<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>&quot;Pemerintah Tak Punya Komitmen Berantas Korupsi&quot;</title><description>Masih banyaknya perkara korupsi di Indonesia terjadi bukan hanya  karena kelemahan penegakan hukum. Pemerintah pun turut andil bertanggung  jawab atas kegagalan pemberantasan korupsi.</description><link>https://news.okezone.com/read/2011/06/14/339/468255/pemerintah-tak-punya-komitmen-berantas-korupsi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2011/06/14/339/468255/pemerintah-tak-punya-komitmen-berantas-korupsi"/><item><title>&quot;Pemerintah Tak Punya Komitmen Berantas Korupsi&quot;</title><link>https://news.okezone.com/read/2011/06/14/339/468255/pemerintah-tak-punya-komitmen-berantas-korupsi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2011/06/14/339/468255/pemerintah-tak-punya-komitmen-berantas-korupsi</guid><pubDate>Selasa 14 Juni 2011 15:24 WIB</pubDate><dc:creator>Ferdinan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/06/14/339/468255/KARqhHlHNo.jpg" expression="full" type="image/jpeg">ist</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/06/14/339/468255/KARqhHlHNo.jpg</image><title>ist</title></images><description>JAKARTA - Masih banyaknya perkara korupsi di Indonesia terjadi bukan hanya karena kelemahan penegakan hukum. Pemerintah pun turut andil bertanggung jawab atas kegagalan pemberantasan korupsi.
&amp;nbsp;
&quot;Pemerintah hanya beretorika. Kita menanyakan posisi pemerintah ada dimana? Karena komitmen politiknya rendah,&quot; kata Peneliti Divisi Korupsi Politik Indonesia Corruption Watch (ICW) Abdullah Dahlan saat dihubungi wartawan, Selasa (14/6/2011).
&amp;nbsp;
Menurut Dahlan, komitmen politik rendah dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terlihat dari kasus kader Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin.
&amp;nbsp;
&quot;Seperti contohnya saat SBY berkomitmen memulangkan Nazaruddin, tetapi Nazaruddin toh tidak pulang. Ini retorika, yang saya maksud komitmen politik rendah,&quot; sambung dia.
&amp;nbsp;
Dahlan menambahkan, ada beberapa indikator penyebab buruknya supremasi hukum di Indonesia utamanya menyangkut perkara korupsi. Pertama, pmberantasan korupsi yang &quot;mandul&quot; di lingkaran penguasa. Kedua, adanya penyimpangan penyelengaraan anggaran negara termasuk korupsi di kementerian. &quot;Ketiga banyaknya berbagai kasus suap di pengadilan,&quot; pungkasnya.
&amp;nbsp;
Selain itu partai politik juga disebut tak sepenuh hati mendukung upaya pemberantasan korupsi. &quot;Partai penguasa yang memiliki jargon antikorupsi saat Pemilu malah terjerembab dalam kasus korupsi,&quot; katanya.</description><content:encoded>JAKARTA - Masih banyaknya perkara korupsi di Indonesia terjadi bukan hanya karena kelemahan penegakan hukum. Pemerintah pun turut andil bertanggung jawab atas kegagalan pemberantasan korupsi.
&amp;nbsp;
&quot;Pemerintah hanya beretorika. Kita menanyakan posisi pemerintah ada dimana? Karena komitmen politiknya rendah,&quot; kata Peneliti Divisi Korupsi Politik Indonesia Corruption Watch (ICW) Abdullah Dahlan saat dihubungi wartawan, Selasa (14/6/2011).
&amp;nbsp;
Menurut Dahlan, komitmen politik rendah dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terlihat dari kasus kader Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin.
&amp;nbsp;
&quot;Seperti contohnya saat SBY berkomitmen memulangkan Nazaruddin, tetapi Nazaruddin toh tidak pulang. Ini retorika, yang saya maksud komitmen politik rendah,&quot; sambung dia.
&amp;nbsp;
Dahlan menambahkan, ada beberapa indikator penyebab buruknya supremasi hukum di Indonesia utamanya menyangkut perkara korupsi. Pertama, pmberantasan korupsi yang &quot;mandul&quot; di lingkaran penguasa. Kedua, adanya penyimpangan penyelengaraan anggaran negara termasuk korupsi di kementerian. &quot;Ketiga banyaknya berbagai kasus suap di pengadilan,&quot; pungkasnya.
&amp;nbsp;
Selain itu partai politik juga disebut tak sepenuh hati mendukung upaya pemberantasan korupsi. &quot;Partai penguasa yang memiliki jargon antikorupsi saat Pemilu malah terjerembab dalam kasus korupsi,&quot; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
