<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>83 Tahun Pisah, Mahkota &amp; Sultan Tidore Bersatu</title><description>Setelah 83 tahun terpisah karena pengkhianatan &amp;ldquo;internal&amp;rdquo;, mahkota Sultan Tidore akhirnya dikembalikan ke keraton Sultan Tidore dalam sebuah prosesi ritual adat.</description><link>https://news.okezone.com/read/2010/03/19/340/313943/83-tahun-pisah-mahkota-sultan-tidore-bersatu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2010/03/19/340/313943/83-tahun-pisah-mahkota-sultan-tidore-bersatu"/><item><title>83 Tahun Pisah, Mahkota &amp; Sultan Tidore Bersatu</title><link>https://news.okezone.com/read/2010/03/19/340/313943/83-tahun-pisah-mahkota-sultan-tidore-bersatu</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2010/03/19/340/313943/83-tahun-pisah-mahkota-sultan-tidore-bersatu</guid><pubDate>Jum'at 19 Maret 2010 03:10 WIB</pubDate><dc:creator>Rival Fahmi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2010/03/19/340/313943/kvMdc1qtGk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Prosesi ritual adat bersatunya Mahkota dan Sultan Tidore. (Foto: Rival Fahmi/okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2010/03/19/340/313943/kvMdc1qtGk.jpg</image><title>Prosesi ritual adat bersatunya Mahkota dan Sultan Tidore. (Foto: Rival Fahmi/okezone)</title></images><description>TERNATE - Setelah 83 tahun terpisah karena pengkhianatan &amp;ldquo;internal&amp;rdquo;, mahkota Sultan Tidore akhirnya dikembalikan ke keraton Sultan Tidore dalam sebuah prosesi ritual adat.Sultan bersama keratonnya akhirnya menjadi satu setelah terpisah sejak mangkatnya Sultah Sjah Juan pada 1902.Berbagai prosesi adat dilakukan warga kaki Kie (gunung) Matubo untuk menyambut salah satu perayaan bersejarah ini. Sejak magrib, segala persiapan mulai dilakukan. Para wanita yang berpakaian khas putih-putih Tidore, berkumpul di rumah Sultan di kawasan Gamtufkange.Mereka umumnya para ibu rumah tangga yang sudah terpilih oleh Bobato Hakekat (juru kunci) untuk melaksanakan prosesi lama lama om moro moro, sebuah ritual untuk menghibur sultan.Beragam nyanyian bersyairkan nasihat dan petuah dilantunkan mengiring musik gong.Sempat berhenti sejenak di waktu Isya, nyanyian lalu diganti sejenak dengan tahlilan yang kemudian dilanjutkan hingga dini hari sekira 3.00 WIT menjelang waktu subuh. Sultan Djafar Sjah bersama Boki (permaisuri) Suhaimi pun dijemput sepasukan warga yang dipimpin empat Soa Gimalaha (Soa Mafu, Soa Famanyira, Soa Faikulu dan Khotib). Setelah melapor, Sultan dan Boki dengan baju kebesarannya lalu diarak dengan berjalan kaki menuju keraton setelah sebelumnya Sultan sempat berdoa tepat dibawah pintu rumahnya.Puluhan pasukan perang yang mengawal Sultan, berpakaian lengkap dengan simbol warna kuning yang melambangkan pembawa bendera kerajaan. Putih biru, artinya pasukan amphibi dengan simbol ikan pari dan hiu. Mereka ini pasukan Angkatan laut milik kerajaan Tidore.Lalu ada pasukan merah hitam (pasukan pembersih ranjau). Inilah pasukan khusus kerajaan. Mereka bertugas mengawal sepanjang jalan yang dilalui sultan.Hal unik yang bisa dicatat, sepanjang prosesi ini berlangsung, tak satu pun suara yang terdengar selain bunyi gong yang ditabuh setiap lima detik. Suasana hening itu makin bertambah syahdu ritual ini. Begitu juga cahaya di mana seluruh rumah mematikan lampu, yang ada hanyalah obor penerang yang dibawa beberapa orang dalam pasukan pengawal itu.Perjalanan sempat terhenti sejenak ketika Sultan menginjakan kaki di gerbang masuk Soa Sio yang merupakan perbatasan Gamtufkange-Soa Sio. Sempat berdoa dalam hati dengan suasana hening, rombongan lalu melanjutkan perjalanan menuju keraton.Tiba di keraton, Sultan lalu diarahkan Kipu (kepala rumah tangga kesultanan) untuk menaiki 20 anak tangga yang melambangkan sifat Allah, yang diawali dengan doa pada Rabu, tepat pukul 04.00 WIT. Usai berada di ruang tengah keraton, Kipu kemudian berjalan menuju lokasi tempat dimana Mahkota disimpan, untuk memberitahukan kalau Sultan telah memasuki keraton. Setelah itu barulah para pasukan yang membawa mahkota diarak menuju ke keraton dafri museumnya. Hal itu dilakukan sebagai simbol bahwa sultan raga dari keraton, sementara mahkota adalah nyawanya, sehingga dibawa terlebih dahulu baru kemudian disusul mahkota.Prosesinya tak berbeda dengan sebelumnya. hanya saja, tidak seketat pengawalan Sultan, mahkota hanya dikawal orang yang berbeda yaitu Kipu Wahab dari malaha toma you atau putra terbaik dari Nyili Gamtufange. Dengan dibungkus kain peta, Kipu Wahab ini bertugas polo (memeluk) mahkota kemudian membawa menuju keraton hingga meletakan mahkota tersebut di kamar puji. Kipu Wahab dikawal oleh tujuh Fanyira (kepala kelurahan) masing masing Fanyira Sautu, Fanyira Tugu Waji, Fanyira Goto, Fanyira Tambula, dan Fanyira Jai yang bertugas mengamankan dari hal-hal yang dikhawatirkan akan menghalau perjalanan tersebut. Selain mahkota, beberapa orang juga membawa beragam peralatan kamar puji seperti perisai, tongkat gading, payung dan peralatan untuk persemayaman.Setiba di keraton, mahkota lalu bawa langsung masuk ke kamar puji dimana sudah dinanti dua imam yakni Imam Gamtufukange dan imam Soa Sio (Tugubu) yang kemudian membacakan doa khusus sebelum diletakan mahkota bersama dengan perisai tongkat dan golok.Inilah satu-satu kesempatan memasuki kamar puji sebelum pintu kamar itu dikunci yang hanya boleh dimasuki penanggung jawabnya seperti Bobato Hakekat (juru kunci) untuk menjalankan ritual tertentu.Setelah seluruh ritual dilakukan, sultan kemudian dihibur dengan nyanyian adat dengan menggunakan semacam pembersih padi yang diketuk dengan lantunan nyanyian warga sekitar. Sultan nantinya tidak dibolehkan meninggalkan Tidore selama kurun waktu 44 hari.Menurut sejarahnya, setelah Sultan Tidore Kawiyudin atau Sjah Juan mangkat pada tahun 1902, selama 10 tahun kemudian, Kerajaan Tidore mengalami kekosongan pimpinan atau belum ada penggantinya. 10 tahun kemudian tepat pada 1912, keraton kesultanan Tidore di bongkar pihak keluarga dengan alasan ada penyusup yakni Bosi yang menghasut warga untuk memilihnya menggantikan Sjah Juan.Setelah dibongkar, kerabat kesultanan kemudian mengamankan mahkota kebesaran itu ke salah satu rumah di Soa Sio (ibukota Tidore). &amp;ldquo;Bersembunyi&amp;rdquo; selama puluhan tahun, mahkota kembali dipindahkan ke museum pada tahun 1970an.Maka sejak 1912, kesultanan Tidore nyaris tinggal sejarah. Kesultan Tidore sendiri kini dipimpin Djafar Sjah yang sempat menjabat sebagai anggota DPD-RI periode 2004-2009 lalu.Terpilihnya Rabu, karena dipercaya hari itu merupakan Razal atau harinya para lelaki. &amp;ldquo;Dini hari menunjukan adanya kewibawaan darfi seorang pemimpin. Tapi semua itu tak terlepas dari hasil ibadah yang dilakukan dalam kamar puji,&amp;rdquo; jelas Amin Sarur, seorang pejabat yang sehari-hari adalah sekretaris adat kesultanan.(ton)</description><content:encoded>TERNATE - Setelah 83 tahun terpisah karena pengkhianatan &amp;ldquo;internal&amp;rdquo;, mahkota Sultan Tidore akhirnya dikembalikan ke keraton Sultan Tidore dalam sebuah prosesi ritual adat.Sultan bersama keratonnya akhirnya menjadi satu setelah terpisah sejak mangkatnya Sultah Sjah Juan pada 1902.Berbagai prosesi adat dilakukan warga kaki Kie (gunung) Matubo untuk menyambut salah satu perayaan bersejarah ini. Sejak magrib, segala persiapan mulai dilakukan. Para wanita yang berpakaian khas putih-putih Tidore, berkumpul di rumah Sultan di kawasan Gamtufkange.Mereka umumnya para ibu rumah tangga yang sudah terpilih oleh Bobato Hakekat (juru kunci) untuk melaksanakan prosesi lama lama om moro moro, sebuah ritual untuk menghibur sultan.Beragam nyanyian bersyairkan nasihat dan petuah dilantunkan mengiring musik gong.Sempat berhenti sejenak di waktu Isya, nyanyian lalu diganti sejenak dengan tahlilan yang kemudian dilanjutkan hingga dini hari sekira 3.00 WIT menjelang waktu subuh. Sultan Djafar Sjah bersama Boki (permaisuri) Suhaimi pun dijemput sepasukan warga yang dipimpin empat Soa Gimalaha (Soa Mafu, Soa Famanyira, Soa Faikulu dan Khotib). Setelah melapor, Sultan dan Boki dengan baju kebesarannya lalu diarak dengan berjalan kaki menuju keraton setelah sebelumnya Sultan sempat berdoa tepat dibawah pintu rumahnya.Puluhan pasukan perang yang mengawal Sultan, berpakaian lengkap dengan simbol warna kuning yang melambangkan pembawa bendera kerajaan. Putih biru, artinya pasukan amphibi dengan simbol ikan pari dan hiu. Mereka ini pasukan Angkatan laut milik kerajaan Tidore.Lalu ada pasukan merah hitam (pasukan pembersih ranjau). Inilah pasukan khusus kerajaan. Mereka bertugas mengawal sepanjang jalan yang dilalui sultan.Hal unik yang bisa dicatat, sepanjang prosesi ini berlangsung, tak satu pun suara yang terdengar selain bunyi gong yang ditabuh setiap lima detik. Suasana hening itu makin bertambah syahdu ritual ini. Begitu juga cahaya di mana seluruh rumah mematikan lampu, yang ada hanyalah obor penerang yang dibawa beberapa orang dalam pasukan pengawal itu.Perjalanan sempat terhenti sejenak ketika Sultan menginjakan kaki di gerbang masuk Soa Sio yang merupakan perbatasan Gamtufkange-Soa Sio. Sempat berdoa dalam hati dengan suasana hening, rombongan lalu melanjutkan perjalanan menuju keraton.Tiba di keraton, Sultan lalu diarahkan Kipu (kepala rumah tangga kesultanan) untuk menaiki 20 anak tangga yang melambangkan sifat Allah, yang diawali dengan doa pada Rabu, tepat pukul 04.00 WIT. Usai berada di ruang tengah keraton, Kipu kemudian berjalan menuju lokasi tempat dimana Mahkota disimpan, untuk memberitahukan kalau Sultan telah memasuki keraton. Setelah itu barulah para pasukan yang membawa mahkota diarak menuju ke keraton dafri museumnya. Hal itu dilakukan sebagai simbol bahwa sultan raga dari keraton, sementara mahkota adalah nyawanya, sehingga dibawa terlebih dahulu baru kemudian disusul mahkota.Prosesinya tak berbeda dengan sebelumnya. hanya saja, tidak seketat pengawalan Sultan, mahkota hanya dikawal orang yang berbeda yaitu Kipu Wahab dari malaha toma you atau putra terbaik dari Nyili Gamtufange. Dengan dibungkus kain peta, Kipu Wahab ini bertugas polo (memeluk) mahkota kemudian membawa menuju keraton hingga meletakan mahkota tersebut di kamar puji. Kipu Wahab dikawal oleh tujuh Fanyira (kepala kelurahan) masing masing Fanyira Sautu, Fanyira Tugu Waji, Fanyira Goto, Fanyira Tambula, dan Fanyira Jai yang bertugas mengamankan dari hal-hal yang dikhawatirkan akan menghalau perjalanan tersebut. Selain mahkota, beberapa orang juga membawa beragam peralatan kamar puji seperti perisai, tongkat gading, payung dan peralatan untuk persemayaman.Setiba di keraton, mahkota lalu bawa langsung masuk ke kamar puji dimana sudah dinanti dua imam yakni Imam Gamtufukange dan imam Soa Sio (Tugubu) yang kemudian membacakan doa khusus sebelum diletakan mahkota bersama dengan perisai tongkat dan golok.Inilah satu-satu kesempatan memasuki kamar puji sebelum pintu kamar itu dikunci yang hanya boleh dimasuki penanggung jawabnya seperti Bobato Hakekat (juru kunci) untuk menjalankan ritual tertentu.Setelah seluruh ritual dilakukan, sultan kemudian dihibur dengan nyanyian adat dengan menggunakan semacam pembersih padi yang diketuk dengan lantunan nyanyian warga sekitar. Sultan nantinya tidak dibolehkan meninggalkan Tidore selama kurun waktu 44 hari.Menurut sejarahnya, setelah Sultan Tidore Kawiyudin atau Sjah Juan mangkat pada tahun 1902, selama 10 tahun kemudian, Kerajaan Tidore mengalami kekosongan pimpinan atau belum ada penggantinya. 10 tahun kemudian tepat pada 1912, keraton kesultanan Tidore di bongkar pihak keluarga dengan alasan ada penyusup yakni Bosi yang menghasut warga untuk memilihnya menggantikan Sjah Juan.Setelah dibongkar, kerabat kesultanan kemudian mengamankan mahkota kebesaran itu ke salah satu rumah di Soa Sio (ibukota Tidore). &amp;ldquo;Bersembunyi&amp;rdquo; selama puluhan tahun, mahkota kembali dipindahkan ke museum pada tahun 1970an.Maka sejak 1912, kesultanan Tidore nyaris tinggal sejarah. Kesultan Tidore sendiri kini dipimpin Djafar Sjah yang sempat menjabat sebagai anggota DPD-RI periode 2004-2009 lalu.Terpilihnya Rabu, karena dipercaya hari itu merupakan Razal atau harinya para lelaki. &amp;ldquo;Dini hari menunjukan adanya kewibawaan darfi seorang pemimpin. Tapi semua itu tak terlepas dari hasil ibadah yang dilakukan dalam kamar puji,&amp;rdquo; jelas Amin Sarur, seorang pejabat yang sehari-hari adalah sekretaris adat kesultanan.(ton)</content:encoded></item></channel></rss>
