<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pergantian Kemendiknas Jadi Kemendikbud Langkah Tepat</title><description>Keputusan pemerintah mengganti nama Kemendiknas menjadi Kemendikbud dinilai sebagai langkah yang tepat.</description><link>https://news.okezone.com/read/2011/10/25/373/520157/pergantian-kemendiknas-jadi-kemendikbud-langkah-tepat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2011/10/25/373/520157/pergantian-kemendiknas-jadi-kemendikbud-langkah-tepat"/><item><title>Pergantian Kemendiknas Jadi Kemendikbud Langkah Tepat</title><link>https://news.okezone.com/read/2011/10/25/373/520157/pergantian-kemendiknas-jadi-kemendikbud-langkah-tepat</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2011/10/25/373/520157/pergantian-kemendiknas-jadi-kemendikbud-langkah-tepat</guid><pubDate>Selasa 25 Oktober 2011 15:32 WIB</pubDate><dc:creator>Marieska Harya Virdhani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/10/25/373/520157/94GeCpa4BA.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto : Rifa Nadia Nurfuadah/okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/10/25/373/520157/94GeCpa4BA.jpg</image><title>Foto : Rifa Nadia Nurfuadah/okezone</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Keputusan pemerintah mengganti nama Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) menjadi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dinilai sebagai langkah yang tepat.Hal itu diungkapkan oleh Dewan Penyantun Universitas Pancasila (UP) Agum Gumelar. Menurut Agum, budaya dan pendidikan memang memiliki relevansi. Apalagi, kata dia, yang membedakan antara satu bangsa dan bangsa lainnya adalah latar belakang budaya.&amp;nbsp;&amp;ldquo;Karena adanya relevansi yang kuat, biarkan budaya itu lestari. Dengan adanya pendidikan bangsa dan budaya, kita bisa membedakan pola pikir suatu bangsa,&amp;rdquo; tutur Agum usai Upacara Wisuda Universitas Pancasila (UP) di Jakarta Convention Center (JCC), Selasa (25/10/11).Dia mencontohkan, budaya di China jauh berkembang pesat, sebab pendidikan yang digeluti Sumber Daya Manusia (SDM) di China, diemban dengan baik. Padahal Indonesia merupakan negara yang lebih unggul di ASEAN, baik dari kualitas sumber daya alam dan kualitas penduduknya.&amp;ldquo;Kita bicara sektor perikanan saja. Indonesia adalah negara dengan sumber ikan terbesar, karena itu banyak negara seperti Malaysia dan China merapatkan kapal dan mencuri ikan kita,&amp;rdquo; jelas Mantan Menteri Perhubungan di era Presiden Megawati Soekarnoputri itu.Agum meminta, agar generasi muda mulai berpikir komparatif ke arah persaingan yang bersifat kompetitif. Para lulusan sarjana Indonesia, kata dia, masih tergolong sedikit jika dibandingkan dengan Negeri Jiran.&amp;ldquo;Masih sedikit sekali, baru belasan persen. Sedangkan di Malaysia lulusan sarjana sudah mencapai 40 persen. Awalnya Indonesia mengirim guru ke Malaysia, tetapi kini justru tertinggal. Karena itu, anggaran pendidikan harus terus ditingkatkan, namun yang selama ini terjadi, anggaran pendidikan kurang terserap,&amp;rdquo; tegasnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Keputusan pemerintah mengganti nama Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) menjadi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dinilai sebagai langkah yang tepat.Hal itu diungkapkan oleh Dewan Penyantun Universitas Pancasila (UP) Agum Gumelar. Menurut Agum, budaya dan pendidikan memang memiliki relevansi. Apalagi, kata dia, yang membedakan antara satu bangsa dan bangsa lainnya adalah latar belakang budaya.&amp;nbsp;&amp;ldquo;Karena adanya relevansi yang kuat, biarkan budaya itu lestari. Dengan adanya pendidikan bangsa dan budaya, kita bisa membedakan pola pikir suatu bangsa,&amp;rdquo; tutur Agum usai Upacara Wisuda Universitas Pancasila (UP) di Jakarta Convention Center (JCC), Selasa (25/10/11).Dia mencontohkan, budaya di China jauh berkembang pesat, sebab pendidikan yang digeluti Sumber Daya Manusia (SDM) di China, diemban dengan baik. Padahal Indonesia merupakan negara yang lebih unggul di ASEAN, baik dari kualitas sumber daya alam dan kualitas penduduknya.&amp;ldquo;Kita bicara sektor perikanan saja. Indonesia adalah negara dengan sumber ikan terbesar, karena itu banyak negara seperti Malaysia dan China merapatkan kapal dan mencuri ikan kita,&amp;rdquo; jelas Mantan Menteri Perhubungan di era Presiden Megawati Soekarnoputri itu.Agum meminta, agar generasi muda mulai berpikir komparatif ke arah persaingan yang bersifat kompetitif. Para lulusan sarjana Indonesia, kata dia, masih tergolong sedikit jika dibandingkan dengan Negeri Jiran.&amp;ldquo;Masih sedikit sekali, baru belasan persen. Sedangkan di Malaysia lulusan sarjana sudah mencapai 40 persen. Awalnya Indonesia mengirim guru ke Malaysia, tetapi kini justru tertinggal. Karena itu, anggaran pendidikan harus terus ditingkatkan, namun yang selama ini terjadi, anggaran pendidikan kurang terserap,&amp;rdquo; tegasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
