<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mabes Polri: Teroris Anggap Kita Kafir &amp; Pantas Dibunuh</title><description>Belakangan ini aparat kepolisian kerap menjadi sasaran aksi  terorisme. Caranya pun beragam, ada yang melalui ancaman bom, ada pula  kabar yang menggunakan racun ke dalam makanan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2011/06/21/339/470827/mabes-polri-teroris-anggap-kita-kafir-pantas-dibunuh</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2011/06/21/339/470827/mabes-polri-teroris-anggap-kita-kafir-pantas-dibunuh"/><item><title>Mabes Polri: Teroris Anggap Kita Kafir &amp; Pantas Dibunuh</title><link>https://news.okezone.com/read/2011/06/21/339/470827/mabes-polri-teroris-anggap-kita-kafir-pantas-dibunuh</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2011/06/21/339/470827/mabes-polri-teroris-anggap-kita-kafir-pantas-dibunuh</guid><pubDate>Selasa 21 Juni 2011 12:21 WIB</pubDate><dc:creator>Dwi Afrilianti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/06/21/339/470827/npnwc7OC06.jpg" expression="full" type="image/jpeg">daylife</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/06/21/339/470827/npnwc7OC06.jpg</image><title>daylife</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Belakangan ini aparat kepolisian kerap menjadi sasaran aksi terorisme. Caranya pun beragam, ada yang melalui ancaman bom, ada pula kabar yang menggunakan racun ke dalam makanan.
&amp;nbsp;
Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Anton Bahrul Alam mengatakan, para teroris sengaja menjadikan polisi sebagai taget, karena polisi dianggap menghalang-halangi misi mereka dalam melakukan aksi teror.
&amp;nbsp;
Awalnya, lanjut dia, para teroris hanya menganggap polisi sebagai penegak hukum. Namun, persepsi berubah setelah polisi berhasil menangkap pemimpin jaringan teroris. Sejak itu polisi dianggap sebagai musuh bagi mereka.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Mereka menganggap bahwa kita itu kafir dan halal darahnya untuk dibunuh. Kita dianggap mereka sebagai musuh,&amp;rdquo; kata Anton kepada okezone di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Selasa (21/6/2011).
&amp;nbsp;
Namun demikian, lanjut Anton, polisi tidak akan menggap teroris sebagai musuh. &amp;ldquo;Mereka tetap bagian dari masyarakat yang harus kita didik,&amp;rdquo; pungkas mantan Kapolda Jawa Timur tersebut.
&amp;nbsp;
Sebagaimana diketahui, belakangan ini polisi berhasil menangkap sejumlah kelompok teroris. Di antaranya di Kemayoran, Pemalang, Pekalongan, Cirebon, dan terakhir di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Belakangan ini aparat kepolisian kerap menjadi sasaran aksi terorisme. Caranya pun beragam, ada yang melalui ancaman bom, ada pula kabar yang menggunakan racun ke dalam makanan.
&amp;nbsp;
Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Anton Bahrul Alam mengatakan, para teroris sengaja menjadikan polisi sebagai taget, karena polisi dianggap menghalang-halangi misi mereka dalam melakukan aksi teror.
&amp;nbsp;
Awalnya, lanjut dia, para teroris hanya menganggap polisi sebagai penegak hukum. Namun, persepsi berubah setelah polisi berhasil menangkap pemimpin jaringan teroris. Sejak itu polisi dianggap sebagai musuh bagi mereka.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Mereka menganggap bahwa kita itu kafir dan halal darahnya untuk dibunuh. Kita dianggap mereka sebagai musuh,&amp;rdquo; kata Anton kepada okezone di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Selasa (21/6/2011).
&amp;nbsp;
Namun demikian, lanjut Anton, polisi tidak akan menggap teroris sebagai musuh. &amp;ldquo;Mereka tetap bagian dari masyarakat yang harus kita didik,&amp;rdquo; pungkas mantan Kapolda Jawa Timur tersebut.
&amp;nbsp;
Sebagaimana diketahui, belakangan ini polisi berhasil menangkap sejumlah kelompok teroris. Di antaranya di Kemayoran, Pemalang, Pekalongan, Cirebon, dan terakhir di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan.</content:encoded></item></channel></rss>
