<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>&quot;Saya Ikhlas Adik Saya Dikubur Masal&quot;</title><description>Aktivitas Gunung Merapi menunjukan penurunan sejak beberapa hari  belakangan. Namun duka masih menyelimuti keluarga korban amukan salah  satu gunung teraktif di dunia itu.</description><link>https://news.okezone.com/read/2010/11/19/340/394677/saya-ikhlas-adik-saya-dikubur-masal</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2010/11/19/340/394677/saya-ikhlas-adik-saya-dikubur-masal"/><item><title>&quot;Saya Ikhlas Adik Saya Dikubur Masal&quot;</title><link>https://news.okezone.com/read/2010/11/19/340/394677/saya-ikhlas-adik-saya-dikubur-masal</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2010/11/19/340/394677/saya-ikhlas-adik-saya-dikubur-masal</guid><pubDate>Jum'at 19 November 2010 05:01 WIB</pubDate><dc:creator>Adam Prawira</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2010/11/19/340/394677/6E7iDfmonD.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Koran SI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2010/11/19/340/394677/6E7iDfmonD.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Koran SI)</title></images><description>SLEMAN- Aktivitas Gunung Merapi menunjukan penurunan sejak beberapa hari belakangan. Namun duka masih menyelimuti keluarga korban amukan salah satu gunung teraktif di dunia itu.Bukan hanya bagi keluarga korban tewas yang identitasnya sudah dikenali, tapi juga yang belum dikenali. Adapun Parmo (43), warga Dusun Ngepringan, Wukirsari, Cangkringan, Sleman, yang sudah dua pekan lalu tidak bertemu Suparmi, adiknya, sejak Merapi mengamuk pada 5 November 2010 lalu.Kemarin, dia melihat jasad yang sudah menjadi tulang belulang di rumah yang ditempati Suparmi. Tulang belulang itu kali ditemukan Tim SAR saat mengevakuasi kampungnya, pagi kemarin.Kendati belum ada uji forensik yan mengidentifikasi tulang belulang itu, Parno merasa yakin itu jasad adiknya. &quot;Saya yakin betul kalau itu (tulang-belulang) adik saya,&quot; ujar Parmo di depan Ruang Bagian Forensik Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Sardjito, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (18/11).Dia juga yakn Suparmi dilibas awan panas atau wedhus gembel yang turun dari puncak Merapi pada malam itu. Sebab, dia menduga Suparmi tidak ikut menyelamatkan diri seperti halnya warga Ngepringan, tatkala mendengar letusan Merapi.Seingat Parmo, dirinya bersama istri dan anaknya menggunakan sepeda motor menjauh dari rumahnya. Sedangkan Suparmi, dia menduga tidak ikut turun. &quot; Saya sempat mengajak untuk meninggalkan rumah, tapi entah kenapa dia tidak mau,&quot; katanya.Situasi saat itu membuat Parmo diliputi dilema. Di satu sisi dia harus menyelamatkan keluarganya, tetapi adiknya sulit diajak pergi tanpa memberikan alasan jelas. &quot;Bagaimana ya, bingung juga. Tapi saya akhirnya memilih langsung meninggalkan rumah bersama istri dan anak saya,&quot; ujar lelaki yang sehari-hari sebagai tenaga penambang pasir itu.Dia mengakui, Suparmi tinggal bersebelahan dengannya. Suparmi yang tinggal sendiri di rumah itu memang mempunyai sedikit kelainan mental sejak memasuki usia dewasa. Sehari-hari jarang berbicara, tapi tetap bekerja bertani di sawah.Meskipun terbersit keyakinan adiknya tidak selamat, Parmo mengakui masih mengharapkan adiknya bisa lolos dari wedhus gembel. Pikiran itu terus membayangi Parmo yang menjalani kehidupan di&amp;nbsp; pengungsian Maguwoharjo. Pikirannya semakin sedih ketika melihat ibunya yang ikut mengungsi, banyak berdiam diri memikirkan nasib Suparmi.Didorong keinginan rasa penasaran untuk memperoleh kepastian nasib Suparmi, secara diam-diam Parmo kemarin memberanikan diri&amp;nbsp; berjalan menuju rumah yang ditinggali adiknya yang berjarak 12 kilometer dari puncak Gunung Merapi. Sebab, saat itu dirinya mendapatkan kabar bahwa Tim SAR melakukan evakuasi di kampungnya.Benar saja, Tim SAR menemukan tulang belulang di dalam rumah adiknya. &quot;Memang hanya tulang belulang, tapi saya yakin itu adik saya karena ditemukan di dalam rumah,&quot; tuturnya.Kalaupun hasil identifikasi benar menyatakan itu tulang belulang Suparmi, Parmo rela apabila jasad adiknya dimakamkan secara massal. Lagipula, tidak mungkin adiknya dikuburkan di dekat rumahnya. &quot;Saya ikhlas kalau adik saya dimakamkan secara massal,&quot; ungkapnya.Dia berharap, Gunung Merapi tidak kembali meletus dan&amp;nbsp; berangsur-angsur normal sehingga dirinya bersama keluarga kembali ke rumah untuk melanjutkan hidup. &quot;Saya sangat membutuhkan perhatian pemerintah, terutama kebutuhan lapangan pekerjaan,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>SLEMAN- Aktivitas Gunung Merapi menunjukan penurunan sejak beberapa hari belakangan. Namun duka masih menyelimuti keluarga korban amukan salah satu gunung teraktif di dunia itu.Bukan hanya bagi keluarga korban tewas yang identitasnya sudah dikenali, tapi juga yang belum dikenali. Adapun Parmo (43), warga Dusun Ngepringan, Wukirsari, Cangkringan, Sleman, yang sudah dua pekan lalu tidak bertemu Suparmi, adiknya, sejak Merapi mengamuk pada 5 November 2010 lalu.Kemarin, dia melihat jasad yang sudah menjadi tulang belulang di rumah yang ditempati Suparmi. Tulang belulang itu kali ditemukan Tim SAR saat mengevakuasi kampungnya, pagi kemarin.Kendati belum ada uji forensik yan mengidentifikasi tulang belulang itu, Parno merasa yakin itu jasad adiknya. &quot;Saya yakin betul kalau itu (tulang-belulang) adik saya,&quot; ujar Parmo di depan Ruang Bagian Forensik Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Sardjito, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (18/11).Dia juga yakn Suparmi dilibas awan panas atau wedhus gembel yang turun dari puncak Merapi pada malam itu. Sebab, dia menduga Suparmi tidak ikut menyelamatkan diri seperti halnya warga Ngepringan, tatkala mendengar letusan Merapi.Seingat Parmo, dirinya bersama istri dan anaknya menggunakan sepeda motor menjauh dari rumahnya. Sedangkan Suparmi, dia menduga tidak ikut turun. &quot; Saya sempat mengajak untuk meninggalkan rumah, tapi entah kenapa dia tidak mau,&quot; katanya.Situasi saat itu membuat Parmo diliputi dilema. Di satu sisi dia harus menyelamatkan keluarganya, tetapi adiknya sulit diajak pergi tanpa memberikan alasan jelas. &quot;Bagaimana ya, bingung juga. Tapi saya akhirnya memilih langsung meninggalkan rumah bersama istri dan anak saya,&quot; ujar lelaki yang sehari-hari sebagai tenaga penambang pasir itu.Dia mengakui, Suparmi tinggal bersebelahan dengannya. Suparmi yang tinggal sendiri di rumah itu memang mempunyai sedikit kelainan mental sejak memasuki usia dewasa. Sehari-hari jarang berbicara, tapi tetap bekerja bertani di sawah.Meskipun terbersit keyakinan adiknya tidak selamat, Parmo mengakui masih mengharapkan adiknya bisa lolos dari wedhus gembel. Pikiran itu terus membayangi Parmo yang menjalani kehidupan di&amp;nbsp; pengungsian Maguwoharjo. Pikirannya semakin sedih ketika melihat ibunya yang ikut mengungsi, banyak berdiam diri memikirkan nasib Suparmi.Didorong keinginan rasa penasaran untuk memperoleh kepastian nasib Suparmi, secara diam-diam Parmo kemarin memberanikan diri&amp;nbsp; berjalan menuju rumah yang ditinggali adiknya yang berjarak 12 kilometer dari puncak Gunung Merapi. Sebab, saat itu dirinya mendapatkan kabar bahwa Tim SAR melakukan evakuasi di kampungnya.Benar saja, Tim SAR menemukan tulang belulang di dalam rumah adiknya. &quot;Memang hanya tulang belulang, tapi saya yakin itu adik saya karena ditemukan di dalam rumah,&quot; tuturnya.Kalaupun hasil identifikasi benar menyatakan itu tulang belulang Suparmi, Parmo rela apabila jasad adiknya dimakamkan secara massal. Lagipula, tidak mungkin adiknya dikuburkan di dekat rumahnya. &quot;Saya ikhlas kalau adik saya dimakamkan secara massal,&quot; ungkapnya.Dia berharap, Gunung Merapi tidak kembali meletus dan&amp;nbsp; berangsur-angsur normal sehingga dirinya bersama keluarga kembali ke rumah untuk melanjutkan hidup. &quot;Saya sangat membutuhkan perhatian pemerintah, terutama kebutuhan lapangan pekerjaan,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
