<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pernyataan Boediono Kukuhkan Pemerintah Lemah Urus Korupsi</title><description>Ketua SETARA Institute, Hendardi mengatakan, pernyataan Boediono tentang Rencana Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi membuktikan adanya ketidakpatuhan lembaga hukum seperti, Kejaksaaan  Agung, Kepolisan terhadap instruksi presiden</description><link>https://news.okezone.com/read/2011/06/14/339/468270/pernyataan-boediono-kukuhkan-pemerintah-lemah-urus-korupsi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2011/06/14/339/468270/pernyataan-boediono-kukuhkan-pemerintah-lemah-urus-korupsi"/><item><title>Pernyataan Boediono Kukuhkan Pemerintah Lemah Urus Korupsi</title><link>https://news.okezone.com/read/2011/06/14/339/468270/pernyataan-boediono-kukuhkan-pemerintah-lemah-urus-korupsi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2011/06/14/339/468270/pernyataan-boediono-kukuhkan-pemerintah-lemah-urus-korupsi</guid><pubDate>Selasa 14 Juni 2011 15:49 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Hidayat</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/06/14/339/468270/pcKeuvm5hm.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Boediono (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/06/14/339/468270/pcKeuvm5hm.jpg</image><title>Boediono (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA- Pernyataan Wakil Presiden, Boediono yang menyatakan Rencana Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi (RA-PPK) tidak ada gaungnya sama sekali, merupakan bentuk pengakuan kelemahan kepemimpinan, Soesilo Bambang Yudhoyono dalam memberantas korupsi pemberantasan korupsi.
&amp;nbsp;
Ketua SETARA Institute, Hendardi mengatakan, pernyataan tersebut membuktikan adanya ketidakpatuhan lembaga hukum seperti, Kejaksaaan Agung, Kepolisan terhadap instruksi presiden.
&amp;nbsp;
&quot;Pernyataan ini juga sekaligus menggambarkan bahwa kementerian terkait dan penegak hukum dalam lingkup eksekutif seperti Polri, Kejaksaan Agung tidak patuh atas instruksi ini,&quot; katanya dalam keterangan persnya kepada okezone, Selasa (14/6/2011).
&amp;nbsp;
Hendardi menambahkan, sebanyak 102 aksi nasional yang diinstruksikan pada Mei 2011 yang memerintahkan kementerian dan lembaga penegak hukum melakukan upaya-upaya khusus mencegah dan memberantas korupsi. Namun, instruksi tersebut tidak berbarengan dengan realisasi pemberantasan korupsi.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&quot;Bukannya cerita pencapaian kinerja yang muncul dari Boediono, tapi cerita tentang tidak efektifnya pemerintahan dan kepemimpinan yang tidak bergigi,&quot; tambahnya
&amp;nbsp;
Kondisi tersebut, kata Hendardi diperburuk dengan kasus dugaan suap Proyek pembangunan Wisma Atlet SEA Games XXVI di Palembang, yang disebut-sebut melibatkan mantan Bendahara Umum Demokrat, Muhammad Nazaruddin. Dugaan korupsi yang menjerat partai penguasa berdampak pada kinerja pemerintah dalam penegakan hukum.
&amp;nbsp;
&quot;Dugaan praktik korupsi yang melilit para penguasa dan lingkaran elitnya, dipastikan berimplikasi pada kinerja pemerintahan dalam pemberantasan korupsi,&quot; tandasnya.</description><content:encoded>JAKARTA- Pernyataan Wakil Presiden, Boediono yang menyatakan Rencana Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi (RA-PPK) tidak ada gaungnya sama sekali, merupakan bentuk pengakuan kelemahan kepemimpinan, Soesilo Bambang Yudhoyono dalam memberantas korupsi pemberantasan korupsi.
&amp;nbsp;
Ketua SETARA Institute, Hendardi mengatakan, pernyataan tersebut membuktikan adanya ketidakpatuhan lembaga hukum seperti, Kejaksaaan Agung, Kepolisan terhadap instruksi presiden.
&amp;nbsp;
&quot;Pernyataan ini juga sekaligus menggambarkan bahwa kementerian terkait dan penegak hukum dalam lingkup eksekutif seperti Polri, Kejaksaan Agung tidak patuh atas instruksi ini,&quot; katanya dalam keterangan persnya kepada okezone, Selasa (14/6/2011).
&amp;nbsp;
Hendardi menambahkan, sebanyak 102 aksi nasional yang diinstruksikan pada Mei 2011 yang memerintahkan kementerian dan lembaga penegak hukum melakukan upaya-upaya khusus mencegah dan memberantas korupsi. Namun, instruksi tersebut tidak berbarengan dengan realisasi pemberantasan korupsi.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&quot;Bukannya cerita pencapaian kinerja yang muncul dari Boediono, tapi cerita tentang tidak efektifnya pemerintahan dan kepemimpinan yang tidak bergigi,&quot; tambahnya
&amp;nbsp;
Kondisi tersebut, kata Hendardi diperburuk dengan kasus dugaan suap Proyek pembangunan Wisma Atlet SEA Games XXVI di Palembang, yang disebut-sebut melibatkan mantan Bendahara Umum Demokrat, Muhammad Nazaruddin. Dugaan korupsi yang menjerat partai penguasa berdampak pada kinerja pemerintah dalam penegakan hukum.
&amp;nbsp;
&quot;Dugaan praktik korupsi yang melilit para penguasa dan lingkaran elitnya, dipastikan berimplikasi pada kinerja pemerintahan dalam pemberantasan korupsi,&quot; tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
