<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Iklan Menteri Demi Membangun Citra Politik</title><description>Sejumlah menteri dalam beberapa pekan belakangan rajin mengiklankan diri  di sejumlah media. Pengamat Komunikasi Politik menilai pencitraan diri tersebut lebih  menguntungkan sang menteri.</description><link>https://news.okezone.com/read/2010/12/08/339/401370/iklan-menteri-demi-membangun-citra-politik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2010/12/08/339/401370/iklan-menteri-demi-membangun-citra-politik"/><item><title>Iklan Menteri Demi Membangun Citra Politik</title><link>https://news.okezone.com/read/2010/12/08/339/401370/iklan-menteri-demi-membangun-citra-politik</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2010/12/08/339/401370/iklan-menteri-demi-membangun-citra-politik</guid><pubDate>Rabu 08 Desember 2010 18:00 WIB</pubDate><dc:creator>Ririn Muthia</dc:creator><media:content url="https://e.okezone.com/error.png" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://e.okezone.com/error.png</image><title></title></images><description>JAKARTA - Sejumlah menteri dalam beberapa pekan belakangan rajin mengiklankan diri di sejumlah media. Pengamat Komunikasi Politik Universitas Atmajaya, Yogyakarta, Lukas Ispandriarno menilai pencitraan diri tersebut lebih menguntungkan sang menteri.&amp;ldquo;Banyak yang harus dijelaskan tujuan sosial dari maksud iklan tersebut, barangkali mereka melakukan itu punya maksud politik tertentu, atau demi membangun citra sosial tertentu,&amp;rdquo; kata Lukas saat dihubungi okezone di Jakarta, Rabu (8/12/2010).Dia menduga, dengan berakhirnya masa kepemimpinan pemerintahan saat ini para menteri tersebut merasa takut dicopot dari kursinya.&amp;ldquo;Jadilah mereka pamer kinerja dengan beriklan. Perlu ditelaah lebih jauh, mengenai dana atau anggaran untuk beriklan tersebut, dana dari mana? Bisa saja demi mengeruk keuntungan,&amp;rdquo; tuturnya.Lukas menambahkan, iklan yang dibangun para menteri tersebut kurang efektif. &amp;ldquo;Terutama memamerkan kinerja mereka yang tidak jelas maksud dan tujuannya, apa isi dari pesan dalam iklan tersebut,&amp;rdquo; paparnya.&amp;ldquo;Menurut saya mereka terpancing dengan bosnya (presiden) yang suka mejeng-mejeng di iklan, jadi mereka ikut-ikutan pamer kinerja. Mungkin karena mereka menganggur nggak ada kerjaan, jadi mereka seperti iseng-iseng, jadi larinya ke iklan,&amp;rdquo; lanjutnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Sejumlah menteri dalam beberapa pekan belakangan rajin mengiklankan diri di sejumlah media. Pengamat Komunikasi Politik Universitas Atmajaya, Yogyakarta, Lukas Ispandriarno menilai pencitraan diri tersebut lebih menguntungkan sang menteri.&amp;ldquo;Banyak yang harus dijelaskan tujuan sosial dari maksud iklan tersebut, barangkali mereka melakukan itu punya maksud politik tertentu, atau demi membangun citra sosial tertentu,&amp;rdquo; kata Lukas saat dihubungi okezone di Jakarta, Rabu (8/12/2010).Dia menduga, dengan berakhirnya masa kepemimpinan pemerintahan saat ini para menteri tersebut merasa takut dicopot dari kursinya.&amp;ldquo;Jadilah mereka pamer kinerja dengan beriklan. Perlu ditelaah lebih jauh, mengenai dana atau anggaran untuk beriklan tersebut, dana dari mana? Bisa saja demi mengeruk keuntungan,&amp;rdquo; tuturnya.Lukas menambahkan, iklan yang dibangun para menteri tersebut kurang efektif. &amp;ldquo;Terutama memamerkan kinerja mereka yang tidak jelas maksud dan tujuannya, apa isi dari pesan dalam iklan tersebut,&amp;rdquo; paparnya.&amp;ldquo;Menurut saya mereka terpancing dengan bosnya (presiden) yang suka mejeng-mejeng di iklan, jadi mereka ikut-ikutan pamer kinerja. Mungkin karena mereka menganggur nggak ada kerjaan, jadi mereka seperti iseng-iseng, jadi larinya ke iklan,&amp;rdquo; lanjutnya.</content:encoded></item></channel></rss>
