<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>DBD Sudah Renggut 7 Nyawa</title><description>Sedikitnya tujuh balita dan anak-anak di Kabupaten Tulungagung meninggal dunia akibat penyakit demam berdarah dengeu (DBD).</description><link>https://news.okezone.com/read/2010/03/15/340/312835/dbd-sudah-renggut-7-nyawa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2010/03/15/340/312835/dbd-sudah-renggut-7-nyawa"/><item><title>DBD Sudah Renggut 7 Nyawa</title><link>https://news.okezone.com/read/2010/03/15/340/312835/dbd-sudah-renggut-7-nyawa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2010/03/15/340/312835/dbd-sudah-renggut-7-nyawa</guid><pubDate>Senin 15 Maret 2010 22:07 WIB</pubDate><dc:creator>Solichan Arif</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2010/03/15/340/312835/ahkqPnqzyE.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2010/03/15/340/312835/ahkqPnqzyE.jpg</image><title></title></images><description>TULUNGAGUNG - Sedikitnya tujuh balita dan anak-anak di Kabupaten Tulungagung meninggal dunia akibat penyakit demam berdarah dengeu (DBD).

Korban meninggal terhitung sejak Januari hingga pertengahan Maret 2010 ini. Selama 2,5 bulan terakhir sudah dilaporkan 1.012 kasus DBD di Kota Mermer. Pada Januari sebanyak 463 kasus dengan tiga orang meninggal dunia. Sebulan kemudian dilaporkan terdapat 404 kasus dengan dua meninggal. Kemudian selama Maret tercatat 145 kasus dengan dua orang di antaranya meninggal.

Menurut keterangan Kepala Bidang Penanggulangan Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung Bahrudin, kasus itu tersebar di wilayah Kecamatan Tulungagung, Kedungwaru, dan Boyolangu.

&amp;ldquo;Sementara pada Desember tahun 2009 terjadi 182 kasus dengan dua pasien di antaranya meninggal dunia. Jadi pada 2010 ini ada tren peningkatan,&amp;rdquo; ujarnya kepada wartawan, Senin (15/3/2010).

Bahrudin mengaku tidak tahu pasti penyebab meningkatnya kasus DBD di Tulungagung. Dirinya justru mencurigai adanya perubahan tingkat kekebalan nyamuk aedes aygpty terhadap obat yang disemprotkan ke sarang nyamuk. Sebab, sejauh ini dinas sudah aktif melakukan pemberantasan sarang nyamuk dan fogging.

&amp;ldquo;Saya curiga justru ada semacam mutasi nyamuk yang semakin kebal terhadap obat, &amp;ldquo;paparnya.

Kendati demikian, anggaran untuk pemberantasan sarang nyamuk pada 2010 lebih kecil dibanding 2009. Selama setahun, Dinkes hanya mendapatkan Rp150 juta untuk PSN dan fogging. 

&amp;ldquo;Sementara untuk 2009 sebesar Rp195 juta. Kita berharap akan ditambah di PAK 2010,&amp;ldquo; harapnya.

Sementara dalam hal ini, Bahrudin juga mengakui jika data yang dimiliki Dinkes tidak sama dengan yang disampaikan RSUD Dr Iskak Tulungagung. Dinkes menilai trombosit di bawah 100 dinilai belum kategori terjangkit DBD. Sementara rumah sakit, sudah. 

&amp;ldquo;Ini yang menjadikan jumlah pasien di rumah sakit selalu lebih banyak dibanding data Dinkes,&amp;rdquo; pungkas Bahrudin sambil menambahkan dalam hal ini Dinkes belum menetapkan status KLB.</description><content:encoded>TULUNGAGUNG - Sedikitnya tujuh balita dan anak-anak di Kabupaten Tulungagung meninggal dunia akibat penyakit demam berdarah dengeu (DBD).

Korban meninggal terhitung sejak Januari hingga pertengahan Maret 2010 ini. Selama 2,5 bulan terakhir sudah dilaporkan 1.012 kasus DBD di Kota Mermer. Pada Januari sebanyak 463 kasus dengan tiga orang meninggal dunia. Sebulan kemudian dilaporkan terdapat 404 kasus dengan dua meninggal. Kemudian selama Maret tercatat 145 kasus dengan dua orang di antaranya meninggal.

Menurut keterangan Kepala Bidang Penanggulangan Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung Bahrudin, kasus itu tersebar di wilayah Kecamatan Tulungagung, Kedungwaru, dan Boyolangu.

&amp;ldquo;Sementara pada Desember tahun 2009 terjadi 182 kasus dengan dua pasien di antaranya meninggal dunia. Jadi pada 2010 ini ada tren peningkatan,&amp;rdquo; ujarnya kepada wartawan, Senin (15/3/2010).

Bahrudin mengaku tidak tahu pasti penyebab meningkatnya kasus DBD di Tulungagung. Dirinya justru mencurigai adanya perubahan tingkat kekebalan nyamuk aedes aygpty terhadap obat yang disemprotkan ke sarang nyamuk. Sebab, sejauh ini dinas sudah aktif melakukan pemberantasan sarang nyamuk dan fogging.

&amp;ldquo;Saya curiga justru ada semacam mutasi nyamuk yang semakin kebal terhadap obat, &amp;ldquo;paparnya.

Kendati demikian, anggaran untuk pemberantasan sarang nyamuk pada 2010 lebih kecil dibanding 2009. Selama setahun, Dinkes hanya mendapatkan Rp150 juta untuk PSN dan fogging. 

&amp;ldquo;Sementara untuk 2009 sebesar Rp195 juta. Kita berharap akan ditambah di PAK 2010,&amp;ldquo; harapnya.

Sementara dalam hal ini, Bahrudin juga mengakui jika data yang dimiliki Dinkes tidak sama dengan yang disampaikan RSUD Dr Iskak Tulungagung. Dinkes menilai trombosit di bawah 100 dinilai belum kategori terjangkit DBD. Sementara rumah sakit, sudah. 

&amp;ldquo;Ini yang menjadikan jumlah pasien di rumah sakit selalu lebih banyak dibanding data Dinkes,&amp;rdquo; pungkas Bahrudin sambil menambahkan dalam hal ini Dinkes belum menetapkan status KLB.</content:encoded></item></channel></rss>
