<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Persoalan Perbatasan Indonesia-Malaysia Seperti Landak</title><description>Pakar Hukum Laut Internasional, Hasjim Djalal mengibaratkan persoalan  perbatasan antara Indonesia dan Malaysia bagai hewan landak.</description><link>https://news.okezone.com/read/2011/10/21/337/518589/persoalan-perbatasan-indonesia-malaysia-seperti-landak</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2011/10/21/337/518589/persoalan-perbatasan-indonesia-malaysia-seperti-landak"/><item><title>Persoalan Perbatasan Indonesia-Malaysia Seperti Landak</title><link>https://news.okezone.com/read/2011/10/21/337/518589/persoalan-perbatasan-indonesia-malaysia-seperti-landak</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2011/10/21/337/518589/persoalan-perbatasan-indonesia-malaysia-seperti-landak</guid><pubDate>Jum'at 21 Oktober 2011 15:16 WIB</pubDate><dc:creator>Susi Fatimah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/10/21/337/518589/8QmsRI4XS5.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/10/21/337/518589/8QmsRI4XS5.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Pakar Hukum Laut Internasional, Hasjim Djalal mengibaratkan persoalan perbatasan antara Indonesia dan Malaysia bagai hewan landak.
&amp;nbsp;
&quot;Seperti dua burung landak di tengah malam dingin, terlalu jauh kedinginan kesepian, kalau terlalu dekat dia tusuk menusuk,&quot; ujar Hasjim dalam diskusi Perspektif Indonesia di Gedung DPD, Jakarta, Jumat (21/10/2011).
&amp;nbsp;
Selain itu, lanjutnya, persoalan perbatasan juga bergantung pada sikap negara tetangga. &quot;Pagar yang baik akan membuat tetangganya jadi baik. Begitu juga sebaliknya, kalau tidak jelas, akan jadi tetangga yang tidak baik dan bisa sebaliknya akan saling cakar-cakaran,&quot; tuturnya.
&amp;nbsp;
Oleh karena itu, lanjutnya penetapan perbatasan dan pengelolaan wilayah perbatasan harus dilakukan sejelas mungkin. &quot;Makanya, perlu pengelolaan dan penetapan perbatasan yang sejelas mungkin. Perlu perundingan yang jelas,&quot; katanya.
&amp;nbsp;
Hasjim menambahkan, kemampuan menjaga diri juga diperlukan dalam menangani persoalan pencaplokan perbatasan antar-kedua negara. &quot;Kita kalau ingin damai harus siap kalau dipukulin, siap kalau dilecehkan. Artinya pembinaan kemampuan untuk menjaga diri tidak kemampuan agresivitas,&quot; tuturnya.
&amp;nbsp;
Selain itu, lanjutnya, dalam pengelolaan perbatasan wilayah harus sangat hati-hati karena persoalan perbatasan tidak semudah yang dibayangkan. Karena berada dalam hukum internasional, batas bisa tumbuh dan hilang secara alamiah.</description><content:encoded>JAKARTA - Pakar Hukum Laut Internasional, Hasjim Djalal mengibaratkan persoalan perbatasan antara Indonesia dan Malaysia bagai hewan landak.
&amp;nbsp;
&quot;Seperti dua burung landak di tengah malam dingin, terlalu jauh kedinginan kesepian, kalau terlalu dekat dia tusuk menusuk,&quot; ujar Hasjim dalam diskusi Perspektif Indonesia di Gedung DPD, Jakarta, Jumat (21/10/2011).
&amp;nbsp;
Selain itu, lanjutnya, persoalan perbatasan juga bergantung pada sikap negara tetangga. &quot;Pagar yang baik akan membuat tetangganya jadi baik. Begitu juga sebaliknya, kalau tidak jelas, akan jadi tetangga yang tidak baik dan bisa sebaliknya akan saling cakar-cakaran,&quot; tuturnya.
&amp;nbsp;
Oleh karena itu, lanjutnya penetapan perbatasan dan pengelolaan wilayah perbatasan harus dilakukan sejelas mungkin. &quot;Makanya, perlu pengelolaan dan penetapan perbatasan yang sejelas mungkin. Perlu perundingan yang jelas,&quot; katanya.
&amp;nbsp;
Hasjim menambahkan, kemampuan menjaga diri juga diperlukan dalam menangani persoalan pencaplokan perbatasan antar-kedua negara. &quot;Kita kalau ingin damai harus siap kalau dipukulin, siap kalau dilecehkan. Artinya pembinaan kemampuan untuk menjaga diri tidak kemampuan agresivitas,&quot; tuturnya.
&amp;nbsp;
Selain itu, lanjutnya, dalam pengelolaan perbatasan wilayah harus sangat hati-hati karena persoalan perbatasan tidak semudah yang dibayangkan. Karena berada dalam hukum internasional, batas bisa tumbuh dan hilang secara alamiah.</content:encoded></item></channel></rss>
