<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ditinggal Rinra, Gubernur Syahrul pun Histeris</title><description>Jabatan tertinggi di sebuah provinsi bukan jaminan seseorang tidak akan dapat menyembunyikan kesedihannya. Gubernur juga manusia.</description><link>https://news.okezone.com/read/2011/02/01/340/420070/ditinggal-rinra-gubernur-syahrul-pun-histeris</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2011/02/01/340/420070/ditinggal-rinra-gubernur-syahrul-pun-histeris"/><item><title>Ditinggal Rinra, Gubernur Syahrul pun Histeris</title><link>https://news.okezone.com/read/2011/02/01/340/420070/ditinggal-rinra-gubernur-syahrul-pun-histeris</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2011/02/01/340/420070/ditinggal-rinra-gubernur-syahrul-pun-histeris</guid><pubDate>Selasa 01 Februari 2011 08:26 WIB</pubDate><dc:creator>Andi Aisyah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/02/01/340/420070/vdssOWslHH.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Rindra Sujiwa Syahrul Putra (Foto: okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/02/01/340/420070/vdssOWslHH.jpg</image><title>Rindra Sujiwa Syahrul Putra (Foto: okezone)</title></images><description>MAKASSAR - Jabatan tertinggi di sebuah provinsi bukan jaminan seseorang tidak akan dapat menyembunyikan kesedihannya. Walau sempat mengaku tabah mendengar kematian putranya, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo tumbang juga.Senin (31/1/2011) malam, sesaat setelah upacara serah terima dari pihak Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) yang diwakili Direktur Pengembangan Daerah Kementerian Dalam Negeri Syamsul Arief Bulu, Syahrul meneriakkan histerianya.Saat peti jenazah yang dipanggul delapan praja IPDN Kampus Makassar tiba di ruang tengah dibuka, Syahrul berteriak keras hingga tiga kali. Teriakan itu membahana di seluruh penjuru rumah peninggalan penjajahan Belanda yang difungsikan menjadi rumah jabatan gubernur itu.Sejak menerima kabar kematian putra kedua dari tiga anaknya itu, Syahrul memang sudah terlihat sedih. Matanya bengkak karena sembab oleh air mata sejak pagi hingga malam hari.Sesekali air mata menetes dari pipinya yang dihapus sembunyi-sembunyi. &amp;ldquo;Rinra itu harapan Bapak (Syahrul) guna melanjutkan tradisi pamong dalam keluarga,&amp;rdquo; ujar Devo salah seorang kerabat dekat, semalam.Tak hanya Syahrul, Ibunda Rinra, Ayunsri Harahap yang akrab disapa Uli pun terlihat sangat berduka. Sejak Senin pagi hingga siang, beberapa kali Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Sulsel itu dibawa masuk ke kamar pribadinya.&amp;ldquo;Ibu tak kuat menerima kabar kematian Rinra, mereka berdua sangat dekat,&amp;rdquo; tutur seorang kerabat yang tak mau disebutkan namanya.Rinra Sujiwa Syahrul Putra adalah putra ketiga pasangan Syahrul Yasin Limpo dan Ayunsri Harahap. Lelaki kelahiran Makassar 23 Oktober 1988 itu menjadi salah satu Siswa IPDN di Jatinangor, Sumedang, sejak 2007.Rinra ditemukan tak berdaya kemarin di kamar kosnya pada Subuh sekira pukul 05.00. Keterangan Andi Darussalam Tabussala, paman Rinra kepada wartawan menyebutkan, Rinra meninggal dunia dalam perjalanan dari kamar kosnya ke Rumah Sakit.Berbagai spekulasi sempat timbul karena kematian mendadak itu. Terbersit cerita kematiannya disebabkan kekerasan fisik atau overdosis.&amp;ldquo;Rinra itu sakit maag akut. Dia sudah sering buang air besar sejak meninggalkan Makassar akhir pekan lalu. Bahkan Bapaknya sempat melarangnya kembali ke kampus karena khawatir,&amp;rdquo; jelas Irman Yasin Limpo, paman Rindra yang lain.Irman menolak jenazah Rinra diautposi maupun visum di Bandung. Keluarga besarnya menginginkan melihat Rindra utuh tiba di Makassar tanpa sentuhan pihak lain.&amp;ldquo;Kalaupun harus divisum atau autopsi, itu dilakukan di Makassar. Tapi Kami mau melihat langsung kondisi Rinra terlebih dahulu,&amp;ldquo; ucap Kepala Badan Promosi Penanaman Modal Daerah Sulsel tersebut.Hingga Selasa (1/2/2011) dini hari, puluhan kerabat masih terus berdatangan, setelah Senin sebelumnya. Keluarga Yasin Limpo masih berduka. (ton)</description><content:encoded>MAKASSAR - Jabatan tertinggi di sebuah provinsi bukan jaminan seseorang tidak akan dapat menyembunyikan kesedihannya. Walau sempat mengaku tabah mendengar kematian putranya, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo tumbang juga.Senin (31/1/2011) malam, sesaat setelah upacara serah terima dari pihak Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) yang diwakili Direktur Pengembangan Daerah Kementerian Dalam Negeri Syamsul Arief Bulu, Syahrul meneriakkan histerianya.Saat peti jenazah yang dipanggul delapan praja IPDN Kampus Makassar tiba di ruang tengah dibuka, Syahrul berteriak keras hingga tiga kali. Teriakan itu membahana di seluruh penjuru rumah peninggalan penjajahan Belanda yang difungsikan menjadi rumah jabatan gubernur itu.Sejak menerima kabar kematian putra kedua dari tiga anaknya itu, Syahrul memang sudah terlihat sedih. Matanya bengkak karena sembab oleh air mata sejak pagi hingga malam hari.Sesekali air mata menetes dari pipinya yang dihapus sembunyi-sembunyi. &amp;ldquo;Rinra itu harapan Bapak (Syahrul) guna melanjutkan tradisi pamong dalam keluarga,&amp;rdquo; ujar Devo salah seorang kerabat dekat, semalam.Tak hanya Syahrul, Ibunda Rinra, Ayunsri Harahap yang akrab disapa Uli pun terlihat sangat berduka. Sejak Senin pagi hingga siang, beberapa kali Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Sulsel itu dibawa masuk ke kamar pribadinya.&amp;ldquo;Ibu tak kuat menerima kabar kematian Rinra, mereka berdua sangat dekat,&amp;rdquo; tutur seorang kerabat yang tak mau disebutkan namanya.Rinra Sujiwa Syahrul Putra adalah putra ketiga pasangan Syahrul Yasin Limpo dan Ayunsri Harahap. Lelaki kelahiran Makassar 23 Oktober 1988 itu menjadi salah satu Siswa IPDN di Jatinangor, Sumedang, sejak 2007.Rinra ditemukan tak berdaya kemarin di kamar kosnya pada Subuh sekira pukul 05.00. Keterangan Andi Darussalam Tabussala, paman Rinra kepada wartawan menyebutkan, Rinra meninggal dunia dalam perjalanan dari kamar kosnya ke Rumah Sakit.Berbagai spekulasi sempat timbul karena kematian mendadak itu. Terbersit cerita kematiannya disebabkan kekerasan fisik atau overdosis.&amp;ldquo;Rinra itu sakit maag akut. Dia sudah sering buang air besar sejak meninggalkan Makassar akhir pekan lalu. Bahkan Bapaknya sempat melarangnya kembali ke kampus karena khawatir,&amp;rdquo; jelas Irman Yasin Limpo, paman Rindra yang lain.Irman menolak jenazah Rinra diautposi maupun visum di Bandung. Keluarga besarnya menginginkan melihat Rindra utuh tiba di Makassar tanpa sentuhan pihak lain.&amp;ldquo;Kalaupun harus divisum atau autopsi, itu dilakukan di Makassar. Tapi Kami mau melihat langsung kondisi Rinra terlebih dahulu,&amp;ldquo; ucap Kepala Badan Promosi Penanaman Modal Daerah Sulsel tersebut.Hingga Selasa (1/2/2011) dini hari, puluhan kerabat masih terus berdatangan, setelah Senin sebelumnya. Keluarga Yasin Limpo masih berduka. (ton)</content:encoded></item></channel></rss>
