<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pakar Ragukan Masjid di Pecinan Dibangun Diponegoro</title><description>Masjid  Annur di kawasan Pecinan Semarang diyakini sebagian orang dibangun Pangeran Diponegoro saat melarikan diri dari kejaran Belanda. Namun sebagian meragukannya dan menganggapnya sebagai mitos. </description><link>https://news.okezone.com/read/2009/05/28/1/224660/pakar-ragukan-masjid-di-pecinan-dibangun-diponegoro</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2009/05/28/1/224660/pakar-ragukan-masjid-di-pecinan-dibangun-diponegoro"/><item><title>Pakar Ragukan Masjid di Pecinan Dibangun Diponegoro</title><link>https://news.okezone.com/read/2009/05/28/1/224660/pakar-ragukan-masjid-di-pecinan-dibangun-diponegoro</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2009/05/28/1/224660/pakar-ragukan-masjid-di-pecinan-dibangun-diponegoro</guid><pubDate>Kamis 28 Mei 2009 07:51 WIB</pubDate><dc:creator>Thomas Joko</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2009/05/31/1/224660/xkle57UICX.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2009/05/31/1/224660/xkle57UICX.jpg</image><title></title></images><description>  SEMARANG - MasjidÂ  Annur di kawasan Pecinan Semarang diyakini sebagian orang dibangun Pangeran Diponegoro saat melarikan diri dari kejaran Belanda. Namun sebagian meragukannya dan menganggapnya sebagai mitos.  Dra. Rika Widjayanti dari Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah menyatakan keraguannya bahwa Masjid Annur merupakan peninggalan Pangeran Diponegoro. Dia menjelaskan perlu dibedakan antara mitos, legenda dan fakta sejarah.  &amp;quot;Satu bangunan dapat dikategorikan sebagai peninggalan sejarah kalau ada pembuktian dari berbagai sumber sejarah. Melalui sumber-sumber tadi maka akan bisa dimunculkan fakta sejarah. Kalau hanya sekedar diyakini oleh masyarakat berdasarkan cerita turun menurun, hal itu tak menjamin kebenaran sejarah. Makanya perlu dipertanyakan lagi kebenaran Masjid Annur Menyanan Kecil merupakan peninggalan Diponegoro,&amp;quot; papar Dra. Rika Widjayanti yang merupakan pemerhati sejarah komunitas Tionghoa Semarang saat ditemui okezone, beberapa waktu lalu.  Bila membaca sejarah perang Diponegoro, dapat dikatakan sangat tidak mungkin jika pangeran tersebut melarikan diri atau singgah di Semarang. Diponegoro hanya melakukan perjuangan di sekitar Jogja dan Jawa Tengah bagian selatan sebelum dibuang ke Sulawesi.  &amp;quot;Okelah jika ternyata kemudian dilakukan kajian dari segi arkeologi sehingga dapat disimpulkan masjid itu dibangun pada tahun 1825 bersamaan masanya dengan perang Diponegoro. Cuma kan timbul pertanyaan lagi masjid itu dibangun Diponegoro atau dibangun pada masa Diponegoro. Apalagi saat itu pemerintah Hindia Belanda masih mempertahankan devide et impera yang membuat sangat sulit orang jawa seperti Diponegoro tinggal di kawasan Pecinan,&amp;quot; jelasnya.  Kemungkinan yang paling bisa diterima adalah Masjid Annur tersebut sengaja dibangun oleh orang-orang Tionghoa yang telah menganut Islam. Yang perlu diingat bahwa kebebasan menganut agama saat itu berbeda dengan masa kini.   Orang Tionghoa yang beragama Islam tidak mau terang-terangan menjalankan ibadahnya. Akhirnya mereka membangun tempat ibadah tersendiri. Dengan seperti itu artinya mereka juga tak ingin kehilangan hak-hak istimewa yang diberikan pemerintah Hindia Belanda sebagai warga negara middle class.   &amp;quot;Jika ketahuan mereka memeluk Islam bisa-bisa mereka bakal kehilangan hak istimewa dan disamakan dengan orang-orang Pribumi,&amp;quot; pungkasnya.    </description><content:encoded>  SEMARANG - MasjidÂ  Annur di kawasan Pecinan Semarang diyakini sebagian orang dibangun Pangeran Diponegoro saat melarikan diri dari kejaran Belanda. Namun sebagian meragukannya dan menganggapnya sebagai mitos.  Dra. Rika Widjayanti dari Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah menyatakan keraguannya bahwa Masjid Annur merupakan peninggalan Pangeran Diponegoro. Dia menjelaskan perlu dibedakan antara mitos, legenda dan fakta sejarah.  &amp;quot;Satu bangunan dapat dikategorikan sebagai peninggalan sejarah kalau ada pembuktian dari berbagai sumber sejarah. Melalui sumber-sumber tadi maka akan bisa dimunculkan fakta sejarah. Kalau hanya sekedar diyakini oleh masyarakat berdasarkan cerita turun menurun, hal itu tak menjamin kebenaran sejarah. Makanya perlu dipertanyakan lagi kebenaran Masjid Annur Menyanan Kecil merupakan peninggalan Diponegoro,&amp;quot; papar Dra. Rika Widjayanti yang merupakan pemerhati sejarah komunitas Tionghoa Semarang saat ditemui okezone, beberapa waktu lalu.  Bila membaca sejarah perang Diponegoro, dapat dikatakan sangat tidak mungkin jika pangeran tersebut melarikan diri atau singgah di Semarang. Diponegoro hanya melakukan perjuangan di sekitar Jogja dan Jawa Tengah bagian selatan sebelum dibuang ke Sulawesi.  &amp;quot;Okelah jika ternyata kemudian dilakukan kajian dari segi arkeologi sehingga dapat disimpulkan masjid itu dibangun pada tahun 1825 bersamaan masanya dengan perang Diponegoro. Cuma kan timbul pertanyaan lagi masjid itu dibangun Diponegoro atau dibangun pada masa Diponegoro. Apalagi saat itu pemerintah Hindia Belanda masih mempertahankan devide et impera yang membuat sangat sulit orang jawa seperti Diponegoro tinggal di kawasan Pecinan,&amp;quot; jelasnya.  Kemungkinan yang paling bisa diterima adalah Masjid Annur tersebut sengaja dibangun oleh orang-orang Tionghoa yang telah menganut Islam. Yang perlu diingat bahwa kebebasan menganut agama saat itu berbeda dengan masa kini.   Orang Tionghoa yang beragama Islam tidak mau terang-terangan menjalankan ibadahnya. Akhirnya mereka membangun tempat ibadah tersendiri. Dengan seperti itu artinya mereka juga tak ingin kehilangan hak-hak istimewa yang diberikan pemerintah Hindia Belanda sebagai warga negara middle class.   &amp;quot;Jika ketahuan mereka memeluk Islam bisa-bisa mereka bakal kehilangan hak istimewa dan disamakan dengan orang-orang Pribumi,&amp;quot; pungkasnya.    </content:encoded></item></channel></rss>
