<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kelompok Radikal Gunakan Isu Lokal untuk Galang Massa</title><description>Dulu mereka kerap menggunakan isu internasional seperti pendudukan  Palestina oleh Israel, perang Irak dan Afghanistan dan lain-lain.</description><link>https://news.okezone.com/read/2011/05/04/337/453217/kelompok-radikal-gunakan-isu-lokal-untuk-galang-massa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2011/05/04/337/453217/kelompok-radikal-gunakan-isu-lokal-untuk-galang-massa"/><item><title>Kelompok Radikal Gunakan Isu Lokal untuk Galang Massa</title><link>https://news.okezone.com/read/2011/05/04/337/453217/kelompok-radikal-gunakan-isu-lokal-untuk-galang-massa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2011/05/04/337/453217/kelompok-radikal-gunakan-isu-lokal-untuk-galang-massa</guid><pubDate>Rabu 04 Mei 2011 14:41 WIB</pubDate><dc:creator>Bagus Santosa</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/05/04/337/453217/e6JqByN55m.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/05/04/337/453217/e6JqByN55m.jpg</image><title>Ilustrasi</title></images><description>JAKARTA - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai mengatakan belakangan terjadi pergeseran isu yang dihembuskan kelompok-kelompok radikal di Indonesia. Dulu mereka kerap menggunakan isu internasional seperti pendudukan Palestina oleh Israel, perang Irak dan Afghanistan dan lain-lain.
&amp;nbsp;
Namun, belakangan mereka menggunakan isu-isu lokal seperti judi, maksiat dan tak ketinggalan aliran Ahmadiyah. Isu Ahmadiyah misalnya dijadikan sebagai pemantik di Cirebon sehingga M Syarif akhirnya rela melakukan serangan bom bunuh diri di Masjid Adz Zikra.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Link isu lokal dan internasional itu yang sekarang dimainkan. Bahayanya kelompok radikal non teroris, dan ini yang membuat kelompok teroris itu menjadi tidak jelas,&amp;rdquo; katanya dalam sebuah diskusi di Universitas Paramadina, Jakarta, Rabu (4/5/2011).
&amp;nbsp;
Ansyaad juga menanggapi keinginan sejumlah pihak agar pemerintah tak semata-mata menggunakan pendekatan represif dengan mengandalkan Detasemen Khusus 88 Antiteror dalam memberantas terorisme, tetapi juga melakukan deradikalisasi. Deradikalisasi terutama dilakukan terhadap ratusan tersangka teroris yang berhasil ditangkap polisi.
&amp;nbsp;
Ansyaad mengatakan, deradikalisasi tidak cukup dilakukan dengan khotbah. &amp;ldquo;Kita menganggap dengan khotbah mereka jadi ikut, tapi mereka (kelompok) radikal itu lain,&amp;rdquo; katanya.
&amp;nbsp;
Ansyaad mencontohkan kelainan kelompok radikal yaitu khotbah-khotbah mereka yang selalu mengobarkan kebencian pada pemerintah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu, kata dia, pendekatannya haruslah fisik dan hukum.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Harus melakukan tindakan fisik, ya hukum,&amp;rdquo; ujarnya.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><content:encoded>JAKARTA - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai mengatakan belakangan terjadi pergeseran isu yang dihembuskan kelompok-kelompok radikal di Indonesia. Dulu mereka kerap menggunakan isu internasional seperti pendudukan Palestina oleh Israel, perang Irak dan Afghanistan dan lain-lain.
&amp;nbsp;
Namun, belakangan mereka menggunakan isu-isu lokal seperti judi, maksiat dan tak ketinggalan aliran Ahmadiyah. Isu Ahmadiyah misalnya dijadikan sebagai pemantik di Cirebon sehingga M Syarif akhirnya rela melakukan serangan bom bunuh diri di Masjid Adz Zikra.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Link isu lokal dan internasional itu yang sekarang dimainkan. Bahayanya kelompok radikal non teroris, dan ini yang membuat kelompok teroris itu menjadi tidak jelas,&amp;rdquo; katanya dalam sebuah diskusi di Universitas Paramadina, Jakarta, Rabu (4/5/2011).
&amp;nbsp;
Ansyaad juga menanggapi keinginan sejumlah pihak agar pemerintah tak semata-mata menggunakan pendekatan represif dengan mengandalkan Detasemen Khusus 88 Antiteror dalam memberantas terorisme, tetapi juga melakukan deradikalisasi. Deradikalisasi terutama dilakukan terhadap ratusan tersangka teroris yang berhasil ditangkap polisi.
&amp;nbsp;
Ansyaad mengatakan, deradikalisasi tidak cukup dilakukan dengan khotbah. &amp;ldquo;Kita menganggap dengan khotbah mereka jadi ikut, tapi mereka (kelompok) radikal itu lain,&amp;rdquo; katanya.
&amp;nbsp;
Ansyaad mencontohkan kelainan kelompok radikal yaitu khotbah-khotbah mereka yang selalu mengobarkan kebencian pada pemerintah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu, kata dia, pendekatannya haruslah fisik dan hukum.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Harus melakukan tindakan fisik, ya hukum,&amp;rdquo; ujarnya.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</content:encoded></item></channel></rss>
