<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Lelang Proyek Gedung Baru DPR Dipertanyakan</title><description>TII mengaku telah melakukan pengecekan perusahaan yang memenangkan manajemen konsultan perencanaan pembangunan gedung baru DPR.</description><link>https://news.okezone.com/read/2011/01/16/339/414429/lelang-proyek-gedung-baru-dpr-dipertanyakan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2011/01/16/339/414429/lelang-proyek-gedung-baru-dpr-dipertanyakan"/><item><title>Lelang Proyek Gedung Baru DPR Dipertanyakan</title><link>https://news.okezone.com/read/2011/01/16/339/414429/lelang-proyek-gedung-baru-dpr-dipertanyakan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2011/01/16/339/414429/lelang-proyek-gedung-baru-dpr-dipertanyakan</guid><pubDate>Minggu 16 Januari 2011 15:11 WIB</pubDate><dc:creator>Bagus Santosa</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/01/16/339/414429/5YazWkAhkq.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Rencana gedung baru DPR</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/01/16/339/414429/5YazWkAhkq.jpg</image><title>Rencana gedung baru DPR</title></images><description>JAKARTA - Transparency International Indonesia (TII) mengaku telah melakukan pengecekan terhadap perusahaan yang memenangkan manajemen konsultan perencanaan pembangunan gedung baru DPR.
&amp;nbsp;
Perusahaan tersebut adalah PT Yodya Karya, yakni salah satu BUMN yang bergerak di bidang Layanan Jasa Konstruksi dan di bawah kendali Kementerian PU.
&amp;nbsp;
Menurut peneliti TII, Heni Yulianto, hal ini tetap harus dipertanyakan kepada pihak DPR.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Kita harus tanyakan DPR mengenai proses lelang dan dengan siapa, di profilnya (Yodya Karya) adalah BUMN di bawah PU. Ini yang mesti kita cek apakah ada keterlibatan,&amp;rdquo; katanya di Kantor Transparansi Internasional Indonesia (TII), Kawasan Blok S, Jakarta Selatan, Minggu (16/1/2011).
&amp;nbsp;
Heni menambahkan, dia menduga terjadi conflict of interest di sana. Untuk itu, dia mengimbau mengenai persoalan sejauh mana akuntabilitas untuk proses lelang harus disampaikan pada unsur lelang.
&amp;nbsp;
Lebih lanjut Heni memaparkan juga menyoroti nilai total proyek tersebut yang tidak jelas dan bahkan berbeda-beda. &amp;ldquo;Ada yang bilang 1,2 (triliun), 1,1 (triliun), 1,3 (triliun), 1,8 (triliun), angkanya berubah-ubah. Sebenarnya berapa angka realnya? Itu yang harus disampaikan ke publik,&amp;rdquo; tuturnya.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Saya rasa KPK harus periksa. Kalau dengan BPK, jangan terlalu berharaplah,&amp;rdquo; tutupnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Transparency International Indonesia (TII) mengaku telah melakukan pengecekan terhadap perusahaan yang memenangkan manajemen konsultan perencanaan pembangunan gedung baru DPR.
&amp;nbsp;
Perusahaan tersebut adalah PT Yodya Karya, yakni salah satu BUMN yang bergerak di bidang Layanan Jasa Konstruksi dan di bawah kendali Kementerian PU.
&amp;nbsp;
Menurut peneliti TII, Heni Yulianto, hal ini tetap harus dipertanyakan kepada pihak DPR.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Kita harus tanyakan DPR mengenai proses lelang dan dengan siapa, di profilnya (Yodya Karya) adalah BUMN di bawah PU. Ini yang mesti kita cek apakah ada keterlibatan,&amp;rdquo; katanya di Kantor Transparansi Internasional Indonesia (TII), Kawasan Blok S, Jakarta Selatan, Minggu (16/1/2011).
&amp;nbsp;
Heni menambahkan, dia menduga terjadi conflict of interest di sana. Untuk itu, dia mengimbau mengenai persoalan sejauh mana akuntabilitas untuk proses lelang harus disampaikan pada unsur lelang.
&amp;nbsp;
Lebih lanjut Heni memaparkan juga menyoroti nilai total proyek tersebut yang tidak jelas dan bahkan berbeda-beda. &amp;ldquo;Ada yang bilang 1,2 (triliun), 1,1 (triliun), 1,3 (triliun), 1,8 (triliun), angkanya berubah-ubah. Sebenarnya berapa angka realnya? Itu yang harus disampaikan ke publik,&amp;rdquo; tuturnya.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Saya rasa KPK harus periksa. Kalau dengan BPK, jangan terlalu berharaplah,&amp;rdquo; tutupnya.</content:encoded></item></channel></rss>
