<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>32 Ribu Anak Indonesia Bermasalah di Malaysia</title><description>Mereka adalah anak para TKI ilegal yang mayoritas bekerja di sektor perkebunan di wilayah pedalaman Malaysia.</description><link>https://news.okezone.com/read/2010/12/24/337/406706/32-ribu-anak-indonesia-bermasalah-di-malaysia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2010/12/24/337/406706/32-ribu-anak-indonesia-bermasalah-di-malaysia"/><item><title>32 Ribu Anak Indonesia Bermasalah di Malaysia</title><link>https://news.okezone.com/read/2010/12/24/337/406706/32-ribu-anak-indonesia-bermasalah-di-malaysia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2010/12/24/337/406706/32-ribu-anak-indonesia-bermasalah-di-malaysia</guid><pubDate>Jum'at 24 Desember 2010 07:00 WIB</pubDate><dc:creator>Muhammad Saifullah </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2010/12/24/337/406706/PHEM1zy7u2.jpg" expression="full" type="image/jpeg">ILustrasi. Dua siswi SD di areal perkebunan sawit Desa Bah Kerapu, Serdang Bedagai (Foto: Koran SI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2010/12/24/337/406706/PHEM1zy7u2.jpg</image><title>ILustrasi. Dua siswi SD di areal perkebunan sawit Desa Bah Kerapu, Serdang Bedagai (Foto: Koran SI)</title></images><description>JAKARTA - Komisi Nasional Anak mengungkapkan data yang mencengangkan. Sebanyak 32 ribu anak Indonesia bermasalah di Malaysia. Mereka adalah anak para TKI ilegal yang mayoritas bekerja di sektor perkebunan di wilayah pedalaman.&amp;ldquo;Mereka tersebar di Kinabalu, Serawak, Tawau, dan beberapa daerah lain di Malaysia,&amp;rdquo; ungkap Ketua Komnas Anak Arist Merdeka Sirait kepada okezone di Jakarta, Jumat (24/12/2010). &amp;ldquo;Kami sudah merekomendasikan ke pemerintah untuk mengurus mereka tapi tak digubris.&amp;rdquo;Persoalan yang dihadapi ribuan anak Indonesia itu, kata Arist, adalah ketidakjelasan status. Sebab mereka lahir dari orangtua yang tidak memiliki legalitas pernikahan. Sehingga anak-anak malang tersebut tidak bisa dibuatkan akta lahir. Status kewarganegaan mereka pun kemudian menjadi tidak jelas.&amp;ldquo;Orantua mereka adalah TKI ilegal, lalu bertemu pasangan TKW ilegal pula. Di sana kan tidak ada KUA,&amp;rdquo; terangnya.Situasi di atas membuat anak-anak Indonesia tersebut tidak mendapatkan fasilitas pendidikan dan kesehatan memadai. Pemerintah Malaysia juga abai karena status anak-anak tersebut tidak jelas.&amp;ldquo;Sehingga mereka rentan dieksploitasi secara ekonomi, lama-kelamaan mereka bisa jadi seperti budak, tenaga kerja murah karena tak punya identitas dan tidak bisa keluar dari daerahnya,&amp;rdquo; ujarnya.Arist menyesalkan kondisi ini karena para pejabat Indonesia sudah mengetahui nasib anak-anak tersebut tapi tidak memberikan solusi konkret. Berulangkali para pejabat Indonesia berkunjung tempat para anak tersebut terlantar, namun aspirasi mereka tetap tak didengar.&amp;ldquo;Komnas sendiri sudah dua kali ke sana dan memberikan rekomendasi pemutihan akte lahir massal, tapi rekomendasi kami tak didengar. Tolong pemerintah jangan hanya menekankan pada aspek formalitas saja,&amp;rdquo; tandasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Komisi Nasional Anak mengungkapkan data yang mencengangkan. Sebanyak 32 ribu anak Indonesia bermasalah di Malaysia. Mereka adalah anak para TKI ilegal yang mayoritas bekerja di sektor perkebunan di wilayah pedalaman.&amp;ldquo;Mereka tersebar di Kinabalu, Serawak, Tawau, dan beberapa daerah lain di Malaysia,&amp;rdquo; ungkap Ketua Komnas Anak Arist Merdeka Sirait kepada okezone di Jakarta, Jumat (24/12/2010). &amp;ldquo;Kami sudah merekomendasikan ke pemerintah untuk mengurus mereka tapi tak digubris.&amp;rdquo;Persoalan yang dihadapi ribuan anak Indonesia itu, kata Arist, adalah ketidakjelasan status. Sebab mereka lahir dari orangtua yang tidak memiliki legalitas pernikahan. Sehingga anak-anak malang tersebut tidak bisa dibuatkan akta lahir. Status kewarganegaan mereka pun kemudian menjadi tidak jelas.&amp;ldquo;Orantua mereka adalah TKI ilegal, lalu bertemu pasangan TKW ilegal pula. Di sana kan tidak ada KUA,&amp;rdquo; terangnya.Situasi di atas membuat anak-anak Indonesia tersebut tidak mendapatkan fasilitas pendidikan dan kesehatan memadai. Pemerintah Malaysia juga abai karena status anak-anak tersebut tidak jelas.&amp;ldquo;Sehingga mereka rentan dieksploitasi secara ekonomi, lama-kelamaan mereka bisa jadi seperti budak, tenaga kerja murah karena tak punya identitas dan tidak bisa keluar dari daerahnya,&amp;rdquo; ujarnya.Arist menyesalkan kondisi ini karena para pejabat Indonesia sudah mengetahui nasib anak-anak tersebut tapi tidak memberikan solusi konkret. Berulangkali para pejabat Indonesia berkunjung tempat para anak tersebut terlantar, namun aspirasi mereka tetap tak didengar.&amp;ldquo;Komnas sendiri sudah dua kali ke sana dan memberikan rekomendasi pemutihan akte lahir massal, tapi rekomendasi kami tak didengar. Tolong pemerintah jangan hanya menekankan pada aspek formalitas saja,&amp;rdquo; tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
