<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menyusu di APBD, Klub Sepakbola Rawan Politisasi</title><description>Politisasi dalam pertandingan sepakbola sepertinya sulit dipisahkan.  Pasalnya, ketergantungan klub sepakbola terhadap APBD sangat besar.</description><link>https://news.okezone.com/read/2011/01/08/337/411831/menyusu-di-apbd-klub-sepakbola-rawan-politisasi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2011/01/08/337/411831/menyusu-di-apbd-klub-sepakbola-rawan-politisasi"/><item><title>Menyusu di APBD, Klub Sepakbola Rawan Politisasi</title><link>https://news.okezone.com/read/2011/01/08/337/411831/menyusu-di-apbd-klub-sepakbola-rawan-politisasi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2011/01/08/337/411831/menyusu-di-apbd-klub-sepakbola-rawan-politisasi</guid><pubDate>Sabtu 08 Januari 2011 16:19 WIB</pubDate><dc:creator>Stefanus Yugo Hindarto</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/01/08/337/411831/KPd0PKUPv8.jpg" expression="full" type="image/jpeg">ilustrasi sepak bola (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/01/08/337/411831/KPd0PKUPv8.jpg</image><title>ilustrasi sepak bola (Foto: Ist)</title></images><description>JAKARTA - Politisasi dalam pertandingan sepakbola sepertinya sulit dipisahkan. Pasalnya, ketergantungan klub sepakbola terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sangat besar.&amp;ldquo;Karena dibiayai APBD pula, klub tidak berusaha untuk mandiri secara financial. Klub juga rawan poltisasi oleh elit politik local. Klub sepaka bola menyusu terus dengan APBD. Seharusnya kan tidak,&amp;rdquo; kata koordinator ICW Danang Widoyoko saat diskusi di Kantor ICW, Jakarta, Sabtu (8/1/2011).Berdasarkan studi yang dilakukan ICW manajemen klub sepakbola tidak memiliki keprofesionalan.&amp;ldquo;Coba lihat saja ketua umumnya dijabat oleh walikota dan manajernya anak walikota. Terlihat manajemen bukan ahli di sepakbola, sebut saja politikus, birokrasi, dan TNI yang berada di dalamnya,&amp;rdquo; paparnya.&amp;ldquo;Karena banyak jabatan ganda inilah berpotensi menimbulkana konflik kepentingan. Di banyak Negara, sepakbola sudah menjadi industri, namun di Indonesia belum seperti itu,&amp;rdquo; tuturnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Politisasi dalam pertandingan sepakbola sepertinya sulit dipisahkan. Pasalnya, ketergantungan klub sepakbola terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sangat besar.&amp;ldquo;Karena dibiayai APBD pula, klub tidak berusaha untuk mandiri secara financial. Klub juga rawan poltisasi oleh elit politik local. Klub sepaka bola menyusu terus dengan APBD. Seharusnya kan tidak,&amp;rdquo; kata koordinator ICW Danang Widoyoko saat diskusi di Kantor ICW, Jakarta, Sabtu (8/1/2011).Berdasarkan studi yang dilakukan ICW manajemen klub sepakbola tidak memiliki keprofesionalan.&amp;ldquo;Coba lihat saja ketua umumnya dijabat oleh walikota dan manajernya anak walikota. Terlihat manajemen bukan ahli di sepakbola, sebut saja politikus, birokrasi, dan TNI yang berada di dalamnya,&amp;rdquo; paparnya.&amp;ldquo;Karena banyak jabatan ganda inilah berpotensi menimbulkana konflik kepentingan. Di banyak Negara, sepakbola sudah menjadi industri, namun di Indonesia belum seperti itu,&amp;rdquo; tuturnya.</content:encoded></item></channel></rss>
