<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pengamat: Ada 127 Pesantren Radikal di Indonesia</title><description>Tiga pensantren di Bima, Nusa Tenggara Barat, dinilai hanya sebagian  kecil dari jaringan besar pesantren di Indonesia yang mengajarkan faham  radikalisme.</description><link>https://news.okezone.com/read/2011/07/20/340/481868/pengamat-ada-127-pesantren-radikal-di-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2011/07/20/340/481868/pengamat-ada-127-pesantren-radikal-di-indonesia"/><item><title>Pengamat: Ada 127 Pesantren Radikal di Indonesia</title><link>https://news.okezone.com/read/2011/07/20/340/481868/pengamat-ada-127-pesantren-radikal-di-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2011/07/20/340/481868/pengamat-ada-127-pesantren-radikal-di-indonesia</guid><pubDate>Rabu 20 Juli 2011 08:23 WIB</pubDate><dc:creator>Anton Suhartono</dc:creator><media:content url="https://e.okezone.com/error.png" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://e.okezone.com/error.png</image><title></title></images><description>JAKARTA- Tiga pensantren di Bima, Nusa Tenggara Barat, dinilai hanya sebagian kecil dari jaringan besar pesantren di Indonesia yang mengajarkan faham radikalisme.Pengamat terorisme Al Chaidar menyebutkan ada 127 pensatren serupa yang tersebar di seluruh Indonesia.&amp;ldquo;Saya melihat ada jaringan 127 pesantren yang radikal di seluruh Indonesia. Di Bima (NTB) saja sudah ada tiga pesantren,&amp;rdquo; ungkap Al Chaidar saat dihubungi okezone, Rabu (20/7/2011).Menurutnya, pesantren-pesantren tersebut dulunya merupakan jaringan Jamaah Islamiyah (JI). Meski JI saat ini sudah tidak ada, namun semangat jihad di kalangan mereka tetap dihidupkan.&amp;ldquo;Dulunya pesantren-pesantren itu adalah bagian dari JI. Sekarang mereka berkonsolidasi meski sebenarnya masing-masing mereka belum tentu memiliki pemahaman yang seragam tentang bentuk jihadi itu sendiri,&amp;rdquo; jelas pria yang pernah dekat dengan kalangan NII ini.Menurutnya, pesantren tersebut hampir rata tersebar di seluruh Indonesia, namun paling banyak terdapat di Pulau Jawa.&amp;ldquo;Di Jawa yang saya tahu paling banyak. Kemudian di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, kemudian di Bima NTB yang kita ketahui bersama,&amp;rdquo; bebernya.Meski demikian tidak semua pesantren tersebut berbahaya dalam pengertian akan melakukan aksi teror, namun pemahaman radikal memang diajarkan.Dia berharap ada upaya dari pemerintah, terutama Kementerian Agama untuk memberikan pendampingan terhadap pesantren-pesantren seperti ini.&amp;ldquo;Ini tanggung jawab pemerintah utamanya Kementerian Agama. Harus ada upaya diradikalisasi,&amp;rdquo; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA- Tiga pensantren di Bima, Nusa Tenggara Barat, dinilai hanya sebagian kecil dari jaringan besar pesantren di Indonesia yang mengajarkan faham radikalisme.Pengamat terorisme Al Chaidar menyebutkan ada 127 pensatren serupa yang tersebar di seluruh Indonesia.&amp;ldquo;Saya melihat ada jaringan 127 pesantren yang radikal di seluruh Indonesia. Di Bima (NTB) saja sudah ada tiga pesantren,&amp;rdquo; ungkap Al Chaidar saat dihubungi okezone, Rabu (20/7/2011).Menurutnya, pesantren-pesantren tersebut dulunya merupakan jaringan Jamaah Islamiyah (JI). Meski JI saat ini sudah tidak ada, namun semangat jihad di kalangan mereka tetap dihidupkan.&amp;ldquo;Dulunya pesantren-pesantren itu adalah bagian dari JI. Sekarang mereka berkonsolidasi meski sebenarnya masing-masing mereka belum tentu memiliki pemahaman yang seragam tentang bentuk jihadi itu sendiri,&amp;rdquo; jelas pria yang pernah dekat dengan kalangan NII ini.Menurutnya, pesantren tersebut hampir rata tersebar di seluruh Indonesia, namun paling banyak terdapat di Pulau Jawa.&amp;ldquo;Di Jawa yang saya tahu paling banyak. Kemudian di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, kemudian di Bima NTB yang kita ketahui bersama,&amp;rdquo; bebernya.Meski demikian tidak semua pesantren tersebut berbahaya dalam pengertian akan melakukan aksi teror, namun pemahaman radikal memang diajarkan.Dia berharap ada upaya dari pemerintah, terutama Kementerian Agama untuk memberikan pendampingan terhadap pesantren-pesantren seperti ini.&amp;ldquo;Ini tanggung jawab pemerintah utamanya Kementerian Agama. Harus ada upaya diradikalisasi,&amp;rdquo; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
