<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Rektor UIN Sesalkan Agama Jadi Alat Politik Penguasa</title><description>Komarudin mencontohkan, dalam setiap Pemilukada, agama selalu menjadi mobilitas politik untuk mendulang suara. Kalau ini yang terjadi,&amp;nbsp; simbol agama akan jadi pemicu  konflik.</description><link>https://news.okezone.com/read/2011/10/27/339/521318/rektor-uin-sesalkan-agama-jadi-alat-politik-penguasa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2011/10/27/339/521318/rektor-uin-sesalkan-agama-jadi-alat-politik-penguasa"/><item><title>Rektor UIN Sesalkan Agama Jadi Alat Politik Penguasa</title><link>https://news.okezone.com/read/2011/10/27/339/521318/rektor-uin-sesalkan-agama-jadi-alat-politik-penguasa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2011/10/27/339/521318/rektor-uin-sesalkan-agama-jadi-alat-politik-penguasa</guid><pubDate>Kamis 27 Oktober 2011 16:12 WIB</pubDate><dc:creator>Marieska Harya Virdhani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/10/27/339/521318/Rb8SMsNGIC.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Rektor UIN Komaruddin Hidayat </media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/10/27/339/521318/Rb8SMsNGIC.jpg</image><title>Rektor UIN Komaruddin Hidayat </title></images><description>DEPOK &amp;ndash; Rektor Universitas Islam Indonesia (UIN) Komaruddin Hidayat, menilai telah terjadi pergeseran fungsi tokoh agama di Indonesia dari mulai masa lalu sejak sebelum kemerdekaan, hingga saat ini pascareformasi. Kemajemukan agama yang ada di Indonesia saat ini sudah lahir kembali di ruang publik, bahkan saat ini sudah dijadikan kendaraan politik oleh para politisi.Dulu, kata Komaruddin, tokoh agama begitu besar pengaruhnya untuk menyumbangkan segala macam pikiran dengan kekuatan yang dimiliki. Namun, lanjutnya, saat ini justru agama tampil ke ruang publik digunakan sebagai bagian untuk meraih kekuasaan.&amp;ldquo;Seperti contohnya, Presiden harus mempertimbangkan matang-matang saat mereshuffle menteri yang punya latar belakang atau kekuatan tokoh agama, karena dampaknya akan lebih besar, agama jadi instrumen,&amp;rdquo; katanya dalam diskusi Keberagaman dalam Arena Berbangsa di Kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, Kamis (27/10/11).Contoh lain, Komaruddin menyebut dalam setiap Pemilukada, agama selalu menjadi mobilitas politik untuk mendulang suara.Kalau ini yang terjadi, kata Komaruddin, simbol agama akan jadi pemicu konflik, dan yang lebih parah, kalau agama sudah dimanfaatkan oleh politisi. &amp;ldquo;Kita lihat Pilkada Jakarta petanya kan lebih banyak masyarakatnya ke NU, maka yang diusung nama Foke (Fauzi Bowo) dan Djan Farid, punya mobilitas politik, itu tak bisa dibantah,&amp;rdquo; tegasnya.Ia khawatir, jika tak diselamatkan maka akan timbul proses destruktif terhadap tokoh agama. &amp;ldquo;Yang ada pembusukan, dulu tokoh agama intelektual dan pejuang kita pernah alami semangat kenegarawanan, namun sekarang mengendur, yang ada kekuasaan,&amp;rdquo; jelasnya.</description><content:encoded>DEPOK &amp;ndash; Rektor Universitas Islam Indonesia (UIN) Komaruddin Hidayat, menilai telah terjadi pergeseran fungsi tokoh agama di Indonesia dari mulai masa lalu sejak sebelum kemerdekaan, hingga saat ini pascareformasi. Kemajemukan agama yang ada di Indonesia saat ini sudah lahir kembali di ruang publik, bahkan saat ini sudah dijadikan kendaraan politik oleh para politisi.Dulu, kata Komaruddin, tokoh agama begitu besar pengaruhnya untuk menyumbangkan segala macam pikiran dengan kekuatan yang dimiliki. Namun, lanjutnya, saat ini justru agama tampil ke ruang publik digunakan sebagai bagian untuk meraih kekuasaan.&amp;ldquo;Seperti contohnya, Presiden harus mempertimbangkan matang-matang saat mereshuffle menteri yang punya latar belakang atau kekuatan tokoh agama, karena dampaknya akan lebih besar, agama jadi instrumen,&amp;rdquo; katanya dalam diskusi Keberagaman dalam Arena Berbangsa di Kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, Kamis (27/10/11).Contoh lain, Komaruddin menyebut dalam setiap Pemilukada, agama selalu menjadi mobilitas politik untuk mendulang suara.Kalau ini yang terjadi, kata Komaruddin, simbol agama akan jadi pemicu konflik, dan yang lebih parah, kalau agama sudah dimanfaatkan oleh politisi. &amp;ldquo;Kita lihat Pilkada Jakarta petanya kan lebih banyak masyarakatnya ke NU, maka yang diusung nama Foke (Fauzi Bowo) dan Djan Farid, punya mobilitas politik, itu tak bisa dibantah,&amp;rdquo; tegasnya.Ia khawatir, jika tak diselamatkan maka akan timbul proses destruktif terhadap tokoh agama. &amp;ldquo;Yang ada pembusukan, dulu tokoh agama intelektual dan pejuang kita pernah alami semangat kenegarawanan, namun sekarang mengendur, yang ada kekuasaan,&amp;rdquo; jelasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
