<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Inilah Komentar Santri &amp; Warga Tentang Al Zaytun</title><description>Keberadaan Pondok Pesantren Al Zaytun di Desa Mekarjaya,  Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, dalam beberapa pekan  terakhir menjadi pembicaraan publik.</description><link>https://news.okezone.com/read/2011/05/12/340/456177/inilah-komentar-santri-warga-tentang-al-zaytun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2011/05/12/340/456177/inilah-komentar-santri-warga-tentang-al-zaytun"/><item><title>Inilah Komentar Santri &amp; Warga Tentang Al Zaytun</title><link>https://news.okezone.com/read/2011/05/12/340/456177/inilah-komentar-santri-warga-tentang-al-zaytun</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2011/05/12/340/456177/inilah-komentar-santri-warga-tentang-al-zaytun</guid><pubDate>Kamis 12 Mei 2011 10:18 WIB</pubDate><dc:creator>Tomi Indra Prayitno</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/05/12/340/456177/tplIjP9PA7.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ponpes Al Zaytun (Foto: Koran SI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/05/12/340/456177/tplIjP9PA7.jpg</image><title>Ponpes Al Zaytun (Foto: Koran SI)</title></images><description>INDRAMAYU- Keberadaan Pondok Pesantren Al Zaytun yang berlokasi di Desa Mekarjaya, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, dalam beberapa pekan terakhir menjadi pembicaraan publik.Hal itu semakin gencar diberitakan di sejumlah media massa menyusul adanya tuduhan keterikatan Ponpes Al Zaytun serta petingginya dengan gerakan Negara Islam Indonesia (NII). Seberapa jauh dampak yang ditimbulkan atas isu publik yang cukup hangat tersebut oleh santri-santri Ponpes Al Zaytun.Sejumlah santri ponpes yang ditemui mengaku tidak terpengaruh dengan pemberitaan deras menyudutkan ponpes pimpinan Panji Gumilang yang dikaitkan dengan NII.Taufik Hardiyanto, salah seorang santri Madrasah Aliyah (MA) kelas 10 mengaku mengetahui informasi tentang Al Zaytun dan NII dari internet maupun televisi. Namun, secara pribadi dia tidak terpengaruh terhadap perkembangan yang terjadi di luar.Taufik mengaku tetap fokus dan berkonsentrasi mengikuti kegiatan belajar mengajar. Terlebih saat ini tengah memasuki ujian akhir sekolah (UAS). &amp;ldquo;Sepertinya tidak berpengaruh banyak dan santri juga tetap fokus belajar,&amp;rdquo; ujar remaja 16 tahun ini, Kamis (12/5/2011).Dia mengaku apa yang dituduhkan tersebut tidak benar dan belum pernah dialami olehnya, terutama terkait aktivitas cuci otak.Keluarganya juga tidak mengkhawatirkan isu yang beredar. &amp;ldquo;Keluarga percaya dengan Ponpes Al Zaytun. Sejak adanya isu keluarga enggak begitu khawatir,&amp;rdquo; sambungnya.Hal senada diungkapkan santri lainnya, Syaeful Umam (16). Dia mengaku, munculnya isu tersebut diyakini tidak akan mempengaruhi santri lainnya yang tengah belajar agama dan pendidikan modern di ponpes terbesar di Asia Tenggara tersebut.&amp;ldquo;Santri tetap yakin bahwa apa yang dituduhkan adalah tidak benar. Kami tetap yakin dengan sistem pendidikan di sini,&amp;rdquo; terang Syaeful seraya menambahkan isu itu tidak cukup meyakinkan dirinya untuk meninggalkan Al Zaytun.Sementara itu, Rakidi (49), salah satu warga Desa Mekarjaya, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu yang lokasinya hanya berjarak 1 kilometer dari lokasi pesantren mengaku, keberadaan Al Zaytun menurutnya tidak memberikan manfaat yang cukup berarti bagi masyarakat.Pasalnya, keberadaan ponpes yang tertutup dengan dunia luar juga membuat warga Desa Mekarjaya tidak dapat bersosialisasi dengan santri ponpes. &quot;Saya tidak pernah tahu apa yang ada dalam Al Zaytun, karena untuk bisa masuk saja tidak bisa,&amp;rdquo; cetusnya.Rakidi mengaku, Ponpes yang lokasinya dikelilingi hutan belantara tersebut juga membuat warga tidak dapat memantau setiap perkembangan yang terjadi.Mengenai NII yang dikaitkan dengan Al Zaytun, warga tidak pernah mendapatkan informasi dan didatangi oleh orang-orang Al Zaytun yang membawa embel-embel NII.&amp;ldquo;Kami tidak pernah tahu masalah NII dan baru tahu dari informasi di televisi,&amp;rdquo; katanya.Sementara itu Sekretaris Kecamatan Gantar Asep Machmud mengatakan pihak Kecamatan Gantar mengaku meski lokasi Al Zaytun dekat dengan wilayahnya, namun pihaknya belum mendapatkan laporan dari warga tentang adanya gerakan NII yang masuk ke desa-desa.&amp;ldquo;Sejauh ini belum ada laporan dari warga. Muspika Kecamatan baik  anggota Polsek dan Koramil terus berkonsultasi dengan kami jika menemukan adanya indikasi masuknya NII,&amp;rdquo; ucapnya.</description><content:encoded>INDRAMAYU- Keberadaan Pondok Pesantren Al Zaytun yang berlokasi di Desa Mekarjaya, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, dalam beberapa pekan terakhir menjadi pembicaraan publik.Hal itu semakin gencar diberitakan di sejumlah media massa menyusul adanya tuduhan keterikatan Ponpes Al Zaytun serta petingginya dengan gerakan Negara Islam Indonesia (NII). Seberapa jauh dampak yang ditimbulkan atas isu publik yang cukup hangat tersebut oleh santri-santri Ponpes Al Zaytun.Sejumlah santri ponpes yang ditemui mengaku tidak terpengaruh dengan pemberitaan deras menyudutkan ponpes pimpinan Panji Gumilang yang dikaitkan dengan NII.Taufik Hardiyanto, salah seorang santri Madrasah Aliyah (MA) kelas 10 mengaku mengetahui informasi tentang Al Zaytun dan NII dari internet maupun televisi. Namun, secara pribadi dia tidak terpengaruh terhadap perkembangan yang terjadi di luar.Taufik mengaku tetap fokus dan berkonsentrasi mengikuti kegiatan belajar mengajar. Terlebih saat ini tengah memasuki ujian akhir sekolah (UAS). &amp;ldquo;Sepertinya tidak berpengaruh banyak dan santri juga tetap fokus belajar,&amp;rdquo; ujar remaja 16 tahun ini, Kamis (12/5/2011).Dia mengaku apa yang dituduhkan tersebut tidak benar dan belum pernah dialami olehnya, terutama terkait aktivitas cuci otak.Keluarganya juga tidak mengkhawatirkan isu yang beredar. &amp;ldquo;Keluarga percaya dengan Ponpes Al Zaytun. Sejak adanya isu keluarga enggak begitu khawatir,&amp;rdquo; sambungnya.Hal senada diungkapkan santri lainnya, Syaeful Umam (16). Dia mengaku, munculnya isu tersebut diyakini tidak akan mempengaruhi santri lainnya yang tengah belajar agama dan pendidikan modern di ponpes terbesar di Asia Tenggara tersebut.&amp;ldquo;Santri tetap yakin bahwa apa yang dituduhkan adalah tidak benar. Kami tetap yakin dengan sistem pendidikan di sini,&amp;rdquo; terang Syaeful seraya menambahkan isu itu tidak cukup meyakinkan dirinya untuk meninggalkan Al Zaytun.Sementara itu, Rakidi (49), salah satu warga Desa Mekarjaya, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu yang lokasinya hanya berjarak 1 kilometer dari lokasi pesantren mengaku, keberadaan Al Zaytun menurutnya tidak memberikan manfaat yang cukup berarti bagi masyarakat.Pasalnya, keberadaan ponpes yang tertutup dengan dunia luar juga membuat warga Desa Mekarjaya tidak dapat bersosialisasi dengan santri ponpes. &quot;Saya tidak pernah tahu apa yang ada dalam Al Zaytun, karena untuk bisa masuk saja tidak bisa,&amp;rdquo; cetusnya.Rakidi mengaku, Ponpes yang lokasinya dikelilingi hutan belantara tersebut juga membuat warga tidak dapat memantau setiap perkembangan yang terjadi.Mengenai NII yang dikaitkan dengan Al Zaytun, warga tidak pernah mendapatkan informasi dan didatangi oleh orang-orang Al Zaytun yang membawa embel-embel NII.&amp;ldquo;Kami tidak pernah tahu masalah NII dan baru tahu dari informasi di televisi,&amp;rdquo; katanya.Sementara itu Sekretaris Kecamatan Gantar Asep Machmud mengatakan pihak Kecamatan Gantar mengaku meski lokasi Al Zaytun dekat dengan wilayahnya, namun pihaknya belum mendapatkan laporan dari warga tentang adanya gerakan NII yang masuk ke desa-desa.&amp;ldquo;Sejauh ini belum ada laporan dari warga. Muspika Kecamatan baik  anggota Polsek dan Koramil terus berkonsultasi dengan kami jika menemukan adanya indikasi masuknya NII,&amp;rdquo; ucapnya.</content:encoded></item></channel></rss>
