<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Komando Teroris dari Penjara Sudah Lama Dilakukan</title><description>Kelompok yang diduga teroris di Nanggroe Aceh Darussalam, disinyalir mendapat komando dari dalam penjara.</description><link>https://news.okezone.com/read/2010/03/19/337/314024/komando-teroris-dari-penjara-sudah-lama-dilakukan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2010/03/19/337/314024/komando-teroris-dari-penjara-sudah-lama-dilakukan"/><item><title>Komando Teroris dari Penjara Sudah Lama Dilakukan</title><link>https://news.okezone.com/read/2010/03/19/337/314024/komando-teroris-dari-penjara-sudah-lama-dilakukan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2010/03/19/337/314024/komando-teroris-dari-penjara-sudah-lama-dilakukan</guid><pubDate>Jum'at 19 Maret 2010 10:48 WIB</pubDate><dc:creator>Lusi Catur Mahgriefie</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2010/03/19/337/314024/XN2nAnzhFm.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi terorisme (Foto: Koran SI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2010/03/19/337/314024/XN2nAnzhFm.jpg</image><title>Ilustrasi terorisme (Foto: Koran SI)</title></images><description>JAKARTA - Kelompok yang diduga teroris di Nanggroe Aceh Darussalam, disinyalir mendapat komando dari pemain lama dalam jaringan terorisme. Parahnya, komando ini dilakukan dari dalam penjara.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Sebenarnya ini bukan informasi baru. Terorisme yang diatur dari dalam penjara, sudah sangat lama. Kenapa baru sekarang? Tepatnya, baru konfirm jadi bukannya tidak tahu. Kemarin-kemarin, rasanya baru tahu saja tapi belum ditelusuri jadi belum bisa dipastikan,&amp;rdquo; ujar pengamat teroris Mardigu kepada okezone, Jumat (19/3/2010).
&amp;nbsp;
Mardigu menegaskan, keyakinannya akan komando dari dalam penjara itu didapat berdasarkan hasil wawancara para tersangka teroris yang tertangkap hidup, maupun menyerahkan diri.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Saya mengorek informasi dari interview langsung dan tidak langsung terhadap para teroris itu,&amp;rdquo; ucapnya.
&amp;nbsp;
Mardigu pun memberi gambaran terkait komando dari dalam sel tahanan. Pertama, pengaturan yang dinamakan semangat juang. &amp;ldquo;Itu terus dikendalikan dari dalam penjara dengan alat komunikasi yang saat ini sangat mudah didapat. Jadi penjara tidak menghentikan semangat juang mereka,&amp;rdquo; ungkapnya.
&amp;nbsp;
Kedua, lanjutnya, mereka terus melakukan perluasan pemahaman karena bagi mereka teroris itu bukan bom, melainkan pemahaman yang harus terus menerus disebar.
&amp;nbsp;
Ketiga, perekrutan dan pelatihan kaderisasi itu yang mereka katakan dominan. &amp;ldquo;Dalam tahanan mereka mendapat simpati dari dalam LP, tapi yang jelas juga untuk mereka yang ada di luar,&amp;rdquo; kata dia.
&amp;nbsp;
Lebih lanjut Mardigu menuturkan, inilah salah satu alasan mengapa aparat kerap kali menembak dan menewaskan para teroris di tempat penggerebekan, bukan menangkapnya hidup-hidup.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Ini dia, kalau pimpinan ditangkap hidup-hidup lalu ditahan, mereka masih bisa terus melakukan kaderisasi dan komando. Bahkan bisa menimbulkan simpati saat menjelang eksekusi hukuman,&amp;rdquo; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Kelompok yang diduga teroris di Nanggroe Aceh Darussalam, disinyalir mendapat komando dari pemain lama dalam jaringan terorisme. Parahnya, komando ini dilakukan dari dalam penjara.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Sebenarnya ini bukan informasi baru. Terorisme yang diatur dari dalam penjara, sudah sangat lama. Kenapa baru sekarang? Tepatnya, baru konfirm jadi bukannya tidak tahu. Kemarin-kemarin, rasanya baru tahu saja tapi belum ditelusuri jadi belum bisa dipastikan,&amp;rdquo; ujar pengamat teroris Mardigu kepada okezone, Jumat (19/3/2010).
&amp;nbsp;
Mardigu menegaskan, keyakinannya akan komando dari dalam penjara itu didapat berdasarkan hasil wawancara para tersangka teroris yang tertangkap hidup, maupun menyerahkan diri.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Saya mengorek informasi dari interview langsung dan tidak langsung terhadap para teroris itu,&amp;rdquo; ucapnya.
&amp;nbsp;
Mardigu pun memberi gambaran terkait komando dari dalam sel tahanan. Pertama, pengaturan yang dinamakan semangat juang. &amp;ldquo;Itu terus dikendalikan dari dalam penjara dengan alat komunikasi yang saat ini sangat mudah didapat. Jadi penjara tidak menghentikan semangat juang mereka,&amp;rdquo; ungkapnya.
&amp;nbsp;
Kedua, lanjutnya, mereka terus melakukan perluasan pemahaman karena bagi mereka teroris itu bukan bom, melainkan pemahaman yang harus terus menerus disebar.
&amp;nbsp;
Ketiga, perekrutan dan pelatihan kaderisasi itu yang mereka katakan dominan. &amp;ldquo;Dalam tahanan mereka mendapat simpati dari dalam LP, tapi yang jelas juga untuk mereka yang ada di luar,&amp;rdquo; kata dia.
&amp;nbsp;
Lebih lanjut Mardigu menuturkan, inilah salah satu alasan mengapa aparat kerap kali menembak dan menewaskan para teroris di tempat penggerebekan, bukan menangkapnya hidup-hidup.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Ini dia, kalau pimpinan ditangkap hidup-hidup lalu ditahan, mereka masih bisa terus melakukan kaderisasi dan komando. Bahkan bisa menimbulkan simpati saat menjelang eksekusi hukuman,&amp;rdquo; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
