<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Deteksi Radiasi Nuklir di Bandara hingga 28 Maret</title><description>Untuk sementara, pemeriksaan akan dilakukan hingga Senin 28 Maret  mendatang. Selanjutnya akan dievaluasi apakah kebijakan ini perlu  diperpanjang atau tidak.</description><link>https://news.okezone.com/read/2011/03/24/337/438607/deteksi-radiasi-nuklir-di-bandara-hingga-28-maret</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2011/03/24/337/438607/deteksi-radiasi-nuklir-di-bandara-hingga-28-maret"/><item><title>Deteksi Radiasi Nuklir di Bandara hingga 28 Maret</title><link>https://news.okezone.com/read/2011/03/24/337/438607/deteksi-radiasi-nuklir-di-bandara-hingga-28-maret</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2011/03/24/337/438607/deteksi-radiasi-nuklir-di-bandara-hingga-28-maret</guid><pubDate>Kamis 24 Maret 2011 19:43 WIB</pubDate><dc:creator>K. Yudha Wirakusuma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/03/24/337/438607/6PAYrb7jE9.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih (Foto: Dok Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/03/24/337/438607/6PAYrb7jE9.jpg</image><title>Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih (Foto: Dok Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Kementerian Kesehatan memutuskan akan terus melakukan pemeriksaan WNI atau WNA dari Jepang di Bandara Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai guna mendeteksi apakah orang yang bersangkutan terpapar radiasi nuklir atau tidak.Untuk sementara, pemeriksaan akan dilakukan hingga Senin 28 Maret mendatang. Selanjutnya akan dievaluasi apakah kebijakan ini perlu diperpanjang atau tidak.&amp;ldquo;Yang perlu diwaspadai adalah orang datang dari Jepang ke Indonesia. Sudah bekerjasama dengan Bapeten, untuk mendeteksi radiasi di Soekarno Hatta dan Ngurah Rai. Ini akan terus dilakukan sampai Senin kemudian dievaluasi lagi apakah perlu diperpanjang. Kita sangat tergantung pada keadaan di Jepang,&amp;rdquo; ujar Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih di Istana, Kamis (24/3/2011).Menkes mengaku persoalan ini sempat dibahas dalam sidang kabinet. Terutama mengenai kesiagaan dalam menghadapi kedaruratan nuklir di Jepang. Kendati demikian, Menkes menegaskan bahwa WNI di Jepang semua berada dalam keadaan aman, karena mereka tidak masuk ke daerah terlarang. &amp;ldquo;Ditetapkan KBRI Tokyo, jarak aman sampai radius 50 km,&amp;rdquo; ujarnya.
Pemerintah Jepang sendiri, kata Menkes, juga sudah memberlakukan larangan konsumsi sayuran dan susu dari daerah yang dinyatakan berbahaya. &amp;ldquo;Pihak Jepang melakukan pengukuran radioaktif, udara, air minum, laut udara terus menerus. Kita mendapatkan datanya dari kedutaan Jepang di Indonesia.
&amp;nbsp;
Dijelaskan, pemeriksaan pendatang dari Jepang di bandara diperlukan untuk mencegah meluasnya radiasi. Karena radiasi bisa masuk ke tubuh manusia karena pancaran, karena terhirup dan masuk ke dalam tubuh, atau mungkin karena makanan. &amp;ldquo;Kalau sudah ada di dalam tubuh, dikeluarkan di keringat, menempel di baju,&amp;rdquo; ujarnya.
&amp;nbsp;
Menkes menjelaskan, pencegahan semacam ini tak akan berlangsung permanen. Apabila keadaan sudah membaik, tidak akan dilakukan cek radiasi.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Tapi cukup dengan pengumuman, siapa yang di atas 11 Maret berkunjung ke Fukushima atau daerah-daerah lain, kita minta untuk lapor ke KKP. KKP akan berikan kartu dan mereka akan diminta untuk lapor ke Puskesmas dan RS terdekat dengan daftar gejala yang harus mereka perhatikan,&amp;rdquo; tandasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Kementerian Kesehatan memutuskan akan terus melakukan pemeriksaan WNI atau WNA dari Jepang di Bandara Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai guna mendeteksi apakah orang yang bersangkutan terpapar radiasi nuklir atau tidak.Untuk sementara, pemeriksaan akan dilakukan hingga Senin 28 Maret mendatang. Selanjutnya akan dievaluasi apakah kebijakan ini perlu diperpanjang atau tidak.&amp;ldquo;Yang perlu diwaspadai adalah orang datang dari Jepang ke Indonesia. Sudah bekerjasama dengan Bapeten, untuk mendeteksi radiasi di Soekarno Hatta dan Ngurah Rai. Ini akan terus dilakukan sampai Senin kemudian dievaluasi lagi apakah perlu diperpanjang. Kita sangat tergantung pada keadaan di Jepang,&amp;rdquo; ujar Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih di Istana, Kamis (24/3/2011).Menkes mengaku persoalan ini sempat dibahas dalam sidang kabinet. Terutama mengenai kesiagaan dalam menghadapi kedaruratan nuklir di Jepang. Kendati demikian, Menkes menegaskan bahwa WNI di Jepang semua berada dalam keadaan aman, karena mereka tidak masuk ke daerah terlarang. &amp;ldquo;Ditetapkan KBRI Tokyo, jarak aman sampai radius 50 km,&amp;rdquo; ujarnya.
Pemerintah Jepang sendiri, kata Menkes, juga sudah memberlakukan larangan konsumsi sayuran dan susu dari daerah yang dinyatakan berbahaya. &amp;ldquo;Pihak Jepang melakukan pengukuran radioaktif, udara, air minum, laut udara terus menerus. Kita mendapatkan datanya dari kedutaan Jepang di Indonesia.
&amp;nbsp;
Dijelaskan, pemeriksaan pendatang dari Jepang di bandara diperlukan untuk mencegah meluasnya radiasi. Karena radiasi bisa masuk ke tubuh manusia karena pancaran, karena terhirup dan masuk ke dalam tubuh, atau mungkin karena makanan. &amp;ldquo;Kalau sudah ada di dalam tubuh, dikeluarkan di keringat, menempel di baju,&amp;rdquo; ujarnya.
&amp;nbsp;
Menkes menjelaskan, pencegahan semacam ini tak akan berlangsung permanen. Apabila keadaan sudah membaik, tidak akan dilakukan cek radiasi.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Tapi cukup dengan pengumuman, siapa yang di atas 11 Maret berkunjung ke Fukushima atau daerah-daerah lain, kita minta untuk lapor ke KKP. KKP akan berikan kartu dan mereka akan diminta untuk lapor ke Puskesmas dan RS terdekat dengan daftar gejala yang harus mereka perhatikan,&amp;rdquo; tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
