara yang berasal dari seorang perempuan, dengan nada yang melengking nan merdu itu, sudah menjadi ciri khas dari PT DLU. Sepintas, kesan yang ditangkap tidak lain untuk menyapa para penumpang kapal tujuan Kamal-Ujung, yang akan ditempuh kurang lebih 45 menit.Ternyata, pelayanan yang diberikan tidak hanya sebatas kata-kata saja. Saat menginjakkan kaki di lantai satu dan dua kapal Dharma Fery, justru pelayanan yang diberikan semakin komplet. Tata ruang yang dikemas semaksimal mungkin, dipadu dengan dinginnya Air Conditioner (AC) dan pujasera, semakin membuat penumpang betah.Rupanya, pelayanan yang disuguhkan tidak cukup sampai di situ saja. Beberapa menit setelah kapal berlabuh, muncul seorang biduan cantik melenggak-lenggok di atas panggung berukuran 3x4 meter. Sambil menyapa para penumpang, biduan tersebut langsung melantunkan sebuah lagu dangdut dipadu dengan goyang khas yang diiringi oleh alat musik electone.Itulah yang menjadi andalan khusus dari kapal Dharma Ferry, yakni dengan menyuguhkan live music, lengkap dengan goyang dangdut. Tak jarang, goyangan sang biduan yang tampil dengan busana serba minim dan ketat membuat penonton ketagihan, bahkan tidak sadar kalau kapal sudah hampir sandar.Ironisnya, suguhan goyang seronok tersebut ditampilkan di depan penumpang yang masih di bawah umur. Tanpa ada risih dan beban sedikitpun dari sang biduan. Apalagi lagu yang dibawakan, tergolong sesuai dengan selera sebagian besar penumpang kapal yang maniak dangdut. Beberapa penumpang terkadang juga duet bernyanyi dengan sang biduan, bergoyang mesra, melepas kepenatan yang dirasa saat antre masuk kapal.Penumpang yang berduet bersama biduan cantik tersebut, tak jarang memberikan uang saweran dengan nominal bervariasi, tergantung dari royalnya sang penumpang.Menurut salah satu staf pelayan kapal, suguhan tersebut sebenarnya sudah ada sejak lama. Dia mengaku sejak dirinya bekerja sampai sekarang, live music memang disuguhkan khusus bagi penumpang dan biasanya hanya siang sampai petang hari saja.&amp;quot;Itu kan bagian dari strategi untuk menghibur, sekalian membuat penumpang betah dan tidak bosan selama naik kapal,&amp;quot; ujarnya.Adanya live music plus goyang seronok tersebut, di satu sisi memang menjadi hiburan yang bisa membunuh rasa jenuh saat menikmati perjalanan di atas kapal. Akan tetapi, di sisi lain juga bisa membuat resah penumpang karena menilai lebih banyak mengumbar aurat.&amp;quot;Kalau dikatakan menghibur, saya kira ada benarnya. Tapi, kalau sudah pakaiannya ketat dan goyangannya norak, itu yang kami tidak suka,&amp;quot; ujar Mat Sawir (45), salah satu santri yang sedang menimba ilmu di salah satu Pondok Pesantren (Ponpes) Kabupaten Bangkalan.Terlepas dari itu, yang pasti semua yang disajikan oleh pemilik kapal tidak lain untuk memberikan pelayanan yang terbaik, terutama dalam menghadapi tantangan ke depan, pasca rampungnya jembatan Suramadu.</content:encoded></item></channel></rss>
