<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ganyang Malaysia, Hancurkan Pondasi Politik LN</title><description>Memanasnya hubungan antara Indonesia-Malaysia beberapa hari belakangan, dinilai menjadi awal perang terbuka antara dua negeri serumpun ini. Apakah perang menjadi jalan keluar?</description><link>https://news.okezone.com/read/2010/08/30/337/368293/ganyang-malaysia-hancurkan-pondasi-politik-ln</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2010/08/30/337/368293/ganyang-malaysia-hancurkan-pondasi-politik-ln"/><item><title>Ganyang Malaysia, Hancurkan Pondasi Politik LN</title><link>https://news.okezone.com/read/2010/08/30/337/368293/ganyang-malaysia-hancurkan-pondasi-politik-ln</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2010/08/30/337/368293/ganyang-malaysia-hancurkan-pondasi-politik-ln</guid><pubDate>Senin 30 Agustus 2010 20:23 WIB</pubDate><dc:creator>Rheza Andhika Pamungkas</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2010/08/30/337/368293/TLy8MNgFRF.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2010/08/30/337/368293/TLy8MNgFRF.jpg</image><title></title></images><description>JAKARTA - Memanasnya hubungan antara Indonesia-Malaysia beberapa hari belakangan, dinilai menjadi awal perang terbuka antara dua negeri serumpun ini. Apakah perang menjadi jalan keluar?Beberapa pihak menganggap jalan pemutusan hubungan atau perang dalam menyelesaikan insiden perbatasan dengan Malaysia sebagai satu-satunya jalan, namun tidak sedikit yang menganjurkan agar Indonesia menempuh jalur hubungan diplomatis.Menurut Guru besar politik Universitas Indonesia (UI) dan Research Executive Center For Information &amp;amp; Development Studies (CIDES) Zainuddin Djafar, jika Indonesia memilih perang, berarti telah menghancurkan sendiri fondasi politik luar negeri RI yang sudah dibangun sejak 40 tahun silam.&quot;Karena itu, sikap maupun ketegasan RI harus memperkuat argumen letak lokasi garis perbatasan yang menjadi pengakuan kita,&quot;  ungkapnya di sela acara Paparan Ekonomi Politik CIDES di Hotel Ambara Jakarta, Senin (30/8/2010).Sehingga, lanjut dia, setiap insiden tidak bisa dibiarkan namun harus diperjuangkan hal-hal apa yang menjadi hak Indonesia.&quot;Kedua, kita harus siap mempunyai satu komando dan otoritas yang jelas, misalnya siapa komandannya dan tindakan apa yang harus dilakukan di wilayah perbatasan atas setiap insiden,&quot; tambahnya.Dia menambahkan, langkah berikutnya, soal Tenaga Kerja Indonesia (TKI), investasi dan lain-lain yang membuat Malaysia lebih superior dari kita, tidak bisa menjadi pertimbangan yang membuat kita lemah menghadapi Malaysia.&quot;Dan terakhir, pre-kondisi internal dan perlunya identitas polugri RI perlu terus mendapat perhatian, karena pemerintah Malaysia dan kaum Melayu umumnya sudah berubah, dan bukan berarti kita negotiating with the enemy (tidak punya itikad baik), tapi mereka lebih siap dan tidak mau lagi dipandang sebelah mata,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Memanasnya hubungan antara Indonesia-Malaysia beberapa hari belakangan, dinilai menjadi awal perang terbuka antara dua negeri serumpun ini. Apakah perang menjadi jalan keluar?Beberapa pihak menganggap jalan pemutusan hubungan atau perang dalam menyelesaikan insiden perbatasan dengan Malaysia sebagai satu-satunya jalan, namun tidak sedikit yang menganjurkan agar Indonesia menempuh jalur hubungan diplomatis.Menurut Guru besar politik Universitas Indonesia (UI) dan Research Executive Center For Information &amp;amp; Development Studies (CIDES) Zainuddin Djafar, jika Indonesia memilih perang, berarti telah menghancurkan sendiri fondasi politik luar negeri RI yang sudah dibangun sejak 40 tahun silam.&quot;Karena itu, sikap maupun ketegasan RI harus memperkuat argumen letak lokasi garis perbatasan yang menjadi pengakuan kita,&quot;  ungkapnya di sela acara Paparan Ekonomi Politik CIDES di Hotel Ambara Jakarta, Senin (30/8/2010).Sehingga, lanjut dia, setiap insiden tidak bisa dibiarkan namun harus diperjuangkan hal-hal apa yang menjadi hak Indonesia.&quot;Kedua, kita harus siap mempunyai satu komando dan otoritas yang jelas, misalnya siapa komandannya dan tindakan apa yang harus dilakukan di wilayah perbatasan atas setiap insiden,&quot; tambahnya.Dia menambahkan, langkah berikutnya, soal Tenaga Kerja Indonesia (TKI), investasi dan lain-lain yang membuat Malaysia lebih superior dari kita, tidak bisa menjadi pertimbangan yang membuat kita lemah menghadapi Malaysia.&quot;Dan terakhir, pre-kondisi internal dan perlunya identitas polugri RI perlu terus mendapat perhatian, karena pemerintah Malaysia dan kaum Melayu umumnya sudah berubah, dan bukan berarti kita negotiating with the enemy (tidak punya itikad baik), tapi mereka lebih siap dan tidak mau lagi dipandang sebelah mata,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
