<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Budayawan: 2011, Indonesia Masuki Masa Lorong Gelap</title><description>Budayawan JJ Rizal mengaku pesimistis melangkah di 2011 terkait polemik politik yang tak kunjung usai.</description><link>https://news.okezone.com/read/2011/01/16/337/414329/budayawan-2011-indonesia-masuki-masa-lorong-gelap</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2011/01/16/337/414329/budayawan-2011-indonesia-masuki-masa-lorong-gelap"/><item><title>Budayawan: 2011, Indonesia Masuki Masa Lorong Gelap</title><link>https://news.okezone.com/read/2011/01/16/337/414329/budayawan-2011-indonesia-masuki-masa-lorong-gelap</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2011/01/16/337/414329/budayawan-2011-indonesia-masuki-masa-lorong-gelap</guid><pubDate>Minggu 16 Januari 2011 03:03 WIB</pubDate><dc:creator>Marieska Harya Virdhani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/01/15/337/414329/KmB2y0TZFa.jpg" expression="full" type="image/jpeg">(health.howstuffworks)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/01/15/337/414329/KmB2y0TZFa.jpg</image><title>(health.howstuffworks)</title></images><description>DEPOK - Budayawan JJ Rizal mengaku pesimistis melangkah di 2011 terkait polemik politik yang tak kunjung usai. Apalagi pascapengumuman 18 kebohongan pemerintah yang dirilis tokoh lintas agama beberapa waktu lalu.Rizal menganalogikan pada 2011 Indonesia tengah hidup di dalam lorong gelap yang menakutkan bersama para raksasa yang rakus dan berkuasa. Selain itu, kata Rizal, kekuasaan legislatif dan eksekutif pemerintah Indonesia sama-sama absolut.&amp;ldquo;Dengan adanya 18 kebohongan itu membuktikan tahun ini kita sudah hidup di dalam lorong gelap yang menakutkan. Kita sudah tidak punya harapan, keburukan seluruhnya. Kita sudah hidup pada kekuasaan absolut, eksekutif dan legislatif tak lagi pernah mendengar rakyat,&amp;rdquo; ujarnya saat berbincang dengan okezone, Sabtu (15/1/2011).Untuk keluar dari lorong gelap, jelas dia, Indonesia harus melahirkan sebuah gerakan nasional yang sanggup merevolusi bangsa secara besar-besaran. Rizal berharap jiwa tersebut terdapat dalam generasi dan tokoh muda.&amp;ldquo;Dulu semangat pemudalah yang membawa Indonesia keluar dari lorong gelap. Adanya pergerakan nasional, adanya Boedi Oetomo. Karena itu istilah &amp;lsquo;cahaya&amp;rsquo; sangat dipakai pada masa itu, misalnya ada surat kabar bernama Tjahaya, lalu Bung Karno dengan istilah Putra Fajar. Jadi harus ada gerakan nasional dari pemuda,&amp;rdquo; tegasnya.</description><content:encoded>DEPOK - Budayawan JJ Rizal mengaku pesimistis melangkah di 2011 terkait polemik politik yang tak kunjung usai. Apalagi pascapengumuman 18 kebohongan pemerintah yang dirilis tokoh lintas agama beberapa waktu lalu.Rizal menganalogikan pada 2011 Indonesia tengah hidup di dalam lorong gelap yang menakutkan bersama para raksasa yang rakus dan berkuasa. Selain itu, kata Rizal, kekuasaan legislatif dan eksekutif pemerintah Indonesia sama-sama absolut.&amp;ldquo;Dengan adanya 18 kebohongan itu membuktikan tahun ini kita sudah hidup di dalam lorong gelap yang menakutkan. Kita sudah tidak punya harapan, keburukan seluruhnya. Kita sudah hidup pada kekuasaan absolut, eksekutif dan legislatif tak lagi pernah mendengar rakyat,&amp;rdquo; ujarnya saat berbincang dengan okezone, Sabtu (15/1/2011).Untuk keluar dari lorong gelap, jelas dia, Indonesia harus melahirkan sebuah gerakan nasional yang sanggup merevolusi bangsa secara besar-besaran. Rizal berharap jiwa tersebut terdapat dalam generasi dan tokoh muda.&amp;ldquo;Dulu semangat pemudalah yang membawa Indonesia keluar dari lorong gelap. Adanya pergerakan nasional, adanya Boedi Oetomo. Karena itu istilah &amp;lsquo;cahaya&amp;rsquo; sangat dipakai pada masa itu, misalnya ada surat kabar bernama Tjahaya, lalu Bung Karno dengan istilah Putra Fajar. Jadi harus ada gerakan nasional dari pemuda,&amp;rdquo; tegasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
