<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>232 Ribu Anak di Indonesia Jadi Gelandangan</title><description>Kementerian Sosial mencatat saat ini terdapat 232 ribu anak di Indonesia yang hidupnya menggelandang di jalanan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2010/03/12/337/312100/232-ribu-anak-di-indonesia-jadi-gelandangan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2010/03/12/337/312100/232-ribu-anak-di-indonesia-jadi-gelandangan"/><item><title>232 Ribu Anak di Indonesia Jadi Gelandangan</title><link>https://news.okezone.com/read/2010/03/12/337/312100/232-ribu-anak-di-indonesia-jadi-gelandangan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2010/03/12/337/312100/232-ribu-anak-di-indonesia-jadi-gelandangan</guid><pubDate>Jum'at 12 Maret 2010 20:07 WIB</pubDate><dc:creator>Rohmat</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2010/03/12/337/312100/b2urLmPsCH.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Koran SI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2010/03/12/337/312100/b2urLmPsCH.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Koran SI)</title></images><description>DENPASAR - Kementerian Sosial mencatat saat ini terdapat 232 ribu anak di Indonesia yang hidupnya menggelandang di jalanan.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Anak-anak yang menggelandang ini harus diselesaikan. Tidak hanya urusan makan saja, namun masalah kesehatan, pendidikan harus mendapat perhatian serius semua pihak,&amp;rdquo; ujar Menteri Sosial Salim Segaff Al Jufri di sela-sela rakornas Program Keluarga Harapan wilayah Indonesia Timur di Hotel Aston Denpasar, Jalan Gatot Subroto, Jumat, (12/3/2010).
&amp;nbsp;
Dikatakan Mensos, anak-anak yang mengisi hidupnya di jalanan kota-kota besar rentan mengalami tekanan hidup atau stres. &amp;ldquo;Mereka hanya empat hingga lima jam di sekolah, sisanya dihabiskan di jalan,&amp;rdquo; imbuh mantan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi ini.
&amp;nbsp;
Banyaknya anak-anak yang hidup menggelandang seperti di Jakarta, diakui Mensos lebih banyak disebabkan kemiskinan. &amp;ldquo;80 persen hingga 90 persen sebab kemikiskinan, setelah dilakukan pendataan, sebagian besar mereka datang dari daerah miskin pinggiran seperti Bogor, Bekasi, Indramayu, dan lainnya,&amp;rdquo; jelas Salim.
&amp;nbsp;
Kemensos lewat program keluarga harapan (PKH) pada 2010, mencantumkan salah satu sasaran program adalah anak-anak putus sekolah atau mereka yang menggelandang di jalan.
&amp;nbsp;
Guna mendukung program PKH, Kemenson mengalokasikan anggaran sebesar Rp1,3 triliun dari total anggaran Rp3,6 triliun untuk mengatasi masalah kemiskinan di Indonesia.
&amp;nbsp;
Menurut Salim, keberhasilan program menekan angka kemiskinan, tak lepas dari dukungan pemerintah daerah mulai Gubernur dan Bupati untuk merancang program-program untuk mengentaskan angka kemiskinan. 
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Dana-dana dekonsentrasi bisa saja dipakai untuk program ini, derah pun bisa mengajukan program ke pusat melalui berbagai instansi dan kementerian yang ada,&amp;rdquo; tambahnya.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
Saat ini, ada 16 instansi atau lembaga yang menangani masalah kemiskinan sehingga diperlukan langkah dan koordinasi sinergis antara pihak terkait untuk bersama-sama menekan angka kemiskinan di Indonesia.

</description><content:encoded>DENPASAR - Kementerian Sosial mencatat saat ini terdapat 232 ribu anak di Indonesia yang hidupnya menggelandang di jalanan.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Anak-anak yang menggelandang ini harus diselesaikan. Tidak hanya urusan makan saja, namun masalah kesehatan, pendidikan harus mendapat perhatian serius semua pihak,&amp;rdquo; ujar Menteri Sosial Salim Segaff Al Jufri di sela-sela rakornas Program Keluarga Harapan wilayah Indonesia Timur di Hotel Aston Denpasar, Jalan Gatot Subroto, Jumat, (12/3/2010).
&amp;nbsp;
Dikatakan Mensos, anak-anak yang mengisi hidupnya di jalanan kota-kota besar rentan mengalami tekanan hidup atau stres. &amp;ldquo;Mereka hanya empat hingga lima jam di sekolah, sisanya dihabiskan di jalan,&amp;rdquo; imbuh mantan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi ini.
&amp;nbsp;
Banyaknya anak-anak yang hidup menggelandang seperti di Jakarta, diakui Mensos lebih banyak disebabkan kemiskinan. &amp;ldquo;80 persen hingga 90 persen sebab kemikiskinan, setelah dilakukan pendataan, sebagian besar mereka datang dari daerah miskin pinggiran seperti Bogor, Bekasi, Indramayu, dan lainnya,&amp;rdquo; jelas Salim.
&amp;nbsp;
Kemensos lewat program keluarga harapan (PKH) pada 2010, mencantumkan salah satu sasaran program adalah anak-anak putus sekolah atau mereka yang menggelandang di jalan.
&amp;nbsp;
Guna mendukung program PKH, Kemenson mengalokasikan anggaran sebesar Rp1,3 triliun dari total anggaran Rp3,6 triliun untuk mengatasi masalah kemiskinan di Indonesia.
&amp;nbsp;
Menurut Salim, keberhasilan program menekan angka kemiskinan, tak lepas dari dukungan pemerintah daerah mulai Gubernur dan Bupati untuk merancang program-program untuk mengentaskan angka kemiskinan. 
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Dana-dana dekonsentrasi bisa saja dipakai untuk program ini, derah pun bisa mengajukan program ke pusat melalui berbagai instansi dan kementerian yang ada,&amp;rdquo; tambahnya.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
Saat ini, ada 16 instansi atau lembaga yang menangani masalah kemiskinan sehingga diperlukan langkah dan koordinasi sinergis antara pihak terkait untuk bersama-sama menekan angka kemiskinan di Indonesia.

</content:encoded></item></channel></rss>
