<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>SPBU di Depok Diduga Cemari Air Tanah Warga</title><description>Hasil uji Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok menyebutkan air sumur warga RT 02 RW 01 Kelurahan Tirtajaya, Kecamatan Sukmajaya, Depok positif tercemar minyak.</description><link>https://news.okezone.com/read/2010/03/02/338/308457/spbu-di-depok-diduga-cemari-air-tanah-warga</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2010/03/02/338/308457/spbu-di-depok-diduga-cemari-air-tanah-warga"/><item><title>SPBU di Depok Diduga Cemari Air Tanah Warga</title><link>https://news.okezone.com/read/2010/03/02/338/308457/spbu-di-depok-diduga-cemari-air-tanah-warga</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2010/03/02/338/308457/spbu-di-depok-diduga-cemari-air-tanah-warga</guid><pubDate>Selasa 02 Maret 2010 20:04 WIB</pubDate><dc:creator>Marieska Harya Virdhani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2010/03/02/338/308457/Rt9M5ksEGL.jpg" expression="full" type="image/jpeg">SPBU (Foto: Koran SI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2010/03/02/338/308457/Rt9M5ksEGL.jpg</image><title>SPBU (Foto: Koran SI)</title></images><description>DEPOK - Hasil uji Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok menyebutkan air sumur warga RT 02 RW 01 Kelurahan Tirtajaya, Kecamatan Sukmajaya, Depok positif tercemar minyak.
&amp;nbsp;
Kandungan minyak tersebut diduga berasal dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 34-1641 yang berada dekat dengan pemukiman warga. Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok Rahmat Subagyo mengatakan, uji laboratorium tersebut, dilakukan setelah pihaknya menerima keluhan dari warga.
&amp;nbsp;
Hasil uji laboratrium tersebut, kata Rahmat, sudah disampaikan ke pengelola SPBU serta Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS) yang memasang tangki bensin di SPBU tersebut
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Dari hasil uji laboratorium di IPB Bogor, didapatkan ada unsur-unsur minyak yang terserap ke air tanah warga,&amp;rdquo; ujarnya kepada wartawan, Selasa (2/3/2010).
&amp;nbsp;
Rahmat menambahkan, selain membangun sumur penggati kepada warga, pengelola SPBU juga diminta untuk memerbaiki instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Sebab, kata Rahmat, kebocoran minyak tersebut dapat membahayakan kesehatan warga setempat.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Pengelola SPBU memang sudah bikin dua sumur pantek untuk warga, itu sumur pengganti sebagai pertanggungjawaban terhadap warga. Tiap 6 bulan sekali, saluran IPAL-nya diperiksa kondisinya seperti apa, drainasenya larinya ke mana, dicek secara reguler. Dinkes juga memeriksa apakah cek sumur warga di sekitarnya masih laik konsumsi atau tidak,&amp;rdquo; jelasnya.
&amp;nbsp;
Sementara itu, Manajer SPBU 341641 Ahmad Zaki Tohir membantah hasil uji laboratorium tersebut. Menurutnya, hasil laboratorium yang disampaikan oleh BLH tersebut tidak secara spesifik, menyebutkan jenis minyak yang mencemari sumur warga.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Hanya disebutkan mengandung minyak atau lemak per 1 mililiter. Tapi tidak spesifik jenisnya. Kami kan menjual bensin tiga jenis, premium, pertamax dan solar, harusnya dirinci, apakah dicemari tiga jenis bensin yang kami jual apa bukan,&amp;rdquo; tegas Zaki.
&amp;nbsp;
Zaki berdalih, dari instalasi pemantau kebocoran di SPBU tersebut tidak ditemukan kebocoran sama sekali. &amp;ldquo;Kalau ada kebocoran, pasti terpantau di sumur, toleransi penguapan bahan bakar hanya sebesar 0,5 persen, lagipula kalau bocor kita juga pasti rugi,&amp;rdquo; ujar Zaki.</description><content:encoded>DEPOK - Hasil uji Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok menyebutkan air sumur warga RT 02 RW 01 Kelurahan Tirtajaya, Kecamatan Sukmajaya, Depok positif tercemar minyak.
&amp;nbsp;
Kandungan minyak tersebut diduga berasal dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 34-1641 yang berada dekat dengan pemukiman warga. Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok Rahmat Subagyo mengatakan, uji laboratorium tersebut, dilakukan setelah pihaknya menerima keluhan dari warga.
&amp;nbsp;
Hasil uji laboratrium tersebut, kata Rahmat, sudah disampaikan ke pengelola SPBU serta Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS) yang memasang tangki bensin di SPBU tersebut
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Dari hasil uji laboratorium di IPB Bogor, didapatkan ada unsur-unsur minyak yang terserap ke air tanah warga,&amp;rdquo; ujarnya kepada wartawan, Selasa (2/3/2010).
&amp;nbsp;
Rahmat menambahkan, selain membangun sumur penggati kepada warga, pengelola SPBU juga diminta untuk memerbaiki instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Sebab, kata Rahmat, kebocoran minyak tersebut dapat membahayakan kesehatan warga setempat.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Pengelola SPBU memang sudah bikin dua sumur pantek untuk warga, itu sumur pengganti sebagai pertanggungjawaban terhadap warga. Tiap 6 bulan sekali, saluran IPAL-nya diperiksa kondisinya seperti apa, drainasenya larinya ke mana, dicek secara reguler. Dinkes juga memeriksa apakah cek sumur warga di sekitarnya masih laik konsumsi atau tidak,&amp;rdquo; jelasnya.
&amp;nbsp;
Sementara itu, Manajer SPBU 341641 Ahmad Zaki Tohir membantah hasil uji laboratorium tersebut. Menurutnya, hasil laboratorium yang disampaikan oleh BLH tersebut tidak secara spesifik, menyebutkan jenis minyak yang mencemari sumur warga.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Hanya disebutkan mengandung minyak atau lemak per 1 mililiter. Tapi tidak spesifik jenisnya. Kami kan menjual bensin tiga jenis, premium, pertamax dan solar, harusnya dirinci, apakah dicemari tiga jenis bensin yang kami jual apa bukan,&amp;rdquo; tegas Zaki.
&amp;nbsp;
Zaki berdalih, dari instalasi pemantau kebocoran di SPBU tersebut tidak ditemukan kebocoran sama sekali. &amp;ldquo;Kalau ada kebocoran, pasti terpantau di sumur, toleransi penguapan bahan bakar hanya sebesar 0,5 persen, lagipula kalau bocor kita juga pasti rugi,&amp;rdquo; ujar Zaki.</content:encoded></item></channel></rss>
