<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Wow! Kecepatan Tsunami di Mentawai 800 Km/Jam</title><description>Sebanyak sembilan ahli gempa dari Univesitas Tokyo dan Hokaido,  Jepang, dibantu LIPI melakukan penelitian di Kepulauan Mentawai  pasca-gelombang tsunami yang menewaskan ratusan orang.</description><link>https://news.okezone.com/read/2010/11/10/340/391798/wow-kecepatan-tsunami-di-mentawai-800-km-jam</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2010/11/10/340/391798/wow-kecepatan-tsunami-di-mentawai-800-km-jam"/><item><title>Wow! Kecepatan Tsunami di Mentawai 800 Km/Jam</title><link>https://news.okezone.com/read/2010/11/10/340/391798/wow-kecepatan-tsunami-di-mentawai-800-km-jam</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2010/11/10/340/391798/wow-kecepatan-tsunami-di-mentawai-800-km-jam</guid><pubDate>Rabu 10 November 2010 11:55 WIB</pubDate><dc:creator>Rus Akbar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2010/11/10/340/391798/Jp7d3zgH9P.jpg" expression="full" type="image/jpeg">azaxs.net</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2010/11/10/340/391798/Jp7d3zgH9P.jpg</image><title>azaxs.net</title></images><description>PADANG &amp;ndash; Sebanyak sembilan ahli gempa dari Univesitas Tokyo dan Hokaido, Jepang, dibantu LIPI melakukan penelitian di Kepulauan Mentawai pasca-gelombang tsunami yang menewaskan ratusan orang.
&amp;nbsp;
Hasilnya cukup mengejutkan, tsunami yang terjadi di Kepulauan Mentawai memiliki kecepatan 800 kilometer per jam. Yang lebih menyeramkan, jeda waktu saat gempa bumi ke gelombang tsunami hanya berkisar tujuh menit.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Kami sudah melakukan penelitian. Gelombang tsunami memiliki kecepatan 800 kilometer perjam, dan setelah sampai darat mencapai 40 kilometer per jam. Gelombang tsunami ini menghantam daratan hingga 250 meter,&amp;rdquo; ujar Peneliti LIPI, Eko Yulianto, kepada wartawan di Padang, Rabu (10/11/2010).
&amp;nbsp;
Menurutnya, early warning system tidak pantas untuk diterapkan di Kepulauan Mentawai. Sebab, alat tersebut baru mendeteksi tsunami setelah 15 menit bencana gempa. Sedangkan di Mentawai, jeda dari gempa ke tsunami hanya berjarak tujuh menit saja.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Saya peringatkan kepada warga mentawai, jika terjadi gempa sebaiknya langsung lari ke bukit. Kalau menyempatkan diri melihat ombak, akan berpotensi tidak selamat,&amp;rdquo; tandasnya.
&amp;nbsp;
Karena itu, pihaknya akan membuat alat alarm yang akan berbunyi bila bergetar. &amp;ldquo;Jadi, saat gempa alat itu akan bunyi, dan manyarakat sebaiknya langsung menyelamatkan diri ke bukit,&amp;rdquo; pungkasnya.
&amp;nbsp;</description><content:encoded>PADANG &amp;ndash; Sebanyak sembilan ahli gempa dari Univesitas Tokyo dan Hokaido, Jepang, dibantu LIPI melakukan penelitian di Kepulauan Mentawai pasca-gelombang tsunami yang menewaskan ratusan orang.
&amp;nbsp;
Hasilnya cukup mengejutkan, tsunami yang terjadi di Kepulauan Mentawai memiliki kecepatan 800 kilometer per jam. Yang lebih menyeramkan, jeda waktu saat gempa bumi ke gelombang tsunami hanya berkisar tujuh menit.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Kami sudah melakukan penelitian. Gelombang tsunami memiliki kecepatan 800 kilometer perjam, dan setelah sampai darat mencapai 40 kilometer per jam. Gelombang tsunami ini menghantam daratan hingga 250 meter,&amp;rdquo; ujar Peneliti LIPI, Eko Yulianto, kepada wartawan di Padang, Rabu (10/11/2010).
&amp;nbsp;
Menurutnya, early warning system tidak pantas untuk diterapkan di Kepulauan Mentawai. Sebab, alat tersebut baru mendeteksi tsunami setelah 15 menit bencana gempa. Sedangkan di Mentawai, jeda dari gempa ke tsunami hanya berjarak tujuh menit saja.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Saya peringatkan kepada warga mentawai, jika terjadi gempa sebaiknya langsung lari ke bukit. Kalau menyempatkan diri melihat ombak, akan berpotensi tidak selamat,&amp;rdquo; tandasnya.
&amp;nbsp;
Karena itu, pihaknya akan membuat alat alarm yang akan berbunyi bila bergetar. &amp;ldquo;Jadi, saat gempa alat itu akan bunyi, dan manyarakat sebaiknya langsung menyelamatkan diri ke bukit,&amp;rdquo; pungkasnya.
&amp;nbsp;</content:encoded></item></channel></rss>
