<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gerindra: Pansus Wajib Bongkar Skandal Century</title><description>Gerindra meminta pansus bekerja optimal menyelidiki skandal dana talangan Rp6,7 triliun itu.</description><link>https://news.okezone.com/read/2009/12/06/339/282127/gerindra-pansus-wajib-bongkar-skandal-century</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2009/12/06/339/282127/gerindra-pansus-wajib-bongkar-skandal-century"/><item><title>Gerindra: Pansus Wajib Bongkar Skandal Century</title><link>https://news.okezone.com/read/2009/12/06/339/282127/gerindra-pansus-wajib-bongkar-skandal-century</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2009/12/06/339/282127/gerindra-pansus-wajib-bongkar-skandal-century</guid><pubDate>Minggu 06 Desember 2009 09:00 WIB</pubDate><dc:creator>Ajat M Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2009/12/06/339/282127/6KcM3jSGug.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2009/12/06/339/282127/6KcM3jSGug.jpg</image><title></title></images><description>JAKARTA - Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) tidak mempersoalkan terpilihnya Idrus Marham sebagai Ketua Pansus Angket Bank Century. Namun, Gerindra meminta pansus bekerja optimal menyelidiki skandal dana talangan Rp6,7 triliun itu.&amp;quot;Ini suatu proses politik, yang terpenting adalah bagaimana pansus ini dapat membongkar kebenaran,&amp;quot; ujar Wakil Ketua Umum Gerindra, Fadli Zon saat dihubungi okezone melalui telepon, Minggu, (5/12/2009).Fadli menambahkan, hasil laporan audit investigasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) bisa dijadikan sebagai bukti awal adanya penyelewengan kebijakan pemerintah atas kucuran dana talangan Bank Century. &amp;quot;Seharusnya Pansus ini mengawal, kan sudah ada laporan BPK karena ini bukti awal,&amp;quot; ungkapnya.Sementara, Maruarar Sirait anggota pansus dari PDI Perjuangan, saat dihubungi terpisah berpendapat sama. Baginya, posisi ketua pansus Century tak lagi jadi persoalan. &amp;quot;Yang terpenting sekarang adalah bagaimana masyarakat dapat mengawal proses ini dengan baik, sehingga nantinya tidak terjadi penyimpangan,&amp;quot; pungkasnya. Seperti diketahui, hasil audit investigasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan, kucuran penyertaan modal sementara dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ke PT Bank Century semestinya bukan sebanyak Rp 6,76 triliun, melainkan hanya Rp 5,72 triliun. (frd)  </description><content:encoded>JAKARTA - Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) tidak mempersoalkan terpilihnya Idrus Marham sebagai Ketua Pansus Angket Bank Century. Namun, Gerindra meminta pansus bekerja optimal menyelidiki skandal dana talangan Rp6,7 triliun itu.&amp;quot;Ini suatu proses politik, yang terpenting adalah bagaimana pansus ini dapat membongkar kebenaran,&amp;quot; ujar Wakil Ketua Umum Gerindra, Fadli Zon saat dihubungi okezone melalui telepon, Minggu, (5/12/2009).Fadli menambahkan, hasil laporan audit investigasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) bisa dijadikan sebagai bukti awal adanya penyelewengan kebijakan pemerintah atas kucuran dana talangan Bank Century. &amp;quot;Seharusnya Pansus ini mengawal, kan sudah ada laporan BPK karena ini bukti awal,&amp;quot; ungkapnya.Sementara, Maruarar Sirait anggota pansus dari PDI Perjuangan, saat dihubungi terpisah berpendapat sama. Baginya, posisi ketua pansus Century tak lagi jadi persoalan. &amp;quot;Yang terpenting sekarang adalah bagaimana masyarakat dapat mengawal proses ini dengan baik, sehingga nantinya tidak terjadi penyimpangan,&amp;quot; pungkasnya. Seperti diketahui, hasil audit investigasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan, kucuran penyertaan modal sementara dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ke PT Bank Century semestinya bukan sebanyak Rp 6,76 triliun, melainkan hanya Rp 5,72 triliun. (frd)  </content:encoded></item></channel></rss>
