<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>GBS, Penyakit Mematikan yang Diawali Kesemutan</title><description>Gejala kesemutan tersebut sangat berbahaya jika kena sampai ke otot-otot pernafasan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2011/08/01/338/486719/gbs-penyakit-mematikan-yang-diawali-kesemutan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2011/08/01/338/486719/gbs-penyakit-mematikan-yang-diawali-kesemutan"/><item><title>GBS, Penyakit Mematikan yang Diawali Kesemutan</title><link>https://news.okezone.com/read/2011/08/01/338/486719/gbs-penyakit-mematikan-yang-diawali-kesemutan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2011/08/01/338/486719/gbs-penyakit-mematikan-yang-diawali-kesemutan</guid><pubDate>Senin 01 Agustus 2011 14:05 WIB</pubDate><dc:creator>Fahmi Firdaus </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/08/01/338/486719/dYfBeMCLOj.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Shafa Azalia (Foto: Fahmi Firdaus/okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/08/01/338/486719/dYfBeMCLOj.jpg</image><title>Shafa Azalia (Foto: Fahmi Firdaus/okezone)</title></images><description>JAKARTA - Penyebab penyakit mematikan Guillain Barre Syndrome (GBS) belum diketahui. Kata Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, gejala awal penyakit ini adalah kesemutan.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Upaya kita untuk mensosialisasikan ke dokter-dokter tentang penyakit ini. Ini sebenarnya cukup khas, dinilai dengan kesemutan-kesemutan di tangan dan kaki, lambat laun naik ke badan,&amp;rdquo; kata Endang usai menjenguk Shafa, seorang penderita GBS, di RS St Carolus, Jakarta, Senin (1/8/2011).
&amp;nbsp;
Dia mengatakan, gejala kesemutan tersebut sangat berbahaya jika kena sampai ke otot-otot pernafasan.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Sehingga harus di bantu ventilator. Obatnya diberikan lima hari saja. Selanjutnya tubuhnya yang akan mengatasi penyakit ini,&amp;rdquo; paparnya.
&amp;nbsp;
Menurutnya, penyakit ini seperti lupus yang menghantam kekebalan tubuh manusia. &amp;ldquo;Ini penyakit autoimmune. Artinya kekebalan orang tersebut menghantam tubuhnya sendiri. 60 persen tidak diketahui penyebabnya. Sisanya kemungkinan didahului infeksi virus, dan antibody terbentuk,&amp;rdquo; paparnya.
&amp;nbsp;
Shafa Azalia (4), sudah sekira satu tahun hidup dengan bantuan ventilator dan obat-obatan karena terserang GBS. Shafa kini harus terbaring lemah di ICU Rumah Sakit St Carolus, Jakarta Pusat, dengan alat-alat Bantu pengobatan yang menempel di tubuhnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Penyebab penyakit mematikan Guillain Barre Syndrome (GBS) belum diketahui. Kata Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, gejala awal penyakit ini adalah kesemutan.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Upaya kita untuk mensosialisasikan ke dokter-dokter tentang penyakit ini. Ini sebenarnya cukup khas, dinilai dengan kesemutan-kesemutan di tangan dan kaki, lambat laun naik ke badan,&amp;rdquo; kata Endang usai menjenguk Shafa, seorang penderita GBS, di RS St Carolus, Jakarta, Senin (1/8/2011).
&amp;nbsp;
Dia mengatakan, gejala kesemutan tersebut sangat berbahaya jika kena sampai ke otot-otot pernafasan.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Sehingga harus di bantu ventilator. Obatnya diberikan lima hari saja. Selanjutnya tubuhnya yang akan mengatasi penyakit ini,&amp;rdquo; paparnya.
&amp;nbsp;
Menurutnya, penyakit ini seperti lupus yang menghantam kekebalan tubuh manusia. &amp;ldquo;Ini penyakit autoimmune. Artinya kekebalan orang tersebut menghantam tubuhnya sendiri. 60 persen tidak diketahui penyebabnya. Sisanya kemungkinan didahului infeksi virus, dan antibody terbentuk,&amp;rdquo; paparnya.
&amp;nbsp;
Shafa Azalia (4), sudah sekira satu tahun hidup dengan bantuan ventilator dan obat-obatan karena terserang GBS. Shafa kini harus terbaring lemah di ICU Rumah Sakit St Carolus, Jakarta Pusat, dengan alat-alat Bantu pengobatan yang menempel di tubuhnya.</content:encoded></item></channel></rss>
