<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Unikom Kembangkan Robot Bantu Orang Cacat</title><description>Robot yang dapat membantu kehidupan manusia bukan lagi hanya  dalam film. Kenyataannya, robot memang dapat mempermudah kehidupan  manusia.</description><link>https://news.okezone.com/read/2011/04/26/373/449937/unikom-kembangkan-robot-bantu-orang-cacat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2011/04/26/373/449937/unikom-kembangkan-robot-bantu-orang-cacat"/><item><title>Unikom Kembangkan Robot Bantu Orang Cacat</title><link>https://news.okezone.com/read/2011/04/26/373/449937/unikom-kembangkan-robot-bantu-orang-cacat</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2011/04/26/373/449937/unikom-kembangkan-robot-bantu-orang-cacat</guid><pubDate>Selasa 26 April 2011 09:33 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/04/26/373/449937/g7rCdpj5qO.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Image: corbis.com</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/04/26/373/449937/g7rCdpj5qO.jpg</image><title>Image: corbis.com</title></images><description>BANDUNG - Robot yang dapat membantu kehidupan manusia bukan lagi hanya  dalam film. Kenyataannya, robot memang dapat mempermudah kehidupan  manusia.  Salah satunya robowaiter atau robot pelayan yang dipertandingkan dalam  kontes robot internasional di Trinity College, Hartford, Connecticut,  Amerika Serikat (AS), belum lama ini. Tim Universitas Komputer Indonesia  (Unikom), Bandung, yang ikut tampil dalam kontes tersebut mengaku siap  mengembangkan robowaiter. Dengan penyempurnaan, diharapkan robot ini  dapat kembali menuai prestasi.   Sekadar mengingatkan, tiga robot Unikom yang dilombakan pada kontes itu  mampu menyabet gelar juara. Robot DU99RWE menjadi juara satu pada  kategori Robowaiter Advanced, robot DU99RWS-4 menjadi juara satu pada  kategori Robowaiter Entry Level, serta robot DU99RWS menjadi juara dua  pada kategori sama.&amp;nbsp; Menurut Ketua Tim Robot Unikom Yusrila Kerlooza, dalam kontes robot di  Trinity College yang sudah berjalan selama 18 kali, kategori robot  pelayan baru muncul tiga tahun lalu. Kategori ini muncul dilatari fakta  bahwa banyak orang cacat yang kelaparan akibat pembantunya tidak datang  melayani saat musim dingin datang di AS. &amp;ldquo;Maka dibuatlah kategori robot pelayan dalam kontes robot internasional.  Hal ini sangat baik karena pengembangannya bisa meringankan hidup  manusia,&amp;rdquo; ujarnya dalam jumpa pers di Kampus Unikom, Jalan Dipatiukur,  Kota Bandung, kemarin.   Robot berukuran sekitar 20x20 cm ini bisa membantu keseharian orang  cacat. Yusrila menceritakan, pada kontes itu, setiap robot harus bisa  membawa piring yang berisi makanan dari satu meja ke meja lain. Arena  lomba didesain seperti sebuah dapur, dilengkapi kulkas, meja, piring,  kursi, dan boneka yang diibaratkan orang cacat.  &amp;ldquo;Robot yang berhasil memindahkan piring tanpa menabrak boneka, maka nilainya semakin bertambah besar,&amp;rdquo; jelasnya.   Menurut dosen pembina Taufiq N Nizar, pada kontes tersebut, dalam sebuah  kulkas terdapat dua rak, yakni atas dan bawah. Di setiap rak ada satu  buah piring berisi makanan. Dengan sensor suara, robot bisa membaca  perintah, piring di rak mana yang harus diambil. &amp;ldquo;Kalau robot mendeteksi  suara dengan frekuensi 3.500, dia akan mengambil piring di rak atas,  jika frekuensi di atas 7.500, piring yang diambil robot ada di rak  bagian bawah,&amp;rdquo; ungkapnya.   Untuk membuat robot pintar, tim robot Unikom tidak membuatnya dari bahan  khusus. Namun mereka menggunakan bahan bekas, mulai dari roda mainan  sampai CD room, sehingga biaya pembuatannya jauh lebih murah. &amp;ldquo;Ke depan  tentu kami akan melakukan pengembangan dan penyempurnaan,&amp;rdquo; sambungnya.  (masita ulfah/sindo) </description><content:encoded>BANDUNG - Robot yang dapat membantu kehidupan manusia bukan lagi hanya  dalam film. Kenyataannya, robot memang dapat mempermudah kehidupan  manusia.  Salah satunya robowaiter atau robot pelayan yang dipertandingkan dalam  kontes robot internasional di Trinity College, Hartford, Connecticut,  Amerika Serikat (AS), belum lama ini. Tim Universitas Komputer Indonesia  (Unikom), Bandung, yang ikut tampil dalam kontes tersebut mengaku siap  mengembangkan robowaiter. Dengan penyempurnaan, diharapkan robot ini  dapat kembali menuai prestasi.   Sekadar mengingatkan, tiga robot Unikom yang dilombakan pada kontes itu  mampu menyabet gelar juara. Robot DU99RWE menjadi juara satu pada  kategori Robowaiter Advanced, robot DU99RWS-4 menjadi juara satu pada  kategori Robowaiter Entry Level, serta robot DU99RWS menjadi juara dua  pada kategori sama.&amp;nbsp; Menurut Ketua Tim Robot Unikom Yusrila Kerlooza, dalam kontes robot di  Trinity College yang sudah berjalan selama 18 kali, kategori robot  pelayan baru muncul tiga tahun lalu. Kategori ini muncul dilatari fakta  bahwa banyak orang cacat yang kelaparan akibat pembantunya tidak datang  melayani saat musim dingin datang di AS. &amp;ldquo;Maka dibuatlah kategori robot pelayan dalam kontes robot internasional.  Hal ini sangat baik karena pengembangannya bisa meringankan hidup  manusia,&amp;rdquo; ujarnya dalam jumpa pers di Kampus Unikom, Jalan Dipatiukur,  Kota Bandung, kemarin.   Robot berukuran sekitar 20x20 cm ini bisa membantu keseharian orang  cacat. Yusrila menceritakan, pada kontes itu, setiap robot harus bisa  membawa piring yang berisi makanan dari satu meja ke meja lain. Arena  lomba didesain seperti sebuah dapur, dilengkapi kulkas, meja, piring,  kursi, dan boneka yang diibaratkan orang cacat.  &amp;ldquo;Robot yang berhasil memindahkan piring tanpa menabrak boneka, maka nilainya semakin bertambah besar,&amp;rdquo; jelasnya.   Menurut dosen pembina Taufiq N Nizar, pada kontes tersebut, dalam sebuah  kulkas terdapat dua rak, yakni atas dan bawah. Di setiap rak ada satu  buah piring berisi makanan. Dengan sensor suara, robot bisa membaca  perintah, piring di rak mana yang harus diambil. &amp;ldquo;Kalau robot mendeteksi  suara dengan frekuensi 3.500, dia akan mengambil piring di rak atas,  jika frekuensi di atas 7.500, piring yang diambil robot ada di rak  bagian bawah,&amp;rdquo; ungkapnya.   Untuk membuat robot pintar, tim robot Unikom tidak membuatnya dari bahan  khusus. Namun mereka menggunakan bahan bekas, mulai dari roda mainan  sampai CD room, sehingga biaya pembuatannya jauh lebih murah. &amp;ldquo;Ke depan  tentu kami akan melakukan pengembangan dan penyempurnaan,&amp;rdquo; sambungnya.  (masita ulfah/sindo) </content:encoded></item></channel></rss>
