<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sekolah Ambruk, Siswa Belajar di Balai Desa</title><description>Atap sekolah SDN Caruban di Kecamatan Kanor, Bojonegoro, Jawa Timur, ambruk. Diduga penyebabnya adalah usia bangunan yang sudah tua, sehingga kayu atap lapuk dan keropos. Akibatnya proses kegiatan belajar mengajar (KBM) dipindah ke balai desa setempat.</description><link>https://news.okezone.com/read/2009/07/10/1/237697/sekolah-ambruk-siswa-belajar-di-balai-desa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2009/07/10/1/237697/sekolah-ambruk-siswa-belajar-di-balai-desa"/><item><title>Sekolah Ambruk, Siswa Belajar di Balai Desa</title><link>https://news.okezone.com/read/2009/07/10/1/237697/sekolah-ambruk-siswa-belajar-di-balai-desa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2009/07/10/1/237697/sekolah-ambruk-siswa-belajar-di-balai-desa</guid><pubDate>Jum'at 10 Juli 2009 18:38 WIB</pubDate><dc:creator>Nanang Fahrudin</dc:creator><media:content url="https://e.okezone.com/error.png" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://e.okezone.com/error.png</image><title></title></images><description>BOJONEGORO - Atap sekolah SDN Caruban di Kecamatan Kanor, Bojonegoro, Jawa Timur, ambruk. Diduga penyebabnya adalah usia bangunan yang sudah tua, sehingga kayu atap lapuk dan keropos. Akibatnya proses kegiatan belajar mengajar (KBM) dipindah ke balai desa setempat.Gedung sekolah yang dibangun sejak tahun 1984 itu sebenarnya sudah dalam kondisi mengkhawatirkan dalam setahun terakhir. Atap yang keropos disangga dengan bambu agar tidak roboh. Tapi, lantaran beban yang disangga terlalu berat, akhirnya atap tersebut ambruk.Beruntung, saat kejadian, siswa tengah menikmati liburan sekolah, sehingga tidak ada siswa maupun guru yang berada di dalam sekolah. Menurut Kepala Sekolah SDN Caruban, Sutrisno, atap sekolah tersebut ambruk pada Rabu, 8 Juli lalu sekira pukul 16.00 WIB. Empat kelas di gedung itu mengalami kerusakan sudah sejak lama. Hanya pihak sekolah belum bisa melakukan rehabilitasi, karena tidak adanya dana. Hingga akhirnya, atap salah satu ruang kelas ambruk. &amp;quot;Awalnya memang sudah diberi penyangga bambu dan siswa belajar di bawahnya,&amp;quot; kata Sutrisno di Bojonegoro, Jumat (10/7/2009).Lantaran kondisinya tidak memungkinkan lagi, disepakati kelas II dengan jumlah siswa 26 anak diungsikan karena takut roboh saat siswa belajar. Tiga kelas lainnya juga dikosongkan, yakni kelas 5 dengan jumlah siswa 21 anak, kelas 6 dengan 17 orang serta kelas 4 dengan jumlah siswa 13 orang. &amp;quot;Ruang kelas 4 itu pun sebelumnya ruang guru,&amp;quot; terang Sutrisno.Melihat atap sekolah ambruk, guru dibantu warga bergotong-royong membersihkan puing-puing. Genteng yang masih berada di atas ikut diturunkan karena khawatir jatuh mengenai siswa saat masuk sekolah Senin depan. Pihak sekolah sendiri sudah merencanakan memindahkan KBM di balai desa setempat yang berjarak hampir 1 km dari lokasi SDN sebelumnya. &amp;quot;Awalnya sempat ada ide memindahkan sekolah ke rumah warga,&amp;quot; terangnya.Tapi setelah ada beberapa pertimbangan dari Muspika Kecamatan Kanor, maka diputuskan siswa akan menempati ruangan seadanya di balai desa setempat. Sedang, dua kelas lainnya yakni kelas I dan V masih berada di lokasi SDN yang lama, lantaran gedung sekolahnya tidak ambruk dan masih berdiri kokoh. &amp;quot;Prinsip kami, di mana saja, asal siswa tidak ketinggalan belajar,&amp;quot; tutur Sutrisno.Pihak sekolah, lanjut dia, belum bisa memastikan kapan gedung SDN tersebut akan dibangun. Karena, saat ini pihaknya baru melaporkan kejadian itu ke Dinas Pendidikan Daerah (Disdikda). Dia berharap, gedung segera dibangun agar proses KBM bisa lancar seperti semula.  </description><content:encoded>BOJONEGORO - Atap sekolah SDN Caruban di Kecamatan Kanor, Bojonegoro, Jawa Timur, ambruk. Diduga penyebabnya adalah usia bangunan yang sudah tua, sehingga kayu atap lapuk dan keropos. Akibatnya proses kegiatan belajar mengajar (KBM) dipindah ke balai desa setempat.Gedung sekolah yang dibangun sejak tahun 1984 itu sebenarnya sudah dalam kondisi mengkhawatirkan dalam setahun terakhir. Atap yang keropos disangga dengan bambu agar tidak roboh. Tapi, lantaran beban yang disangga terlalu berat, akhirnya atap tersebut ambruk.Beruntung, saat kejadian, siswa tengah menikmati liburan sekolah, sehingga tidak ada siswa maupun guru yang berada di dalam sekolah. Menurut Kepala Sekolah SDN Caruban, Sutrisno, atap sekolah tersebut ambruk pada Rabu, 8 Juli lalu sekira pukul 16.00 WIB. Empat kelas di gedung itu mengalami kerusakan sudah sejak lama. Hanya pihak sekolah belum bisa melakukan rehabilitasi, karena tidak adanya dana. Hingga akhirnya, atap salah satu ruang kelas ambruk. &amp;quot;Awalnya memang sudah diberi penyangga bambu dan siswa belajar di bawahnya,&amp;quot; kata Sutrisno di Bojonegoro, Jumat (10/7/2009).Lantaran kondisinya tidak memungkinkan lagi, disepakati kelas II dengan jumlah siswa 26 anak diungsikan karena takut roboh saat siswa belajar. Tiga kelas lainnya juga dikosongkan, yakni kelas 5 dengan jumlah siswa 21 anak, kelas 6 dengan 17 orang serta kelas 4 dengan jumlah siswa 13 orang. &amp;quot;Ruang kelas 4 itu pun sebelumnya ruang guru,&amp;quot; terang Sutrisno.Melihat atap sekolah ambruk, guru dibantu warga bergotong-royong membersihkan puing-puing. Genteng yang masih berada di atas ikut diturunkan karena khawatir jatuh mengenai siswa saat masuk sekolah Senin depan. Pihak sekolah sendiri sudah merencanakan memindahkan KBM di balai desa setempat yang berjarak hampir 1 km dari lokasi SDN sebelumnya. &amp;quot;Awalnya sempat ada ide memindahkan sekolah ke rumah warga,&amp;quot; terangnya.Tapi setelah ada beberapa pertimbangan dari Muspika Kecamatan Kanor, maka diputuskan siswa akan menempati ruangan seadanya di balai desa setempat. Sedang, dua kelas lainnya yakni kelas I dan V masih berada di lokasi SDN yang lama, lantaran gedung sekolahnya tidak ambruk dan masih berdiri kokoh. &amp;quot;Prinsip kami, di mana saja, asal siswa tidak ketinggalan belajar,&amp;quot; tutur Sutrisno.Pihak sekolah, lanjut dia, belum bisa memastikan kapan gedung SDN tersebut akan dibangun. Karena, saat ini pihaknya baru melaporkan kejadian itu ke Dinas Pendidikan Daerah (Disdikda). Dia berharap, gedung segera dibangun agar proses KBM bisa lancar seperti semula.  </content:encoded></item></channel></rss>
