<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ungker, Harta Karun Blora di Pergantian Musim</title><description>Setiap tahun pada masa peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan, warga di sekitar hutan jati di Kabupaten Blora, Jawa Tengah mendapatkan berkah penghasilan dari mencari ungker. </description><link>https://news.okezone.com/read/2009/12/06/340/282157/ungker-harta-karun-blora-di-pergantian-musim</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2009/12/06/340/282157/ungker-harta-karun-blora-di-pergantian-musim"/><item><title>Ungker, Harta Karun Blora di Pergantian Musim</title><link>https://news.okezone.com/read/2009/12/06/340/282157/ungker-harta-karun-blora-di-pergantian-musim</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2009/12/06/340/282157/ungker-harta-karun-blora-di-pergantian-musim</guid><pubDate>Minggu 06 Desember 2009 10:14 WIB</pubDate><dc:creator>Ranin Agung</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2009/12/06/340/282157/UUT30IHNU1.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Ranin Agung (Global TV)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2009/12/06/340/282157/UUT30IHNU1.jpg</image><title>Foto: Ranin Agung (Global TV)</title></images><description>BLORA - Setiap tahun pada masa peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan, warga di sekitar hutan jati di Kabupaten Blora, Jawa Tengah mendapatkan berkah penghasilan dari mencari ungker.   Mereka biasa mencari ungker atau kepompong dari ulat daun jati pada pagi dan sore hari, kemudian menjualnya di tepi jalan sepanjang hutan. Kondisi geografis Blora yang bertanah kapur, membuat tanaman jati tumbuh subur di area tersebut.  Ketika daun jati bersemi, banyak ulat yang memakan habis daun-daunnya. Namun, warga sekitar hutan justru mensyukuri hama ini karena dapat dijadikan mata pencaharian mereka dengan cara mencari ungker serta menjualnya sebagai penghasilan tambahan.  Ungker atau kepompong ulat ini berwarna coklat muda sampai hitam, bagai harta karun bagi warga. Seperti yang dilakukan Purwati. Dengan mengendong anaknya yang berumur tiga tahun, dengan sabar dia membalik daun jati atau batu di hutan jati yang terletak di area KPH Randublatung.  Setelah menemukan ungker dari balutan tanah yang melindunginya, Purwati tanpa ragu langsung membersihkannya kemudian dia kumpulkan ke sebuah plastik yang telah disediakan sebelumnya.  Dalam sehari selama kurang lebih satu bulan yang akan datang, Purwati bisa mendapatkan uang antara Rp20 sampai Rp25 ribu dari penjualan ungker. Jika nasib sedang baik, Purwati mendapat lebih. Penghasilan tersebut dia gunakan untuk membeli beras.  Ungker hidup biasa dijual dengan harga Rp5.000 hingga Rp7.500 per gelas. Untuk ukuran 1-2 sentimeter harga ungker bisa mencapai Rp20-30 ribu per kilo.  Banyak konsumen yang membeli di jalan Blora arah ke Randublatung. Namun banyak juga pembeli yang membeli langsung ke pencari ungker yang masih mencari di tengah hutan, seperti yang dilakukan Tiwi. Dia sering mengonsumsi ungker karena banyak mengandung protein, selain itu ungker juga dianggap dapat menghaluskan kulit.Â   Sekarang ini, ungker jati dapat dijadikan tambahan gizi keluarga anda. Maka ketika berkunjung ke daerah Blora, jangan lupa untuk membeli dan mencicipi ungker goreng.  </description><content:encoded>BLORA - Setiap tahun pada masa peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan, warga di sekitar hutan jati di Kabupaten Blora, Jawa Tengah mendapatkan berkah penghasilan dari mencari ungker.   Mereka biasa mencari ungker atau kepompong dari ulat daun jati pada pagi dan sore hari, kemudian menjualnya di tepi jalan sepanjang hutan. Kondisi geografis Blora yang bertanah kapur, membuat tanaman jati tumbuh subur di area tersebut.  Ketika daun jati bersemi, banyak ulat yang memakan habis daun-daunnya. Namun, warga sekitar hutan justru mensyukuri hama ini karena dapat dijadikan mata pencaharian mereka dengan cara mencari ungker serta menjualnya sebagai penghasilan tambahan.  Ungker atau kepompong ulat ini berwarna coklat muda sampai hitam, bagai harta karun bagi warga. Seperti yang dilakukan Purwati. Dengan mengendong anaknya yang berumur tiga tahun, dengan sabar dia membalik daun jati atau batu di hutan jati yang terletak di area KPH Randublatung.  Setelah menemukan ungker dari balutan tanah yang melindunginya, Purwati tanpa ragu langsung membersihkannya kemudian dia kumpulkan ke sebuah plastik yang telah disediakan sebelumnya.  Dalam sehari selama kurang lebih satu bulan yang akan datang, Purwati bisa mendapatkan uang antara Rp20 sampai Rp25 ribu dari penjualan ungker. Jika nasib sedang baik, Purwati mendapat lebih. Penghasilan tersebut dia gunakan untuk membeli beras.  Ungker hidup biasa dijual dengan harga Rp5.000 hingga Rp7.500 per gelas. Untuk ukuran 1-2 sentimeter harga ungker bisa mencapai Rp20-30 ribu per kilo.  Banyak konsumen yang membeli di jalan Blora arah ke Randublatung. Namun banyak juga pembeli yang membeli langsung ke pencari ungker yang masih mencari di tengah hutan, seperti yang dilakukan Tiwi. Dia sering mengonsumsi ungker karena banyak mengandung protein, selain itu ungker juga dianggap dapat menghaluskan kulit.Â   Sekarang ini, ungker jati dapat dijadikan tambahan gizi keluarga anda. Maka ketika berkunjung ke daerah Blora, jangan lupa untuk membeli dan mencicipi ungker goreng.  </content:encoded></item></channel></rss>
