<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>4 Alasan SBY-Boediono Harus Mundur</title><description>Aksi besar-besaran yang bakai digelar elemen pemuda, mahasiswa dan masyarakat yang tergabung dalam Petisi 28 pada 28 Januari nanti bukan tanpa alasan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2010/01/04/339/290600/4-alasan-sby-boediono-harus-mundur</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2010/01/04/339/290600/4-alasan-sby-boediono-harus-mundur"/><item><title>4 Alasan SBY-Boediono Harus Mundur</title><link>https://news.okezone.com/read/2010/01/04/339/290600/4-alasan-sby-boediono-harus-mundur</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2010/01/04/339/290600/4-alasan-sby-boediono-harus-mundur</guid><pubDate>Senin 04 Januari 2010 10:53 WIB</pubDate><dc:creator>Dadan Muhammad Ramdan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2010/01/04/339/290600/3rlgPmarsi.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2010/01/04/339/290600/3rlgPmarsi.jpg</image><title></title></images><description>JAKARTA - Aksi besar-besaran yang bakai digelar elemen pemuda, mahasiswa dan masyarakat yang tergabung dalam Petisi 28 pada 28 Januari nanti bukan tanpa alasan.
&amp;nbsp;
Setidaknya ada empat alasan prinsipil dari gerakan massa yang menuntut Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Wakil Presiden Boediono karena dalam 100 hari pemerintahannya sehingga gagal dalam memperbaiki kondisi bangsa.
&amp;nbsp;
Menurut salah satu deklarator Petisi 28 Haris Rusly, Bangsa Indoensia saat ini dihadapakan pada empat krisis yang serius.
&amp;nbsp;
Pertama, krisis kebangsaan. &quot;Harga diri Indonesia hilang karena terjajah oleh bangsa asing. Bangsa Indonesia dan kekayaannya menjadi sesajen dari penjajah yang tak hanya dari barat tapi juga timur,&quot; ungkap Haris.
&amp;nbsp;
Kedua, krisis kenegaraan karena saat ini Indonesia tidak hanya mengalami kritis politik, namun krisis kenegaraan akibat amendemen UUD 1945. Terjadi benturan antarlembaga negara, terutama di lembaga penegak hukum, seperti kasus Polri-KPK atau BI dengan BPK terkait dana penyelamatan Bank Century.
&amp;nbsp;
Ketiga, krisis kesejahteraan. Saat ini rakyat semakin terjepit adalah fakta, sedangkan para pejabat negara semakin tidak bermoral dan tidak peka dengan penderitaan rakyat. &amp;ldquo;Bukannya memikirkan nasib rakyat, pejabat justru disibukkan dengan mobil dinas seharga Rp1,3 miliar,&quot; beber Haris.
&amp;nbsp;
Keempat, krisis moral. Para pejabat negara malah terlibat dalam praktek korupsi, bukannya aktif menggiatkan gerakan antikorupsi dan antikemapanan. Pejabat negara tidak memberikan contoh yang baik bagi rakyat.
&amp;nbsp;
&quot;Pejabat kita pada sakit jiwa, tak peka terhadap penderitaan masyarakat. Krisis ini sudah pada titik nadir terhadap moral pejabat,&quot; tandas dia.
&amp;nbsp;
Menghadapi sirtuasi krisis yang kian kritis itu, maka gerakan massa dari elemen masyarakat yang prihatian dan khawatir terhadap nasib bangsa menuntut SBY-Boediono agar mundur.
&amp;nbsp;
&quot;Kami yang mengevaluasi 100 hari Pemerintahan SBY-Boediono, tidak hanya menuntut pergantian kepemimpinan nasional, tapi mengganti sistem yang selama ini sudah menyengsarakan rakyat,&quot; kata Haris</description><content:encoded>JAKARTA - Aksi besar-besaran yang bakai digelar elemen pemuda, mahasiswa dan masyarakat yang tergabung dalam Petisi 28 pada 28 Januari nanti bukan tanpa alasan.
&amp;nbsp;
Setidaknya ada empat alasan prinsipil dari gerakan massa yang menuntut Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Wakil Presiden Boediono karena dalam 100 hari pemerintahannya sehingga gagal dalam memperbaiki kondisi bangsa.
&amp;nbsp;
Menurut salah satu deklarator Petisi 28 Haris Rusly, Bangsa Indoensia saat ini dihadapakan pada empat krisis yang serius.
&amp;nbsp;
Pertama, krisis kebangsaan. &quot;Harga diri Indonesia hilang karena terjajah oleh bangsa asing. Bangsa Indonesia dan kekayaannya menjadi sesajen dari penjajah yang tak hanya dari barat tapi juga timur,&quot; ungkap Haris.
&amp;nbsp;
Kedua, krisis kenegaraan karena saat ini Indonesia tidak hanya mengalami kritis politik, namun krisis kenegaraan akibat amendemen UUD 1945. Terjadi benturan antarlembaga negara, terutama di lembaga penegak hukum, seperti kasus Polri-KPK atau BI dengan BPK terkait dana penyelamatan Bank Century.
&amp;nbsp;
Ketiga, krisis kesejahteraan. Saat ini rakyat semakin terjepit adalah fakta, sedangkan para pejabat negara semakin tidak bermoral dan tidak peka dengan penderitaan rakyat. &amp;ldquo;Bukannya memikirkan nasib rakyat, pejabat justru disibukkan dengan mobil dinas seharga Rp1,3 miliar,&quot; beber Haris.
&amp;nbsp;
Keempat, krisis moral. Para pejabat negara malah terlibat dalam praktek korupsi, bukannya aktif menggiatkan gerakan antikorupsi dan antikemapanan. Pejabat negara tidak memberikan contoh yang baik bagi rakyat.
&amp;nbsp;
&quot;Pejabat kita pada sakit jiwa, tak peka terhadap penderitaan masyarakat. Krisis ini sudah pada titik nadir terhadap moral pejabat,&quot; tandas dia.
&amp;nbsp;
Menghadapi sirtuasi krisis yang kian kritis itu, maka gerakan massa dari elemen masyarakat yang prihatian dan khawatir terhadap nasib bangsa menuntut SBY-Boediono agar mundur.
&amp;nbsp;
&quot;Kami yang mengevaluasi 100 hari Pemerintahan SBY-Boediono, tidak hanya menuntut pergantian kepemimpinan nasional, tapi mengganti sistem yang selama ini sudah menyengsarakan rakyat,&quot; kata Haris</content:encoded></item></channel></rss>
