<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Warga Malaysia Lebih Santai Sikapi Konflik</title><description>Perang urat syaraf saat ini tengah melanda negeri serumpun yakni  Indonesia dan Malaysia. Sekalipun hal seperti ini kerap terjadi, namun  disinyalir konflik kali ini telah mencapai puncaknya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2010/09/01/337/368958/warga-malaysia-lebih-santai-sikapi-konflik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2010/09/01/337/368958/warga-malaysia-lebih-santai-sikapi-konflik"/><item><title>Warga Malaysia Lebih Santai Sikapi Konflik</title><link>https://news.okezone.com/read/2010/09/01/337/368958/warga-malaysia-lebih-santai-sikapi-konflik</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2010/09/01/337/368958/warga-malaysia-lebih-santai-sikapi-konflik</guid><pubDate>Rabu 01 September 2010 12:54 WIB</pubDate><dc:creator>TB Ardi Januar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2010/09/01/337/368958/yREQ2kFJwx.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dokumentasi Seputar Indonesia</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2010/09/01/337/368958/yREQ2kFJwx.jpg</image><title>Dokumentasi Seputar Indonesia</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Perang urat syaraf saat ini tengah melanda negeri serumpun yakni Indonesia dan Malaysia. Sekalipun hal seperti ini kerap terjadi, namun disinyalir konflik kali ini telah mencapai puncaknya.
&amp;nbsp;
Hampir setiap hari, pemberitaan seputar polemik Indonesia-Malaysia menjadi berita utama di media massa. Bahkan, aksi demonstrasi mengecam Malaysia juga terus dilakukan dengan aksi yang beragam. Mulai dari aksi damai hingga melempar (maaf) tinja.
&amp;nbsp;
Pengamat Hubungan Internasional Syamsul Hadi mengatakan, selama ini rakyat Indonesia lebih reaktif ketimbang warga Malaysia. Hal tersebut nampak dari gelombang demonstrasi yang terus terjadi di Kantor Dubes Malaysia.
&amp;nbsp;
Sebaliknya, di Malaysia, mayoritas warganya justru terbilang adem ayem menyikapi persoalan ini. Bahkan, Kantor Perwakilan Indonesia di Malaysia pun belum didatangi pendemo. Hanya pemerintah Malaysia saja yang angkat suara seputar persoalan ini.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Warga kita (Indonesia) jauh lebuh reaktif daripada warga Malaysia. Hal ini juga terjadi saat persoalan Ambalat mencuat,&amp;rdquo; kata Syamsul saat dihubungi okezone, Rabu (1/9/2010).
&amp;nbsp;
Akademisi Universitas Indonesia ini menilai, konflik Indonesia-Malaysia muncul setelah era reformasi bergulir. Seperti persoalan pemulangan TKI di Nunukan, perebutan Pulau Sipadan-Ligitan, dan persoalan Blok Ambalat. Dia mensinyalir, kesenjangan sosial menjadi pemicu konflik dua Negara tersebut.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Sewaktu zaman Soekarno Indonesia yang berjaya. Pada era Soeharto cenderung adem ayem, dan setelah reformasi justru persoalan ini menjadi lebih sensitif,&amp;rdquo; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Perang urat syaraf saat ini tengah melanda negeri serumpun yakni Indonesia dan Malaysia. Sekalipun hal seperti ini kerap terjadi, namun disinyalir konflik kali ini telah mencapai puncaknya.
&amp;nbsp;
Hampir setiap hari, pemberitaan seputar polemik Indonesia-Malaysia menjadi berita utama di media massa. Bahkan, aksi demonstrasi mengecam Malaysia juga terus dilakukan dengan aksi yang beragam. Mulai dari aksi damai hingga melempar (maaf) tinja.
&amp;nbsp;
Pengamat Hubungan Internasional Syamsul Hadi mengatakan, selama ini rakyat Indonesia lebih reaktif ketimbang warga Malaysia. Hal tersebut nampak dari gelombang demonstrasi yang terus terjadi di Kantor Dubes Malaysia.
&amp;nbsp;
Sebaliknya, di Malaysia, mayoritas warganya justru terbilang adem ayem menyikapi persoalan ini. Bahkan, Kantor Perwakilan Indonesia di Malaysia pun belum didatangi pendemo. Hanya pemerintah Malaysia saja yang angkat suara seputar persoalan ini.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Warga kita (Indonesia) jauh lebuh reaktif daripada warga Malaysia. Hal ini juga terjadi saat persoalan Ambalat mencuat,&amp;rdquo; kata Syamsul saat dihubungi okezone, Rabu (1/9/2010).
&amp;nbsp;
Akademisi Universitas Indonesia ini menilai, konflik Indonesia-Malaysia muncul setelah era reformasi bergulir. Seperti persoalan pemulangan TKI di Nunukan, perebutan Pulau Sipadan-Ligitan, dan persoalan Blok Ambalat. Dia mensinyalir, kesenjangan sosial menjadi pemicu konflik dua Negara tersebut.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Sewaktu zaman Soekarno Indonesia yang berjaya. Pada era Soeharto cenderung adem ayem, dan setelah reformasi justru persoalan ini menjadi lebih sensitif,&amp;rdquo; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
