<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Atasi Ulat Bulu, Pemprov Bali Larang Tangkap Burung</title><description>Pemerintah Provinsi Bali memiliki beragam cara untuk mengatasi serbuan  ulat bulu, salah satunya dengan memperbanyak populasi hewan predator.</description><link>https://news.okezone.com/read/2011/04/14/340/446103/atasi-ulat-bulu-pemprov-bali-larang-tangkap-burung</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2011/04/14/340/446103/atasi-ulat-bulu-pemprov-bali-larang-tangkap-burung"/><item><title>Atasi Ulat Bulu, Pemprov Bali Larang Tangkap Burung</title><link>https://news.okezone.com/read/2011/04/14/340/446103/atasi-ulat-bulu-pemprov-bali-larang-tangkap-burung</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2011/04/14/340/446103/atasi-ulat-bulu-pemprov-bali-larang-tangkap-burung</guid><pubDate>Kamis 14 April 2011 17:25 WIB</pubDate><dc:creator>Rohmat</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/04/14/340/446103/JHCh54zNg3.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ulat bulu yang menyerang wilayah Jombang (Foto: Mukhtar Bagus/Sun TV)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/04/14/340/446103/JHCh54zNg3.jpg</image><title>Ulat bulu yang menyerang wilayah Jombang (Foto: Mukhtar Bagus/Sun TV)</title></images><description>DENPASAR- Pemerintah Provinsi Bali memiliki beragam cara untuk mengatasi serbuan ulat bulu, salah satunya dengan memperbanyak populasi hewan predator seperti burang dan semut rangrang.Akibat banyaknya populasi ulat bulu yang menyerang tujuh kabupaten/kota di Bali, ditengarai salah satunya disebabkan terjadinya ketidakseimbangan ekosistem alam.&quot;Pemprov Bali memilih pendekatan alamiah dalam mengendalikan ulat bulu, tidak asal main memberantas dengan zat kimia. Ini jalan terakhir,&quot; kata Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali I Made Putra Suryawan di Kantor Gubernur Bali, di Denpasar, Kamis (14/4/2011).Langkah penting dalam mengantisipasi serangan ulat bulu dilakukan dengan upaya biologis, Dalam artian mengembalikan keseimbangan ekosistem alami setempat.&amp;ldquo;Kita harus mengetahui dahulu keseimbangan antara ulat bulu dengan predatornya. Jika predator sedikit, kita upayakan menambah,&amp;rdquo; tandas Putra Suryawan.Dia menjelaskan, predator ulat bulu yang telah diketahui efektif mengendalikan populasi hewan melata itu adalah burung crukcuk dan semut rangrang atau semangah, dalam bahasa Bali.Namun, karena hujan berkesinambungan belakangan ini, ditambah ulah manusia menangkap predator tersebut, populasinya menjadi tidak seimbang dengan ulat bulu.&quot;Kami telah mengeluarkan rekomendasi kepada semua dinas terkait di seluruh Bali, untuk menghentikan penangkapan dan atau perburuan burung pemakan ulat,&quot; tegasnya.Tidak hanya itu, pihaknya juga meminta masyarakat untuk menghentikan pula perilaku menangkap telur semut rangrang.Karena itu, dalam pengendalian ulat bulu ini, pemerintah daerah juga mengimbau agar masyarakat tidak panik dan risau sehingga langsung menebang tanaman atau pohon yang terkena serangan ulat bulu secara berlebihan.</description><content:encoded>DENPASAR- Pemerintah Provinsi Bali memiliki beragam cara untuk mengatasi serbuan ulat bulu, salah satunya dengan memperbanyak populasi hewan predator seperti burang dan semut rangrang.Akibat banyaknya populasi ulat bulu yang menyerang tujuh kabupaten/kota di Bali, ditengarai salah satunya disebabkan terjadinya ketidakseimbangan ekosistem alam.&quot;Pemprov Bali memilih pendekatan alamiah dalam mengendalikan ulat bulu, tidak asal main memberantas dengan zat kimia. Ini jalan terakhir,&quot; kata Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali I Made Putra Suryawan di Kantor Gubernur Bali, di Denpasar, Kamis (14/4/2011).Langkah penting dalam mengantisipasi serangan ulat bulu dilakukan dengan upaya biologis, Dalam artian mengembalikan keseimbangan ekosistem alami setempat.&amp;ldquo;Kita harus mengetahui dahulu keseimbangan antara ulat bulu dengan predatornya. Jika predator sedikit, kita upayakan menambah,&amp;rdquo; tandas Putra Suryawan.Dia menjelaskan, predator ulat bulu yang telah diketahui efektif mengendalikan populasi hewan melata itu adalah burung crukcuk dan semut rangrang atau semangah, dalam bahasa Bali.Namun, karena hujan berkesinambungan belakangan ini, ditambah ulah manusia menangkap predator tersebut, populasinya menjadi tidak seimbang dengan ulat bulu.&quot;Kami telah mengeluarkan rekomendasi kepada semua dinas terkait di seluruh Bali, untuk menghentikan penangkapan dan atau perburuan burung pemakan ulat,&quot; tegasnya.Tidak hanya itu, pihaknya juga meminta masyarakat untuk menghentikan pula perilaku menangkap telur semut rangrang.Karena itu, dalam pengendalian ulat bulu ini, pemerintah daerah juga mengimbau agar masyarakat tidak panik dan risau sehingga langsung menebang tanaman atau pohon yang terkena serangan ulat bulu secara berlebihan.</content:encoded></item></channel></rss>
