<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Wabah Diare Tewaskan Dua Balita NTT</title><description>Dua balita di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), dilaporkan tewas setelah wabah diare menyerang daerah itu beberapa hari terakhir. Kedua korban tewas yakni Ongki Tefa (10 bulan) dan Junedi Kase (1). </description><link>https://news.okezone.com/read/2009/07/28/1/242677/wabah-diare-tewaskan-dua-balita-ntt</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2009/07/28/1/242677/wabah-diare-tewaskan-dua-balita-ntt"/><item><title>Wabah Diare Tewaskan Dua Balita NTT</title><link>https://news.okezone.com/read/2009/07/28/1/242677/wabah-diare-tewaskan-dua-balita-ntt</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2009/07/28/1/242677/wabah-diare-tewaskan-dua-balita-ntt</guid><pubDate>Selasa 28 Juli 2009 12:53 WIB</pubDate><dc:creator>Rahmat J</dc:creator><media:content url="https://e.okezone.com/error.png" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://e.okezone.com/error.png</image><title></title></images><description>  KUPANG - Dua balita di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), dilaporkan tewas setelah wabah diare menyerang daerah itu beberapa hari terakhir. Kedua korban tewas yakni Ongki Tefa (10 bulan) dan Junedi Kase (1).   Direktur RSUD Soe, Musa Salurante, yang dihubungi Selasa (28/7/2009) mengatakan, kedua balita meninggal dunia di rumah sakit setelah sempat menjalani perawatan medis selama beberapa hari.  &amp;quot;Keduanya meninggal di rumah sakit. Saat dirawat kondisi fisik korban sudah kritis karena mengalami dehidrasi. Tim medis sudah bekerja maksimal untuk menyelamatkan nyawa kedua balita, tetapi tidak tertolong,&amp;quot; kata Salurante.   Menurutnya, wabah diare biasanya menyerang wilayah itu pada saat pergantian musim hujan ke musim kemarau atau sebaliknya. &amp;quot;Ada juga kebiasan lain, dimana warga lebih senang mengkonsumsi air mentah. Faktor lain, akibat kurangnya sanitasi lingkungan yang bersih,&amp;quot; lanjutnya.  Meski belum berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB), namun menurut Salurante, pihaknya selalu siaga termasuk mempersiapkan obat-obatan dan fasilitas lainnya apabila wabah terus meluas. &amp;quot;Selain dua korban tewas, sedikitnya 16 balita masih menjalani perawatan intensif. Diharapkan, setelah mendapat pertolongan medis, kondisi mereka akan jauh lebih baik,&amp;quot; ujarnya.  Wabah diare juga menyarang ratusan balita dan anak-anak di Kabupaten Belu dan Timor Tengah Utara dalam dua pekan terakhir. Direktur RS Sito Husodo, Edi Usboko mengatakan, sedikitnya 30 penderita diare, masih menjelani peratawan medis, sementara lebih dari 40 lainnya rawat jalan.   &amp;quot;Kasus diare, mulai meningkat kembali akhir Juli ini setelah sebelumnya sempat menurun. Saat ini, hampir setiap hari, ada penambahan kasus diare,&amp;quot; katanya.   Sementara di Kabupaten Timor Tengah Utara, jumlah pasien diare yang menjalani peratawan medis di rumah sakit dan sejumlah Puskesmas terus bertambah. Pemerintah setempat telah mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk memperhatikan pola hidup, dan membiasakan mengkonsumsi air bersih.     </description><content:encoded>  KUPANG - Dua balita di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), dilaporkan tewas setelah wabah diare menyerang daerah itu beberapa hari terakhir. Kedua korban tewas yakni Ongki Tefa (10 bulan) dan Junedi Kase (1).   Direktur RSUD Soe, Musa Salurante, yang dihubungi Selasa (28/7/2009) mengatakan, kedua balita meninggal dunia di rumah sakit setelah sempat menjalani perawatan medis selama beberapa hari.  &amp;quot;Keduanya meninggal di rumah sakit. Saat dirawat kondisi fisik korban sudah kritis karena mengalami dehidrasi. Tim medis sudah bekerja maksimal untuk menyelamatkan nyawa kedua balita, tetapi tidak tertolong,&amp;quot; kata Salurante.   Menurutnya, wabah diare biasanya menyerang wilayah itu pada saat pergantian musim hujan ke musim kemarau atau sebaliknya. &amp;quot;Ada juga kebiasan lain, dimana warga lebih senang mengkonsumsi air mentah. Faktor lain, akibat kurangnya sanitasi lingkungan yang bersih,&amp;quot; lanjutnya.  Meski belum berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB), namun menurut Salurante, pihaknya selalu siaga termasuk mempersiapkan obat-obatan dan fasilitas lainnya apabila wabah terus meluas. &amp;quot;Selain dua korban tewas, sedikitnya 16 balita masih menjalani perawatan intensif. Diharapkan, setelah mendapat pertolongan medis, kondisi mereka akan jauh lebih baik,&amp;quot; ujarnya.  Wabah diare juga menyarang ratusan balita dan anak-anak di Kabupaten Belu dan Timor Tengah Utara dalam dua pekan terakhir. Direktur RS Sito Husodo, Edi Usboko mengatakan, sedikitnya 30 penderita diare, masih menjelani peratawan medis, sementara lebih dari 40 lainnya rawat jalan.   &amp;quot;Kasus diare, mulai meningkat kembali akhir Juli ini setelah sebelumnya sempat menurun. Saat ini, hampir setiap hari, ada penambahan kasus diare,&amp;quot; katanya.   Sementara di Kabupaten Timor Tengah Utara, jumlah pasien diare yang menjalani peratawan medis di rumah sakit dan sejumlah Puskesmas terus bertambah. Pemerintah setempat telah mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk memperhatikan pola hidup, dan membiasakan mengkonsumsi air bersih.     </content:encoded></item></channel></rss>
