<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tembak Mati Dulmatin Malah Persulit Penelusuran</title><description>Tewasnya teroris Dulmatin saat penggerebekan di Pamulang, Selasa 9 Maret lalu, dianggap mempersulit penelusuran jaringan teroris.</description><link>https://news.okezone.com/read/2010/03/11/337/311429/tembak-mati-dulmatin-malah-persulit-penelusuran</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2010/03/11/337/311429/tembak-mati-dulmatin-malah-persulit-penelusuran"/><item><title>Tembak Mati Dulmatin Malah Persulit Penelusuran</title><link>https://news.okezone.com/read/2010/03/11/337/311429/tembak-mati-dulmatin-malah-persulit-penelusuran</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2010/03/11/337/311429/tembak-mati-dulmatin-malah-persulit-penelusuran</guid><pubDate>Kamis 11 Maret 2010 09:40 WIB</pubDate><dc:creator>Lusi Catur Mahgriefie</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2010/03/11/337/311429/LolJiNR3hd.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Petugas memeriksa pelaku teroris yang telah mati tertembak dalam penggerebekan di Gang Asem, Pamulang (Foto: Azis Indra/Koran SI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2010/03/11/337/311429/LolJiNR3hd.jpg</image><title>Petugas memeriksa pelaku teroris yang telah mati tertembak dalam penggerebekan di Gang Asem, Pamulang (Foto: Azis Indra/Koran SI)</title></images><description>JAKARTA - Tewasnya teroris Dulmatin saat penggerebekan oleh Densus 88 Antiteror di Pamulang, Selasa 9 Maret lalu, dianggap mempersulit penelusuran jaringan teroris.
&amp;nbsp;
Demikian dikatakan pengamat teroris dan hipnoterapis, Mardigu, saat dihubungi okezone, di Jakarta, Kamis (11/3/2010).
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Saya juga seorang psikolog, saya memerlukan data lebih banyak tapi dengan tewasnya Dulmatin menimbulkan kesulitan,&amp;rdquo; ujar Mardigu.
&amp;nbsp;
Serupa dengan Ketua Komnas HAM Nurcholish, dia juga menyayangkan dan lagi-lagi mempertanyakan mengapa setiap penangkapan tersangka teroris selalu berujung pada penembakan mati.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Sampai saat ini saya belum temukan jawaban, harusnya polisi sendiri yang menemukan. Padahal Dulmatin masih sangat vital dibanding Noordin M Top. Harusnya bisa hidup, jadi kita bisa terlusuri strategi mereka selanjutnya,&amp;rdquo; tandasnya.
&amp;nbsp;
Sebelumnya, Komisioner Komnas HAM Nurcholis menyatakan, pihaknya mengaku heran mengapa setiap menggerebek sarang teroris, polisi harus menembak mati sasarannya. Seperti yang terjadi dengan penggerebekan terhadap Dr Azhari, Noordin M Top, Saifuddin Zuhri, dan terakhir Dulmatin.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Kalau kasus ini harus dikembangkan, seharusnya polisi dapat menangkap mereka dalam keadaan hidup. Tapi mungkin kondisi yang memaksa seperti itu,&amp;rdquo; ujar Nurcholish kepada okezone, Rabu 10 Maret.</description><content:encoded>JAKARTA - Tewasnya teroris Dulmatin saat penggerebekan oleh Densus 88 Antiteror di Pamulang, Selasa 9 Maret lalu, dianggap mempersulit penelusuran jaringan teroris.
&amp;nbsp;
Demikian dikatakan pengamat teroris dan hipnoterapis, Mardigu, saat dihubungi okezone, di Jakarta, Kamis (11/3/2010).
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Saya juga seorang psikolog, saya memerlukan data lebih banyak tapi dengan tewasnya Dulmatin menimbulkan kesulitan,&amp;rdquo; ujar Mardigu.
&amp;nbsp;
Serupa dengan Ketua Komnas HAM Nurcholish, dia juga menyayangkan dan lagi-lagi mempertanyakan mengapa setiap penangkapan tersangka teroris selalu berujung pada penembakan mati.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Sampai saat ini saya belum temukan jawaban, harusnya polisi sendiri yang menemukan. Padahal Dulmatin masih sangat vital dibanding Noordin M Top. Harusnya bisa hidup, jadi kita bisa terlusuri strategi mereka selanjutnya,&amp;rdquo; tandasnya.
&amp;nbsp;
Sebelumnya, Komisioner Komnas HAM Nurcholis menyatakan, pihaknya mengaku heran mengapa setiap menggerebek sarang teroris, polisi harus menembak mati sasarannya. Seperti yang terjadi dengan penggerebekan terhadap Dr Azhari, Noordin M Top, Saifuddin Zuhri, dan terakhir Dulmatin.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Kalau kasus ini harus dikembangkan, seharusnya polisi dapat menangkap mereka dalam keadaan hidup. Tapi mungkin kondisi yang memaksa seperti itu,&amp;rdquo; ujar Nurcholish kepada okezone, Rabu 10 Maret.</content:encoded></item></channel></rss>
