<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Fitriyanti, 3 Kali Puasa &amp; Lebaran Tak Pulang (1)</title><description>Foto Fitriyanti tergantung di ruang tamu rumah orang tuanya, Gang Desa RT 03/02 Nomor 19 Kiara Condong, Bandung. Di samping kiri kanannya, terdapat foto sang ayah, Yana (49), bersama teman-teman kerjanya di Perum Damri Bandung.</description><link>https://news.okezone.com/read/2009/09/11/1/256590/fitriyanti-3-kali-puasa-lebaran-tak-pulang-1</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2009/09/11/1/256590/fitriyanti-3-kali-puasa-lebaran-tak-pulang-1"/><item><title>Fitriyanti, 3 Kali Puasa &amp; Lebaran Tak Pulang (1)</title><link>https://news.okezone.com/read/2009/09/11/1/256590/fitriyanti-3-kali-puasa-lebaran-tak-pulang-1</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2009/09/11/1/256590/fitriyanti-3-kali-puasa-lebaran-tak-pulang-1</guid><pubDate>Jum'at 11 September 2009 11:39 WIB</pubDate><dc:creator>Reni Susanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2009/09/11/1/256590/fyk2aUXzdE.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Repro: okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2009/09/11/1/256590/fyk2aUXzdE.jpg</image><title>Repro: okezone</title></images><description>BANDUNG - Foto Fitriyanti tergantung di ruang tamu rumah orang tuanya, Gang Desa RT 03/02 Nomor 19 Kiara Condong, Bandung. Di samping kiri kanannya, terdapat foto sang ayah, Yana (49), bersama teman-teman kerjanya di Perum Damri Bandung.  &amp;quot;Ini foto anak saya yang hilang,&amp;quot; ujar sang ibu, Eni (48), sambil menunjuk foto Fitrianti. Eni mencoba tersenyum. Namun suaranya terdengar bergetar tatkala memandang foto Fitriyanti yang tengah mengenakan toga. Beberapa kali ia terlihat menarik nafas, sebelum akhirnya dia menceritakan Fitrianti.  Fitri (nama panggilan Fitrianti) dinyatakan hilang dari rumahnya pada 6 September 2007. Akhir Agustus 2007, Eni masih bisa melihat anak kesayangannya mengepak pakaian.Â  Rencananya, Fitri akan mengikuti pesantren kilat selama satu minggu di salah satuÂ  pesantren di Dago Bandung. Saat itu, Eni tak punya firasat apapun. Dia mengizinkan anaknya pergi bahkan mengantarkannya hingga ke depan pintu.  Seminggu setelah waktu yang dijanjikan, Fitri tak kunjung pulang. Eni dan suaminya mulai resah. Terlebih ketika ia tidak berhasil mengontak anaknya. Telepon genggam Fitri sempat diangkat, tapi bukan oleh Fitri. &amp;quot;Orang itu bilang Fitri tidak ada dan menutup teleponnya. Setelah itu kami tak bisa mengontak dia sampai sekarang,&amp;quot; ujar Eni mengingat masa lalunya.   Eni syok. Begitupun dengan suami dan dua orang anak lelakinya, Handi Binyati (23) dan Aziz Saefullah (13). Kehidupan mereka berubah seketika. Eni mulai sulit makan dan tidur. Berat badannya turun lima kilogram. Yana pun demikian. Bersama istrinya ia mendatangi satu per satu teman Eni, termasuk orang yang diduga teman mengajinya.  Setiap hari, pasangan suami istri ini mencari. Bahkan, mereka susuri setiap pesantren di Dago. Namun kabar tentang pesantren kilat dan Fitri tak didengarnya dari satu pesantrenpun. &amp;quot;Kami juga melapor ke polisi dan Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI) karena Fitri diduga terpengaruh aliran tertentu,&amp;quot; katanya menjelaskan.  Eni menjelaskan, sebelum hilang, Fitri rajin mengikuti pengajian. Namun setelah ikut pengajian di Dago, lulusan Sekolah Pendidikan Guru Taman Kanak-kanak (SPGTK) Antapani ini menjadi pendiam. Eni sempat bingung. Dia bertanya pada anak perempuan satu-satunya itu, namun Fitri selalu menjawab tidak apa-apa.   Selama sepekan Eni dan Yana tidak beristirahat. Mereka terus mencari, hingga anak bungsunya masuk ICU akibat infeksi usus yang dideritanya. &amp;quot;Saya semakin terpuruk saat itu begitupun suami saya, selama satu bulan dia tidak bekerja,&amp;quot; tutur Eni sambil menunjukkan foto suaminya yang kini bekerja sebagai sopir bus Damri.  Berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun, keluarga tidak mendapat kabar soal Fitri. Polisi maupun FUUI meminta keluarga untuk bersabar. Namun Eni yakin anaknya masih hidup. Selama penantian itu, keluarga hanya bisa pasrah dan berdoa agar anaknya baik-baik saja.  &amp;quot;Setiap malam saya tahajud, memohon kepada Allah sambil menangis agar anak saya sehat tidak kurang suatu apapun,&amp;quot; cetus dia. Seusai salat, biasanya Fitri datang dalam mimpinya. Dan saat-saat itu adalah hal yang membahagiakan dalam hidupnya.   Walau mencoba untuk pasrah, rasa penasaran tetap menyergapnya. Akhirnya beberapa kali ia datang ke orang pintar. Orang itu meminta keluarga untuk bersabar. Dia juga bilang Fitri sudah bekerja di daerah Jakarta dan sebenarnya ingin pulang. Hanya saja, selama belum sukses dia tak akan pulang.   &amp;quot;Dia bilang, suatu hari nanti Fitri pasti akan pulang,&amp;quot; tutur Eni. Percaya tak percaya dengan ucapan si orang pintar, kabar itu sangat menggembirakan hatinya. Kini, dia hanya menunggu anaknya pulang. Dan tetap memiliki keyakinan bahwa anaknya akan kembali pulang. &amp;quot;Hanya menunggu waktu,&amp;quot; cetus dia.  </description><content:encoded>BANDUNG - Foto Fitriyanti tergantung di ruang tamu rumah orang tuanya, Gang Desa RT 03/02 Nomor 19 Kiara Condong, Bandung. Di samping kiri kanannya, terdapat foto sang ayah, Yana (49), bersama teman-teman kerjanya di Perum Damri Bandung.  &amp;quot;Ini foto anak saya yang hilang,&amp;quot; ujar sang ibu, Eni (48), sambil menunjuk foto Fitrianti. Eni mencoba tersenyum. Namun suaranya terdengar bergetar tatkala memandang foto Fitriyanti yang tengah mengenakan toga. Beberapa kali ia terlihat menarik nafas, sebelum akhirnya dia menceritakan Fitrianti.  Fitri (nama panggilan Fitrianti) dinyatakan hilang dari rumahnya pada 6 September 2007. Akhir Agustus 2007, Eni masih bisa melihat anak kesayangannya mengepak pakaian.Â  Rencananya, Fitri akan mengikuti pesantren kilat selama satu minggu di salah satuÂ  pesantren di Dago Bandung. Saat itu, Eni tak punya firasat apapun. Dia mengizinkan anaknya pergi bahkan mengantarkannya hingga ke depan pintu.  Seminggu setelah waktu yang dijanjikan, Fitri tak kunjung pulang. Eni dan suaminya mulai resah. Terlebih ketika ia tidak berhasil mengontak anaknya. Telepon genggam Fitri sempat diangkat, tapi bukan oleh Fitri. &amp;quot;Orang itu bilang Fitri tidak ada dan menutup teleponnya. Setelah itu kami tak bisa mengontak dia sampai sekarang,&amp;quot; ujar Eni mengingat masa lalunya.   Eni syok. Begitupun dengan suami dan dua orang anak lelakinya, Handi Binyati (23) dan Aziz Saefullah (13). Kehidupan mereka berubah seketika. Eni mulai sulit makan dan tidur. Berat badannya turun lima kilogram. Yana pun demikian. Bersama istrinya ia mendatangi satu per satu teman Eni, termasuk orang yang diduga teman mengajinya.  Setiap hari, pasangan suami istri ini mencari. Bahkan, mereka susuri setiap pesantren di Dago. Namun kabar tentang pesantren kilat dan Fitri tak didengarnya dari satu pesantrenpun. &amp;quot;Kami juga melapor ke polisi dan Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI) karena Fitri diduga terpengaruh aliran tertentu,&amp;quot; katanya menjelaskan.  Eni menjelaskan, sebelum hilang, Fitri rajin mengikuti pengajian. Namun setelah ikut pengajian di Dago, lulusan Sekolah Pendidikan Guru Taman Kanak-kanak (SPGTK) Antapani ini menjadi pendiam. Eni sempat bingung. Dia bertanya pada anak perempuan satu-satunya itu, namun Fitri selalu menjawab tidak apa-apa.   Selama sepekan Eni dan Yana tidak beristirahat. Mereka terus mencari, hingga anak bungsunya masuk ICU akibat infeksi usus yang dideritanya. &amp;quot;Saya semakin terpuruk saat itu begitupun suami saya, selama satu bulan dia tidak bekerja,&amp;quot; tutur Eni sambil menunjukkan foto suaminya yang kini bekerja sebagai sopir bus Damri.  Berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun, keluarga tidak mendapat kabar soal Fitri. Polisi maupun FUUI meminta keluarga untuk bersabar. Namun Eni yakin anaknya masih hidup. Selama penantian itu, keluarga hanya bisa pasrah dan berdoa agar anaknya baik-baik saja.  &amp;quot;Setiap malam saya tahajud, memohon kepada Allah sambil menangis agar anak saya sehat tidak kurang suatu apapun,&amp;quot; cetus dia. Seusai salat, biasanya Fitri datang dalam mimpinya. Dan saat-saat itu adalah hal yang membahagiakan dalam hidupnya.   Walau mencoba untuk pasrah, rasa penasaran tetap menyergapnya. Akhirnya beberapa kali ia datang ke orang pintar. Orang itu meminta keluarga untuk bersabar. Dia juga bilang Fitri sudah bekerja di daerah Jakarta dan sebenarnya ingin pulang. Hanya saja, selama belum sukses dia tak akan pulang.   &amp;quot;Dia bilang, suatu hari nanti Fitri pasti akan pulang,&amp;quot; tutur Eni. Percaya tak percaya dengan ucapan si orang pintar, kabar itu sangat menggembirakan hatinya. Kini, dia hanya menunggu anaknya pulang. Dan tetap memiliki keyakinan bahwa anaknya akan kembali pulang. &amp;quot;Hanya menunggu waktu,&amp;quot; cetus dia.  </content:encoded></item></channel></rss>
