<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Orde Baru Bisa Jadi Bahan Evaluasi &amp; Pembenahan</title><description>Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (KY) Jimly Asshiddiqie mengatakan  masyarakat kecewa dengan kondisi negeri saat ini sehingga kembali  mengingat kenangan dulu semasa Orde Baru.</description><link>https://news.okezone.com/read/2011/06/09/339/466154/orde-baru-bisa-jadi-bahan-evaluasi-pembenahan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2011/06/09/339/466154/orde-baru-bisa-jadi-bahan-evaluasi-pembenahan"/><item><title>Orde Baru Bisa Jadi Bahan Evaluasi &amp; Pembenahan</title><link>https://news.okezone.com/read/2011/06/09/339/466154/orde-baru-bisa-jadi-bahan-evaluasi-pembenahan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2011/06/09/339/466154/orde-baru-bisa-jadi-bahan-evaluasi-pembenahan</guid><pubDate>Kamis 09 Juni 2011 07:34 WIB</pubDate><dc:creator>Ray Jordan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/06/09/339/466154/rJSb4O6tq8.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/06/09/339/466154/rJSb4O6tq8.jpg</image><title></title></images><description>JAKARTA - Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (KY) Jimly Asshiddiqie mengatakan  masyarakat kecewa dengan kondisi negeri saat ini sehingga kembali  mengingat kenangan dulu semasa Orde Baru.&quot;Kira-kira kenapa Pak Harto itu menonjol pada survei Indo barometer kemarin? Karena kekecewaan orang terhadap keadaan sekarang, kekecewaan orang terhadap sistem dan kinerja yang berlaku sekarang ini,&quot; ujarnya kepada wartawan di Hotel Le Meridien, Jakarta, Rabu (8/6/2011) malam.Jimly mengatakan saat ini korupsi, kolusi dan Nepotisme (KKN) semakin merajalela dan bertambah banyak. Padahal sudah banyak lembaga untuk memantau perosalan KKN ini.Menurutnya, pemberantasan KKN di negeri ini hanya sebatas retorika, karena buktinya semakin merajalela di bandingkan pada masa Orde Baru. &quot;Sekarang ini, korupsi dan pengawasannya itu lepas. Hanya pada retorika. Dalam kenyataan praktiknya tidak ada pengawasan itu. Kalau kita hitung sekarang ini lebih banyak KKN itu dibanding zaman Orde Baru,&quot; terang Jhimly.Sebagai contohnya, dia mengatakan saat ini banyak terdapat kerabat pejabat yang ikut mencalonkan diri sebagai anggota legislatif maupun pejabat daerah.Sekarang ini semua anak, istri, ponakan bupati mencalonkan diri untuk menjadi anggota legislatif dan wakil bupati maupun bupati. Begitu juga ketua partai, istrinya itu jadi pejabat semua. Jadi korupsinya itu terulang kembali dan lebih ekstrim,&quot; terang Jhimly. &quot;Termasuk pada partai reformasi. Jadi ini sudah menjadi kultural,&quot; tambah Jimly.oleh karena itu, banyak sekali hal yang bisa diambil pada masa Orde Baru untuk evaluasi dan pembenahan yang harus dilakukan pada negeri ini. &quot;Banyak sekali pelajaran untuk menata kembali dan belajar dari pengalaman demi kepentingan dan kemajuan kita di masa depan,&quot; terang Jhimly.</description><content:encoded>JAKARTA - Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (KY) Jimly Asshiddiqie mengatakan  masyarakat kecewa dengan kondisi negeri saat ini sehingga kembali  mengingat kenangan dulu semasa Orde Baru.&quot;Kira-kira kenapa Pak Harto itu menonjol pada survei Indo barometer kemarin? Karena kekecewaan orang terhadap keadaan sekarang, kekecewaan orang terhadap sistem dan kinerja yang berlaku sekarang ini,&quot; ujarnya kepada wartawan di Hotel Le Meridien, Jakarta, Rabu (8/6/2011) malam.Jimly mengatakan saat ini korupsi, kolusi dan Nepotisme (KKN) semakin merajalela dan bertambah banyak. Padahal sudah banyak lembaga untuk memantau perosalan KKN ini.Menurutnya, pemberantasan KKN di negeri ini hanya sebatas retorika, karena buktinya semakin merajalela di bandingkan pada masa Orde Baru. &quot;Sekarang ini, korupsi dan pengawasannya itu lepas. Hanya pada retorika. Dalam kenyataan praktiknya tidak ada pengawasan itu. Kalau kita hitung sekarang ini lebih banyak KKN itu dibanding zaman Orde Baru,&quot; terang Jhimly.Sebagai contohnya, dia mengatakan saat ini banyak terdapat kerabat pejabat yang ikut mencalonkan diri sebagai anggota legislatif maupun pejabat daerah.Sekarang ini semua anak, istri, ponakan bupati mencalonkan diri untuk menjadi anggota legislatif dan wakil bupati maupun bupati. Begitu juga ketua partai, istrinya itu jadi pejabat semua. Jadi korupsinya itu terulang kembali dan lebih ekstrim,&quot; terang Jhimly. &quot;Termasuk pada partai reformasi. Jadi ini sudah menjadi kultural,&quot; tambah Jimly.oleh karena itu, banyak sekali hal yang bisa diambil pada masa Orde Baru untuk evaluasi dan pembenahan yang harus dilakukan pada negeri ini. &quot;Banyak sekali pelajaran untuk menata kembali dan belajar dari pengalaman demi kepentingan dan kemajuan kita di masa depan,&quot; terang Jhimly.</content:encoded></item></channel></rss>
