<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Selat Makassar Tempat Favorit Buang Limbah</title><description>Meskipun kapal yang hilir mudik di Selat Makassar bisa dideteksi dan dikenali, namun administrasi pelayaran mengaku kerepotan memantau secara detail aktifitas kapal selama melintasi selat.</description><link>https://news.okezone.com/read/2009/06/12/1/228783/selat-makassar-tempat-favorit-buang-limbah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2009/06/12/1/228783/selat-makassar-tempat-favorit-buang-limbah"/><item><title>Selat Makassar Tempat Favorit Buang Limbah</title><link>https://news.okezone.com/read/2009/06/12/1/228783/selat-makassar-tempat-favorit-buang-limbah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2009/06/12/1/228783/selat-makassar-tempat-favorit-buang-limbah</guid><pubDate>Jum'at 12 Juni 2009 22:02 WIB</pubDate><dc:creator>Amir Sarifudin </dc:creator><media:content url="https://e.okezone.com/error.png" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://e.okezone.com/error.png</image><title></title></images><description>  BALIKPAPAN - Meskipun kapal yang hilir mudik di Selat Makassar bisa dideteksi dan dikenali, namun administrasi pelayaran mengaku kerepotan memantau secara detail aktifitas kapal selama melintasi selat.    Kapal yang melalui selat bukan berarti harus mampir ke pelabuhan-pelabuhan di Sulawesi maupun Kalimantan Timur untuk melakukan sejumlah kegiatan. Banyak juga yang cuma numpang lewat dan langsung menuju Australia. Sebagian kapal itu terjun sebagai transportir minyak dan gas.    Selagi dalam perjalanan bisa saja kapal mencuci tangki-tangki minyaknya sebelum tiba di negara tujuan. Minyak hasil pencucian, disebut sludge oil atau disebut warga sebagai lantung, dan harus disingkirkan. Lantaran keterbatasan tempat pembuangan maka lantung bisa saja terpaksa dibuang ke Selat Makassar yang tidak ketat pejagaannya.    Lantung lantas terkatung-katung dibawa air laut hingga bisa saja terdampar ke kawasan Balikpapan dan Kaltim. Dugaan ini diungkapkan Kepala Bidang Penjagaan dan Keselamatan, Kantor Administrasi Pelayaran (Adpel) Balikpapan, Kapten Gajah Rooseno, Jumat (12/6/2009).     Gajah mengungkap komentarnya atas temuan lantung di Pantai Balikpapan pada Minggu 7 Juni lalu. &amp;quot;Jadi setelah empat hari dari hari pembuangan itu, bisa jadi lantung terdampar kemari,&amp;quot; kata Gajah.    Semua berawal dari sulitnya pengawasan pada seluruh aktivitas di Selat Makassar. Aktifitas seramai Selat Makassar, seharusnya tidak cuma mengandalkan armada yang ada tetapi juga di-back up satelit pengawasan. Selat Makassar bukan hanya pintu keluar masuk kapal, tapi juga kawasan penambangan minyak dan gas yang sangat populer.    Dengan bantuan satelit maka seluruh aktivitas di selat itu bisa terekam, termasuk pendeteksi dini pencemaran limbah. &amp;quot;Sulit tanpa satelit. Kondisi geografis kita jadi merepotkan kita sendiri,&amp;quot; kata Gajah.    Kejadian terdamparnya lantung di Pantai Balikpapan sudah berlangsung hampir satu pekan. Saat itu genangan menyelimuti 1,5 Kilometer pasir di bibir pantai dan menggenangi air laut sejauh tujuh kilometer. Badan Lingkungan Hidup Balikpapan, BPMigas, Pertamina dan Chevron, terjun membersihkan polutan lantas menyelidiki pelaku. Gajah mengatakan, tanpa rekaman satelit dirinya pesimis akhir penyelidikan.    </description><content:encoded>  BALIKPAPAN - Meskipun kapal yang hilir mudik di Selat Makassar bisa dideteksi dan dikenali, namun administrasi pelayaran mengaku kerepotan memantau secara detail aktifitas kapal selama melintasi selat.    Kapal yang melalui selat bukan berarti harus mampir ke pelabuhan-pelabuhan di Sulawesi maupun Kalimantan Timur untuk melakukan sejumlah kegiatan. Banyak juga yang cuma numpang lewat dan langsung menuju Australia. Sebagian kapal itu terjun sebagai transportir minyak dan gas.    Selagi dalam perjalanan bisa saja kapal mencuci tangki-tangki minyaknya sebelum tiba di negara tujuan. Minyak hasil pencucian, disebut sludge oil atau disebut warga sebagai lantung, dan harus disingkirkan. Lantaran keterbatasan tempat pembuangan maka lantung bisa saja terpaksa dibuang ke Selat Makassar yang tidak ketat pejagaannya.    Lantung lantas terkatung-katung dibawa air laut hingga bisa saja terdampar ke kawasan Balikpapan dan Kaltim. Dugaan ini diungkapkan Kepala Bidang Penjagaan dan Keselamatan, Kantor Administrasi Pelayaran (Adpel) Balikpapan, Kapten Gajah Rooseno, Jumat (12/6/2009).     Gajah mengungkap komentarnya atas temuan lantung di Pantai Balikpapan pada Minggu 7 Juni lalu. &amp;quot;Jadi setelah empat hari dari hari pembuangan itu, bisa jadi lantung terdampar kemari,&amp;quot; kata Gajah.    Semua berawal dari sulitnya pengawasan pada seluruh aktivitas di Selat Makassar. Aktifitas seramai Selat Makassar, seharusnya tidak cuma mengandalkan armada yang ada tetapi juga di-back up satelit pengawasan. Selat Makassar bukan hanya pintu keluar masuk kapal, tapi juga kawasan penambangan minyak dan gas yang sangat populer.    Dengan bantuan satelit maka seluruh aktivitas di selat itu bisa terekam, termasuk pendeteksi dini pencemaran limbah. &amp;quot;Sulit tanpa satelit. Kondisi geografis kita jadi merepotkan kita sendiri,&amp;quot; kata Gajah.    Kejadian terdamparnya lantung di Pantai Balikpapan sudah berlangsung hampir satu pekan. Saat itu genangan menyelimuti 1,5 Kilometer pasir di bibir pantai dan menggenangi air laut sejauh tujuh kilometer. Badan Lingkungan Hidup Balikpapan, BPMigas, Pertamina dan Chevron, terjun membersihkan polutan lantas menyelidiki pelaku. Gajah mengatakan, tanpa rekaman satelit dirinya pesimis akhir penyelidikan.    </content:encoded></item></channel></rss>
