<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Si Abral, Mengais Rezeki dari Sajadah</title><description>Di saat anak seusia mereka yang mampu secara ekonomi menghabiskan  waktunya dengan bermain, Abral dan teman-temannya &amp;ndash;juga ribuan  Abral-Abral lainnya di Jakarta- harus ikut beribaku di jalanan mencari  duit.</description><link>https://news.okezone.com/read/2011/07/08/338/477552/si-abral-mengais-rezeki-dari-sajadah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2011/07/08/338/477552/si-abral-mengais-rezeki-dari-sajadah"/><item><title>Si Abral, Mengais Rezeki dari Sajadah</title><link>https://news.okezone.com/read/2011/07/08/338/477552/si-abral-mengais-rezeki-dari-sajadah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2011/07/08/338/477552/si-abral-mengais-rezeki-dari-sajadah</guid><pubDate>Jum'at 08 Juli 2011 15:07 WIB</pubDate><dc:creator>Dwi Afrilianti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/07/08/338/477552/SobPw1AoIx.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/07/08/338/477552/SobPw1AoIx.jpg</image><title>Ilustrasi</title></images><description>JAKARTA - Berpakaian rapi, bercelana panjang atau mengenakan sarung, sebagian berbaju koko dan songkok, serta menenteng sajadah untuk orang dewasa, anak-anak itu menggelayut di tangga lantai satu gedung utama Kementerian Hukum dan HAM RI, Jakarta.
&amp;nbsp;
Mereka nampak seumuran bocah di sekolah dasar dan layaknya anak-anak, suara mereka berisik, gaduh, kadang lari kesana-kemari, memecah suasana formal di sebuah kantor kementerian pada umumnya. Tapi, saat didekati dan diperhatikan, mereka bisa mendadak anteng, pura-pura ikut barisan orang salat dan teriak &amp;ldquo;Aaaaaaaaammmmmmmmmiiin&amp;rdquo;, mengikuti suara imam.
&amp;nbsp;
Lantai satu gedung utama Kementrian Hukum dan HAM sejak Mei lalu memang disulap menjadi masjid dadakan tiap Jumat karena masjid kementerian ini sedang direnovasi.
&amp;nbsp;
Karena ruangan terlalu kecil, banyak jamaah yang tak bisa salat di atas karpet dan membutuhkan sajadah. Inilah yang mengundang kedatangan anak-anak ini. Cukup dengan pandangan mata atau memperhatikan yang celingak-celinguk, mereka tahu betul mana jamaah yang membutuhkan jasa penyewaan sajadah dengan harga seikhlasnya tersebut.
&amp;nbsp;
Abral, seorang anak dari Kampung Pedurenan, tak jauh dari lokasi Kemenkumham, menceritakan, tiap Jumat, dia dan kawan-kawannya sengaja datang untuk mengais rejeki dari usaha meminjamkan sajadah. Usaha semacam ini diketahuinya dari mulut ke mulut, dari satu anak ke anak yang lain.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Saya dapat Rp7 ribu, saya dapat Rp3 ribu,&quot; sahut teman-teman di samping Abral, saat ditemui okezone, Jumat (8/7/2011)
&amp;nbsp;
Bekerja bagi Abral bukan hal baru. Di saat anak seusia mereka yang mampu secara ekonomi menghabiskan waktunya dengan bermain, Abral dan teman-temannya &amp;ndash;juga ribuan Abral-Abral lainnya di Jakarta- harus ikut beribaku di jalanan mencari duit.
&amp;nbsp;
Di hari-hari lain, Abral mengaku selalu bekerja serabutan usai pulang sekolah.
&amp;nbsp;
&quot;Kalau hujan, kita jadi ojek payung,&quot; katanya enteng dan pergi secara perlahan.</description><content:encoded>JAKARTA - Berpakaian rapi, bercelana panjang atau mengenakan sarung, sebagian berbaju koko dan songkok, serta menenteng sajadah untuk orang dewasa, anak-anak itu menggelayut di tangga lantai satu gedung utama Kementerian Hukum dan HAM RI, Jakarta.
&amp;nbsp;
Mereka nampak seumuran bocah di sekolah dasar dan layaknya anak-anak, suara mereka berisik, gaduh, kadang lari kesana-kemari, memecah suasana formal di sebuah kantor kementerian pada umumnya. Tapi, saat didekati dan diperhatikan, mereka bisa mendadak anteng, pura-pura ikut barisan orang salat dan teriak &amp;ldquo;Aaaaaaaaammmmmmmmmiiin&amp;rdquo;, mengikuti suara imam.
&amp;nbsp;
Lantai satu gedung utama Kementrian Hukum dan HAM sejak Mei lalu memang disulap menjadi masjid dadakan tiap Jumat karena masjid kementerian ini sedang direnovasi.
&amp;nbsp;
Karena ruangan terlalu kecil, banyak jamaah yang tak bisa salat di atas karpet dan membutuhkan sajadah. Inilah yang mengundang kedatangan anak-anak ini. Cukup dengan pandangan mata atau memperhatikan yang celingak-celinguk, mereka tahu betul mana jamaah yang membutuhkan jasa penyewaan sajadah dengan harga seikhlasnya tersebut.
&amp;nbsp;
Abral, seorang anak dari Kampung Pedurenan, tak jauh dari lokasi Kemenkumham, menceritakan, tiap Jumat, dia dan kawan-kawannya sengaja datang untuk mengais rejeki dari usaha meminjamkan sajadah. Usaha semacam ini diketahuinya dari mulut ke mulut, dari satu anak ke anak yang lain.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Saya dapat Rp7 ribu, saya dapat Rp3 ribu,&quot; sahut teman-teman di samping Abral, saat ditemui okezone, Jumat (8/7/2011)
&amp;nbsp;
Bekerja bagi Abral bukan hal baru. Di saat anak seusia mereka yang mampu secara ekonomi menghabiskan waktunya dengan bermain, Abral dan teman-temannya &amp;ndash;juga ribuan Abral-Abral lainnya di Jakarta- harus ikut beribaku di jalanan mencari duit.
&amp;nbsp;
Di hari-hari lain, Abral mengaku selalu bekerja serabutan usai pulang sekolah.
&amp;nbsp;
&quot;Kalau hujan, kita jadi ojek payung,&quot; katanya enteng dan pergi secara perlahan.</content:encoded></item></channel></rss>
