<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Akibat Lumpuh, Madih pun Kehilangan Anaknya</title><description>Marbot yang telah mengabdikan hidupnya selama bertahun-tahun itu terpaksa memberikan putri satu-satunya itu ke orang lain, agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik.</description><link>https://news.okezone.com/read/2010/05/28/338/337199/akibat-lumpuh-madih-pun-kehilangan-anaknya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2010/05/28/338/337199/akibat-lumpuh-madih-pun-kehilangan-anaknya"/><item><title>Akibat Lumpuh, Madih pun Kehilangan Anaknya</title><link>https://news.okezone.com/read/2010/05/28/338/337199/akibat-lumpuh-madih-pun-kehilangan-anaknya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2010/05/28/338/337199/akibat-lumpuh-madih-pun-kehilangan-anaknya</guid><pubDate>Jum'at 28 Mei 2010 11:16 WIB</pubDate><dc:creator>Marieska Harya Virdhani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2010/05/28/338/337199/ijImQjiKtk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Madih tengah terbaring di gubug deritanya (Foto: Marieska/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2010/05/28/338/337199/ijImQjiKtk.jpg</image><title>Madih tengah terbaring di gubug deritanya (Foto: Marieska/Okezone)</title></images><description>DEPOK- Desakan kebutuhan ekonomi yang bertubi-tubi setelah menderita kelumpuhan, memaksa Madih (75), penjaga Masjid Al Ishlah, harus merelakan buah hatinya, Atika, pergi.Marbot yang telah mengabdikan hidupnya selama bertahun-tahun itu terpaksa memberikan putri satu-satunya itu ke orang lain, agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik.&amp;ldquo;Anak saya sudah diadopsi orang lain, dan hanya sekali mengunjungi saya sejak tahu saya sakit,&amp;rdquo; ujarnya di Depok, Jumat (28/5/2010).Kini, Madih tinggal sendirian di sebuah gubug berukuran 2 x 3 meter dan terbuat dari bilik bambu. Madih hanya berbaring sepanjang hari, bahkan untuk duduk pun dia mengaku kesulitan.Untuk membantunya berpakaian, makan, hingga buang air, Madih dibantu oleh istrinya, Emak Min (65). Perempuan tua itu tinggal di rumah anak tirinya, Nyai, di depan gubuk Madih.Madih menuturkan, gubuk tersebut dibuat lantaran rumah Nyai terlalu sempit dan penghuninya cukup banyak. Nyai sendiri memiliki empat anak. &amp;ldquo;Sekarang saya diurusi Nyai yang sudah saya anggap sebagai anak sendiri,&amp;rdquo; tandasnya.</description><content:encoded>DEPOK- Desakan kebutuhan ekonomi yang bertubi-tubi setelah menderita kelumpuhan, memaksa Madih (75), penjaga Masjid Al Ishlah, harus merelakan buah hatinya, Atika, pergi.Marbot yang telah mengabdikan hidupnya selama bertahun-tahun itu terpaksa memberikan putri satu-satunya itu ke orang lain, agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik.&amp;ldquo;Anak saya sudah diadopsi orang lain, dan hanya sekali mengunjungi saya sejak tahu saya sakit,&amp;rdquo; ujarnya di Depok, Jumat (28/5/2010).Kini, Madih tinggal sendirian di sebuah gubug berukuran 2 x 3 meter dan terbuat dari bilik bambu. Madih hanya berbaring sepanjang hari, bahkan untuk duduk pun dia mengaku kesulitan.Untuk membantunya berpakaian, makan, hingga buang air, Madih dibantu oleh istrinya, Emak Min (65). Perempuan tua itu tinggal di rumah anak tirinya, Nyai, di depan gubuk Madih.Madih menuturkan, gubuk tersebut dibuat lantaran rumah Nyai terlalu sempit dan penghuninya cukup banyak. Nyai sendiri memiliki empat anak. &amp;ldquo;Sekarang saya diurusi Nyai yang sudah saya anggap sebagai anak sendiri,&amp;rdquo; tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
