<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Perang Korea Panaskan Dunia</title><description>Memasuki penhujung tahun 2010, kondisi Semenanjung Korea memanas dengan serangan yang dilakukan Korea Utara ke negara tetangganya Korea Selatan. Serangan ini menewaskan 4 warga Korsel dan melukai 18 lainnya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2010/12/29/18/408424/perang-korea-panaskan-dunia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2010/12/29/18/408424/perang-korea-panaskan-dunia"/><item><title>Perang Korea Panaskan Dunia</title><link>https://news.okezone.com/read/2010/12/29/18/408424/perang-korea-panaskan-dunia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2010/12/29/18/408424/perang-korea-panaskan-dunia</guid><pubDate>Rabu 29 Desember 2010 16:48 WIB</pubDate><dc:creator>Baskoro Pramadani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2010/12/29/18/408424/jyzm2qQtqE.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Serangan Korut ke Korsel (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2010/12/29/18/408424/jyzm2qQtqE.jpg</image><title>Serangan Korut ke Korsel (Foto: Reuters)</title></images><description>Situasi di semenanjung Korea seketika memanas ketika pada 23 November 2010 Korea Utara (Korut)&amp;nbsp;menembakkkan serangkaian meriam artileri ke Pulau Yeongpyeong milik Korea Selatan (Korsel).&amp;nbsp;Militer Korsel mengaku sempat membalas serangan ini sebagai bentuk pembelaan diri.&amp;nbsp;

Baku tembak di&amp;nbsp;antara dua Korea pada akhirnya menewaskan dua marinir dan dua warga sipil. Keduanya berasal dari&amp;nbsp;pihak Korsel. Selain itu, serangan tersebut juga telah menghancurkan puluhan rumah dan&amp;nbsp;menghanguskan sebagian besar lahan di pulau tersebut.

Kementerian Luar Negeri Korsel mengonfirmasi tindakan Korut tersebut. Mereka juga mengatakan&amp;nbsp;pihaknya juga sempat melakukan serangan balasah sebagai bentuk pembelaan diri.&amp;nbsp;

Menurut&amp;nbsp;juru bicara Kemenlu Korsel &amp;nbsp;sebuah unit&amp;nbsp;artileri milik Korut melakukan tindakan ilegal, yaitu penembakan yang sepertinya untuk&amp;nbsp;memprovokasi pada pukul 14.34 waktu setempat, dan prajurit Korsel balik menembak untuk membela&amp;nbsp;diri.

Insiden ini membuat pihak Kementerian Pertahanan Korsel juga menyatakan mereka akan mendiskusikan&amp;nbsp;lebih jauh kemungkinan untuk mengevakuasi sekira 300 pihak non-militer dari Pulau Yeonpyeong.&amp;nbsp;

Pihak-pihak tersebut berasal dari kalangan penduduk lokal, jurnalis serta pejabat pemerintah lain&amp;nbsp;yang masih bertahan di pulau tersebut. Khusus bagi warga lokal, keharusan mengungsi cukup&amp;nbsp;memberatkan mereka. Pasalnya, mereka harus tinggal di tempat yang kurang layak, seperti pemandian&amp;nbsp;umum, selama masa pengungsian.

Penembakan ini terjadi di tengah meningkatnya tensi antara kedua negara menyusul klaim Korut atas&amp;nbsp;fasilitas pengayaan uranium baru yang mereka miliki. Beberapa hari sebelum melakukan serangan,&amp;nbsp;Korut sempat mengundang seorang pakar teknologi asal Amerika Serikat (AS) ke fasilitas nuklir&amp;nbsp;milik mereka di Yongpyon.&amp;nbsp;

Laporan dari pakar itu sungguh mengejutkan karena Korut ternyata&amp;nbsp;memiliki pengayaan nuklir yang modern. Hal ini bertentangan dengan kesepakatan yang pernah mereka&amp;nbsp;capai di six-party talks (pembicaraan enam pihak).

Serangan tersebut sempat membuat pihak Korsel panas. Para pejabat Korsel pun sempat melakukan&amp;nbsp;rapat darurat di ruang perlindungan bawah tanah. Mereka waktu itu mengatakan dengan tegas akan&amp;nbsp;membalas segala tindak provokasi lebih jauh dari Pyongyang.&amp;nbsp;

Menteri Pertahanan Korsel ketika itu&amp;nbsp;Kim Tae-young ikut menjadi &quot;korban.&quot; Dia terpaksa mengundurkan diri setelah rakyat Korsel&amp;nbsp;memprotesnya telah bertindak terlalu lembek dalam menghadapi serangan Korsel.

Korut mengklaim serangan yang mereka lakukan hanyalah serangan balasan dari tindakan provokasi&amp;nbsp;yang dilakukan Korsel. Mereka mengatakan militer Korsel, yang pada saat insiden terjadi tengah&amp;nbsp;melakukan latihan militer, telah menembakkan sejumlah artileri ke wilayah perairan mereka. Korsel&amp;nbsp;berpendapat sebaliknya, melihat serangan Korut sebagai sebuah bentuk provokasi yang disengaja.&amp;nbsp;

Menurut mereka, serangan Korut bahkan telah direncanakan dan dipikirkan secara hati-hati&amp;nbsp;sebelumnya.

Insiden di antara dua Korea telah seringkali terjadi di daerah perbatasan tersebut. Salah satu&amp;nbsp;faktor utamanya adalah Pyongyang, yang tidak menyetujui garis demarkasi di wilayah perairan Laut&amp;nbsp;Kuning. Garis tersebut menurut mereka ditetapkan secara sepihak oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa&amp;nbsp;(PBB) setelah Perang Korea mengalami gencatan senjata pada 1953.&amp;nbsp;

Sementara itu, beberapa pihak menduga kepentingan Korut melakukan suksesi kepemimpinan -dari Kim&amp;nbsp;Jong-il ke putranya Kim Jong-un- di negaranya ikut menjadi faktor pemicu serangan.&amp;nbsp;

Pejabat tinggi&amp;nbsp;militer AS Laksamana Mike Mullen mengatakan serangan artileri Korut ke Pulau Yeonpyeong milik&amp;nbsp;Korsel terkait dengan rencana suksesi kepemimpinan di Korut.&amp;nbsp;

Sementara Korsel menilai Korut&amp;nbsp;tengah berusaha mengumandangkan kekuatan militer calon putra mahkota mereka, memperkuat kesatuan&amp;nbsp;internal, sekaligus melampiaskan ketidakpuasan terhadap pihak luar.

Beberapa saat setelah serangan Korut, AS dan Korsel menggelar latihan perang bersama dengan skala&amp;nbsp;besar. Kapal induk AS USS George Washington ikut terlibat dalam latihan militer ini.&amp;nbsp;

Latihan&amp;nbsp;bersama antara dua negara yang saling bersekutu ini dilihat sebagai ajang pertunjukkan kekuatan.&amp;nbsp;Maksudnya, agar Korut berpikir ulang jika ingin melakukan tindakan provokasi lebih jauh di&amp;nbsp;semenanjung. Latihan yang berlangsung selama lima hari ini mendapat kecaman dari pihak Korut.&amp;nbsp;

Banyak kalangan mengatakan serangan Korut ke Pulau Yeonpyeong adalah salah satu insiden terburuk&amp;nbsp;dalam hubungan di antara dua Korea sejak Perang Korea terhenti pada 1953 dengan diberlakukannya&amp;nbsp;gencatan senjata.&amp;nbsp;

Serangan tersebut mendatangkan sejumlah kecaman dari kalangan internasional,&amp;nbsp;kecuali dari China yang merupakan sekutu terdekat Korut. Walaupun begitu China tetap kedua Korea&amp;nbsp;menyelesaikan masalah secara damai.&amp;nbsp;
Terkait dengan serangan Korut, China meminta diadakannya pertemuan antara negara-negara yang&amp;nbsp;terlibat dalam six-party talks (pembicaraan enam negara).&amp;nbsp;

Permintaan tersebut disampaikan utusan&amp;nbsp;tinggi China dalam hal penanganan nuklir Wu Dawei. Dia mengatakan komunitas internasional,&amp;nbsp;khususnya negara-negara yang tergabung dalam six-party talks, harus merasa prihatin dengan&amp;nbsp;perkembangan yang terjadi (di semenanjung Korea).&amp;nbsp;
Usulan tersebut tidak mendapat sambutan baik. Korsel misalnya, menunjukkan respon yang sangat&amp;nbsp;hati-hati. Pihak Kementerian Luar Negeri Korsel mengatakan usulan China tersebut harus&amp;nbsp;dipertimbangkan dengan sangat hati-hati.&amp;nbsp;

Mereka juga memberi catatan atas sikap Korut baru-baru&amp;nbsp;ini yang melakukan unjuk kekuatan terkait dengan fasilitas pengayaan uranium modern yang mereka&amp;nbsp;miliki. Menurut Korsel, keberadaan fasilitas tersebut menunjukkan Korut tidak memiliki iktikad&amp;nbsp;baik menghentikan program nuklir mereka.
AS melakukan penolakan dengan lebih tegas. Sikap China yang menolak melakukan kecaman terhadap&amp;nbsp;serangan Korut telah cukup mengecewakan mereka. Alih-alih menyetujui usulan China, AS justru&amp;nbsp;mengajak dua negara sekutunya, Korsel dan Jepang, melakukan perundingan trilateral.&amp;nbsp;

Perundingan&amp;nbsp;tersebut berlangsung di Washington pada 6 Desember lalu. Ketiga negara berharap mereka dapat&amp;nbsp;mendorong China sebagai sekutu terdekat Korut untuk menggunakan pengaruhnya atas negara Kim&amp;nbsp;Jong-il. &amp;nbsp;
Dalam perkembangannya, Korsel telah kembali melakukan latihan militer di beberapa lokasi. Salah&amp;nbsp;satu titik latihan militer Korsel adalah Pulau Yeonpyeong. Namun mereka berjanji tidak akan&amp;nbsp;mengarahkan moncong meriamnya ke utara.

Korut sendiri sempat mengancam akan melakukan serangan&amp;nbsp;yang lebih mematikan jika Korsel tetap melanjutkan rencana latihannya. Beberapa pihak, seperti&amp;nbsp;Jepang, sempat memperingatkan Korut agar tidak menjadikan latihan militer Korsel, yang sebenarnya&amp;nbsp;telah biasa dilaksanakan sebagai alasan melakukan tindak provokasi lebih jauh.
Korut pada akhirnya memang tidak jadi melakukan serangan terhadap Korsel, walau negara rival&amp;nbsp;mereka itu tetap menggelar latihan militer. Namun sikap menahan diri Korut ini tampaknya tidak&amp;nbsp;lepas dari peran utusan informal AS untuk Korut, Bill Richardson.&amp;nbsp;

Pada saat yang bersamaan dengan&amp;nbsp;latihan militer Korsel, Richardson melakukan kunjungan ke Korut atas dasar undangan pihak&amp;nbsp;Pyongyang. Richardson mengaku dia telah meminta para petinggi di Korut untuk melakukan&amp;nbsp;pengendalian diri ekstrim terhadap Korsel dan membiarkan rencana latihan Korsel tetap berjalan.&amp;nbsp;

Klaim Richardson yang menyatakan dirinya telah meraih sedikit kemajuan atas Korut terbukti cukup&amp;nbsp;melegakan. Richardson adalah negosiator veteran AS yang terkenal cukup dekat dengan Korut.&amp;nbsp;
Kondisi di semenanjung Korea pun menjadi lebih stabil, setidaknya untuk saat ini.&amp;nbsp;</description><content:encoded>Situasi di semenanjung Korea seketika memanas ketika pada 23 November 2010 Korea Utara (Korut)&amp;nbsp;menembakkkan serangkaian meriam artileri ke Pulau Yeongpyeong milik Korea Selatan (Korsel).&amp;nbsp;Militer Korsel mengaku sempat membalas serangan ini sebagai bentuk pembelaan diri.&amp;nbsp;

Baku tembak di&amp;nbsp;antara dua Korea pada akhirnya menewaskan dua marinir dan dua warga sipil. Keduanya berasal dari&amp;nbsp;pihak Korsel. Selain itu, serangan tersebut juga telah menghancurkan puluhan rumah dan&amp;nbsp;menghanguskan sebagian besar lahan di pulau tersebut.

Kementerian Luar Negeri Korsel mengonfirmasi tindakan Korut tersebut. Mereka juga mengatakan&amp;nbsp;pihaknya juga sempat melakukan serangan balasah sebagai bentuk pembelaan diri.&amp;nbsp;

Menurut&amp;nbsp;juru bicara Kemenlu Korsel &amp;nbsp;sebuah unit&amp;nbsp;artileri milik Korut melakukan tindakan ilegal, yaitu penembakan yang sepertinya untuk&amp;nbsp;memprovokasi pada pukul 14.34 waktu setempat, dan prajurit Korsel balik menembak untuk membela&amp;nbsp;diri.

Insiden ini membuat pihak Kementerian Pertahanan Korsel juga menyatakan mereka akan mendiskusikan&amp;nbsp;lebih jauh kemungkinan untuk mengevakuasi sekira 300 pihak non-militer dari Pulau Yeonpyeong.&amp;nbsp;

Pihak-pihak tersebut berasal dari kalangan penduduk lokal, jurnalis serta pejabat pemerintah lain&amp;nbsp;yang masih bertahan di pulau tersebut. Khusus bagi warga lokal, keharusan mengungsi cukup&amp;nbsp;memberatkan mereka. Pasalnya, mereka harus tinggal di tempat yang kurang layak, seperti pemandian&amp;nbsp;umum, selama masa pengungsian.

Penembakan ini terjadi di tengah meningkatnya tensi antara kedua negara menyusul klaim Korut atas&amp;nbsp;fasilitas pengayaan uranium baru yang mereka miliki. Beberapa hari sebelum melakukan serangan,&amp;nbsp;Korut sempat mengundang seorang pakar teknologi asal Amerika Serikat (AS) ke fasilitas nuklir&amp;nbsp;milik mereka di Yongpyon.&amp;nbsp;

Laporan dari pakar itu sungguh mengejutkan karena Korut ternyata&amp;nbsp;memiliki pengayaan nuklir yang modern. Hal ini bertentangan dengan kesepakatan yang pernah mereka&amp;nbsp;capai di six-party talks (pembicaraan enam pihak).

Serangan tersebut sempat membuat pihak Korsel panas. Para pejabat Korsel pun sempat melakukan&amp;nbsp;rapat darurat di ruang perlindungan bawah tanah. Mereka waktu itu mengatakan dengan tegas akan&amp;nbsp;membalas segala tindak provokasi lebih jauh dari Pyongyang.&amp;nbsp;

Menteri Pertahanan Korsel ketika itu&amp;nbsp;Kim Tae-young ikut menjadi &quot;korban.&quot; Dia terpaksa mengundurkan diri setelah rakyat Korsel&amp;nbsp;memprotesnya telah bertindak terlalu lembek dalam menghadapi serangan Korsel.

Korut mengklaim serangan yang mereka lakukan hanyalah serangan balasan dari tindakan provokasi&amp;nbsp;yang dilakukan Korsel. Mereka mengatakan militer Korsel, yang pada saat insiden terjadi tengah&amp;nbsp;melakukan latihan militer, telah menembakkan sejumlah artileri ke wilayah perairan mereka. Korsel&amp;nbsp;berpendapat sebaliknya, melihat serangan Korut sebagai sebuah bentuk provokasi yang disengaja.&amp;nbsp;

Menurut mereka, serangan Korut bahkan telah direncanakan dan dipikirkan secara hati-hati&amp;nbsp;sebelumnya.

Insiden di antara dua Korea telah seringkali terjadi di daerah perbatasan tersebut. Salah satu&amp;nbsp;faktor utamanya adalah Pyongyang, yang tidak menyetujui garis demarkasi di wilayah perairan Laut&amp;nbsp;Kuning. Garis tersebut menurut mereka ditetapkan secara sepihak oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa&amp;nbsp;(PBB) setelah Perang Korea mengalami gencatan senjata pada 1953.&amp;nbsp;

Sementara itu, beberapa pihak menduga kepentingan Korut melakukan suksesi kepemimpinan -dari Kim&amp;nbsp;Jong-il ke putranya Kim Jong-un- di negaranya ikut menjadi faktor pemicu serangan.&amp;nbsp;

Pejabat tinggi&amp;nbsp;militer AS Laksamana Mike Mullen mengatakan serangan artileri Korut ke Pulau Yeonpyeong milik&amp;nbsp;Korsel terkait dengan rencana suksesi kepemimpinan di Korut.&amp;nbsp;

Sementara Korsel menilai Korut&amp;nbsp;tengah berusaha mengumandangkan kekuatan militer calon putra mahkota mereka, memperkuat kesatuan&amp;nbsp;internal, sekaligus melampiaskan ketidakpuasan terhadap pihak luar.

Beberapa saat setelah serangan Korut, AS dan Korsel menggelar latihan perang bersama dengan skala&amp;nbsp;besar. Kapal induk AS USS George Washington ikut terlibat dalam latihan militer ini.&amp;nbsp;

Latihan&amp;nbsp;bersama antara dua negara yang saling bersekutu ini dilihat sebagai ajang pertunjukkan kekuatan.&amp;nbsp;Maksudnya, agar Korut berpikir ulang jika ingin melakukan tindakan provokasi lebih jauh di&amp;nbsp;semenanjung. Latihan yang berlangsung selama lima hari ini mendapat kecaman dari pihak Korut.&amp;nbsp;

Banyak kalangan mengatakan serangan Korut ke Pulau Yeonpyeong adalah salah satu insiden terburuk&amp;nbsp;dalam hubungan di antara dua Korea sejak Perang Korea terhenti pada 1953 dengan diberlakukannya&amp;nbsp;gencatan senjata.&amp;nbsp;

Serangan tersebut mendatangkan sejumlah kecaman dari kalangan internasional,&amp;nbsp;kecuali dari China yang merupakan sekutu terdekat Korut. Walaupun begitu China tetap kedua Korea&amp;nbsp;menyelesaikan masalah secara damai.&amp;nbsp;
Terkait dengan serangan Korut, China meminta diadakannya pertemuan antara negara-negara yang&amp;nbsp;terlibat dalam six-party talks (pembicaraan enam negara).&amp;nbsp;

Permintaan tersebut disampaikan utusan&amp;nbsp;tinggi China dalam hal penanganan nuklir Wu Dawei. Dia mengatakan komunitas internasional,&amp;nbsp;khususnya negara-negara yang tergabung dalam six-party talks, harus merasa prihatin dengan&amp;nbsp;perkembangan yang terjadi (di semenanjung Korea).&amp;nbsp;
Usulan tersebut tidak mendapat sambutan baik. Korsel misalnya, menunjukkan respon yang sangat&amp;nbsp;hati-hati. Pihak Kementerian Luar Negeri Korsel mengatakan usulan China tersebut harus&amp;nbsp;dipertimbangkan dengan sangat hati-hati.&amp;nbsp;

Mereka juga memberi catatan atas sikap Korut baru-baru&amp;nbsp;ini yang melakukan unjuk kekuatan terkait dengan fasilitas pengayaan uranium modern yang mereka&amp;nbsp;miliki. Menurut Korsel, keberadaan fasilitas tersebut menunjukkan Korut tidak memiliki iktikad&amp;nbsp;baik menghentikan program nuklir mereka.
AS melakukan penolakan dengan lebih tegas. Sikap China yang menolak melakukan kecaman terhadap&amp;nbsp;serangan Korut telah cukup mengecewakan mereka. Alih-alih menyetujui usulan China, AS justru&amp;nbsp;mengajak dua negara sekutunya, Korsel dan Jepang, melakukan perundingan trilateral.&amp;nbsp;

Perundingan&amp;nbsp;tersebut berlangsung di Washington pada 6 Desember lalu. Ketiga negara berharap mereka dapat&amp;nbsp;mendorong China sebagai sekutu terdekat Korut untuk menggunakan pengaruhnya atas negara Kim&amp;nbsp;Jong-il. &amp;nbsp;
Dalam perkembangannya, Korsel telah kembali melakukan latihan militer di beberapa lokasi. Salah&amp;nbsp;satu titik latihan militer Korsel adalah Pulau Yeonpyeong. Namun mereka berjanji tidak akan&amp;nbsp;mengarahkan moncong meriamnya ke utara.

Korut sendiri sempat mengancam akan melakukan serangan&amp;nbsp;yang lebih mematikan jika Korsel tetap melanjutkan rencana latihannya. Beberapa pihak, seperti&amp;nbsp;Jepang, sempat memperingatkan Korut agar tidak menjadikan latihan militer Korsel, yang sebenarnya&amp;nbsp;telah biasa dilaksanakan sebagai alasan melakukan tindak provokasi lebih jauh.
Korut pada akhirnya memang tidak jadi melakukan serangan terhadap Korsel, walau negara rival&amp;nbsp;mereka itu tetap menggelar latihan militer. Namun sikap menahan diri Korut ini tampaknya tidak&amp;nbsp;lepas dari peran utusan informal AS untuk Korut, Bill Richardson.&amp;nbsp;

Pada saat yang bersamaan dengan&amp;nbsp;latihan militer Korsel, Richardson melakukan kunjungan ke Korut atas dasar undangan pihak&amp;nbsp;Pyongyang. Richardson mengaku dia telah meminta para petinggi di Korut untuk melakukan&amp;nbsp;pengendalian diri ekstrim terhadap Korsel dan membiarkan rencana latihan Korsel tetap berjalan.&amp;nbsp;

Klaim Richardson yang menyatakan dirinya telah meraih sedikit kemajuan atas Korut terbukti cukup&amp;nbsp;melegakan. Richardson adalah negosiator veteran AS yang terkenal cukup dekat dengan Korut.&amp;nbsp;
Kondisi di semenanjung Korea pun menjadi lebih stabil, setidaknya untuk saat ini.&amp;nbsp;</content:encoded></item></channel></rss>
