<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Lagu Gayus, Kritik ke Pemerintah Semakin Unik</title><description>Lambannya penanganan proses hukum kasus korupsi menjadi alasan semakin banyak orang mengekspresikan bentuk kekecewaan terhadap Pemerintah.</description><link>https://news.okezone.com/read/2011/01/16/340/414360/lagu-gayus-kritik-ke-pemerintah-semakin-unik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2011/01/16/340/414360/lagu-gayus-kritik-ke-pemerintah-semakin-unik"/><item><title>Lagu Gayus, Kritik ke Pemerintah Semakin Unik</title><link>https://news.okezone.com/read/2011/01/16/340/414360/lagu-gayus-kritik-ke-pemerintah-semakin-unik</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2011/01/16/340/414360/lagu-gayus-kritik-ke-pemerintah-semakin-unik</guid><pubDate>Minggu 16 Januari 2011 09:03 WIB</pubDate><dc:creator>Anton Suhartono</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/01/16/340/414360/Df3rvd3kQc.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bone Paputungan (Dok: Youtube)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/01/16/340/414360/Df3rvd3kQc.jpg</image><title>Bone Paputungan (Dok: Youtube)</title></images><description>JAKARTA - Lambannya penanganan kasus korupsi menjadi alasan semakin banyak orang mengekspresikan bentuk kekecewaan terhadap Pemerintah dalam ragam yang unik.Pernyataan tersebut disampaikan anggota Komisi III DPR Bambang Soesatyo mengomentari video klip pria asal Gorontalo Bone Patupungan yang menggambarkan parodi kasus Gayus Tambunan.&amp;ldquo;Karena masyarakat sudah semakin frustasi dan tidak tahu lagi bagaimana dan dengan cara apa membuat Pemerintah bisa satu kata dalam sikap dan perkataan,&amp;rdquo; ungkap Bambang kepada okezone, Minggu (16/1/2011).Politisi dari Fraksi Partai Golkar ini mengaku bisa memahami jika akan banyak lagi masyarakat yang menggunakan cara-cara kreatif untuk melakukan protes.&amp;ldquo;Ini ekspresi untuk menunjukkan bahwa kekuasaan itu memabukkan, bisa membuat buta dan tuli untuk melihat persoalan yang ada. Belum lagi Pemerintah selalu membuat alasan untuk berkelit,&amp;rdquo; jelas Bambang.Dia menegaskan, apa yang dilakukan Bone seharusnya menjadi pelajaran berharga agar Pemerintah lebih introspeksi. Masyarakat sudah sangat cerdas untuk menilai bagaimana aparatur hukum bekerja menangani kasus.&amp;ldquo;Berbagai alasan yang tidak masuk akal akan dilemparkan Pemerintah. Masyarakat sudah lebih maju sekarang. Saat ini sudah zaman reformasi dan informasi. Semua media bisa saja digunakan. Sekarang era kebebasan informasi sehingga rekayasa yang kerap kali menggelikan tetap dikemukan, ini tidak masuk akal,&amp;rdquo; cetusnya.Sosok Gayus Halomoan Tambunan tersangka mafia pajak menjadi inspirasi bagi Bone untuk diabadikan dalam lirik lagunya. Mantan narapidana asal Gorontalo, Sulawesi Utara tersebut membuat video klip yang diunggah di situs Youtube pada Jumat, 14 Januari lalu.Hingga Minggu pagi pukul 09.00 WIB, video berdurasi 4.47 menit itu telah dilihat sebanyak 61.705 kali.</description><content:encoded>JAKARTA - Lambannya penanganan kasus korupsi menjadi alasan semakin banyak orang mengekspresikan bentuk kekecewaan terhadap Pemerintah dalam ragam yang unik.Pernyataan tersebut disampaikan anggota Komisi III DPR Bambang Soesatyo mengomentari video klip pria asal Gorontalo Bone Patupungan yang menggambarkan parodi kasus Gayus Tambunan.&amp;ldquo;Karena masyarakat sudah semakin frustasi dan tidak tahu lagi bagaimana dan dengan cara apa membuat Pemerintah bisa satu kata dalam sikap dan perkataan,&amp;rdquo; ungkap Bambang kepada okezone, Minggu (16/1/2011).Politisi dari Fraksi Partai Golkar ini mengaku bisa memahami jika akan banyak lagi masyarakat yang menggunakan cara-cara kreatif untuk melakukan protes.&amp;ldquo;Ini ekspresi untuk menunjukkan bahwa kekuasaan itu memabukkan, bisa membuat buta dan tuli untuk melihat persoalan yang ada. Belum lagi Pemerintah selalu membuat alasan untuk berkelit,&amp;rdquo; jelas Bambang.Dia menegaskan, apa yang dilakukan Bone seharusnya menjadi pelajaran berharga agar Pemerintah lebih introspeksi. Masyarakat sudah sangat cerdas untuk menilai bagaimana aparatur hukum bekerja menangani kasus.&amp;ldquo;Berbagai alasan yang tidak masuk akal akan dilemparkan Pemerintah. Masyarakat sudah lebih maju sekarang. Saat ini sudah zaman reformasi dan informasi. Semua media bisa saja digunakan. Sekarang era kebebasan informasi sehingga rekayasa yang kerap kali menggelikan tetap dikemukan, ini tidak masuk akal,&amp;rdquo; cetusnya.Sosok Gayus Halomoan Tambunan tersangka mafia pajak menjadi inspirasi bagi Bone untuk diabadikan dalam lirik lagunya. Mantan narapidana asal Gorontalo, Sulawesi Utara tersebut membuat video klip yang diunggah di situs Youtube pada Jumat, 14 Januari lalu.Hingga Minggu pagi pukul 09.00 WIB, video berdurasi 4.47 menit itu telah dilihat sebanyak 61.705 kali.</content:encoded></item></channel></rss>
