<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Yuk Belajar Kimia Lewat Kartu</title><description>Metode pembelajaran kreatif marak digunakan oleh tenaga pendidik  guna memudahkan para pelajar dalam memahami materi yang diajarkan,  terutama untuk pelajaran eksakta. Salah satunya adalah kimia.</description><link>https://news.okezone.com/read/2011/10/27/373/521157/yuk-belajar-kimia-lewat-kartu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2011/10/27/373/521157/yuk-belajar-kimia-lewat-kartu"/><item><title>Yuk Belajar Kimia Lewat Kartu</title><link>https://news.okezone.com/read/2011/10/27/373/521157/yuk-belajar-kimia-lewat-kartu</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2011/10/27/373/521157/yuk-belajar-kimia-lewat-kartu</guid><pubDate>Kamis 27 Oktober 2011 12:16 WIB</pubDate><dc:creator>Margaret Puspitarini</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/10/27/373/521157/iJvRerVdgg.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto : UNY</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/10/27/373/521157/iJvRerVdgg.jpg</image><title>Foto : UNY</title></images><description>JAKARTA - Metode pembelajaran kreatif marak digunakan oleh tenaga pendidik guna memudahkan para pelajar dalam memahami materi yang diajarkan, terutama untuk pelajaran eksakta. Salah satunya adalah kimia.Kesulitan memahami nama-nama unsur kimia, lambang, maupun cara menghitung atom, mengilhami sejumlah mahasiswa Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) untuk menciptakan kartu kimia berbahan dasar limbah kardus.Penggunaan bahan baku limbah kardus bukan bahan plastik seperti umumnya membuat produk karya Sulis Setyowati, Erni Widiyastutik, dan Ria Nurindah ini mendatangkan banyak manfaat. Selain menjadi media pembelajaran kreatif, alat ini dapat meringankan biaya pendidikan dan berperan serta menjadi kelestarian lingkungan.Sulis Setyowati mengatakan, kartu ini mengangkat materi pelajaran stikiometri yang dirasa sangat menjenuhkan. &quot;Kami mengangkat tema stikiometri karena menurut siswa materi ini cukup menjenuhkan,&quot; ujar Sulis seperti dikutip dari laman UNY, Kamis (27/10/2011).Menurut mahasiswa program studi (prodi) Pendidikan Kimia ini, metode pembelajaran yang satu arah akan membuat siswa cepat merasa bosan. Maka, penerapan metode Teams Game Tournament dirasa sebagai salah satu solusi.&quot;Pembelajaran satu arah menjadikan peserta didik lebih cepat bosan dalam mempelajari stikiometri sehingga penerapan metode pembelajaran Teams Game Tournament yang dilengkapi kartu kimia ini diharapkan meningkatkan motivasi dan prestasi peserta didik dalam proses pembelajaran,&quot; katanya menerangkan.Sementara Erni Widiyastutik menyebutkan, pembuatan kartu kimia cukup mudah dan bisa dilakukan oleh para pelajar. Bahan dan alatnya diperlukan, lanjut Erni, yaitu limbah kardus, lem, gunting, spidol, plastik, dan penggaris.&quot;Kemudian, desain kartu stikiometri lalu dicetak seukuran kartu kimia berdasarkan teori yang telah diajarkan ketika SMA. Tahap akhir, kartu tersebut kami konsultasikan pada dosen pembimbing dan guru SMA untuk mendapatkan masukan dan revisi agar layak digunakan sebagai media pembelajaran di berbagai institusi pendidikan,&quot; tutur Erni.Erni mengungkapkan, kartu kimia ini telah diujicoba di SMAN 4 Yogyakarta dan mendapat sambutan positifa dari para pelajar. &quot;Memang pada mulanya siswa kebingungan, namun lama-kelamaan siswa menanggapi dengan positif,&quot; katanya.</description><content:encoded>JAKARTA - Metode pembelajaran kreatif marak digunakan oleh tenaga pendidik guna memudahkan para pelajar dalam memahami materi yang diajarkan, terutama untuk pelajaran eksakta. Salah satunya adalah kimia.Kesulitan memahami nama-nama unsur kimia, lambang, maupun cara menghitung atom, mengilhami sejumlah mahasiswa Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) untuk menciptakan kartu kimia berbahan dasar limbah kardus.Penggunaan bahan baku limbah kardus bukan bahan plastik seperti umumnya membuat produk karya Sulis Setyowati, Erni Widiyastutik, dan Ria Nurindah ini mendatangkan banyak manfaat. Selain menjadi media pembelajaran kreatif, alat ini dapat meringankan biaya pendidikan dan berperan serta menjadi kelestarian lingkungan.Sulis Setyowati mengatakan, kartu ini mengangkat materi pelajaran stikiometri yang dirasa sangat menjenuhkan. &quot;Kami mengangkat tema stikiometri karena menurut siswa materi ini cukup menjenuhkan,&quot; ujar Sulis seperti dikutip dari laman UNY, Kamis (27/10/2011).Menurut mahasiswa program studi (prodi) Pendidikan Kimia ini, metode pembelajaran yang satu arah akan membuat siswa cepat merasa bosan. Maka, penerapan metode Teams Game Tournament dirasa sebagai salah satu solusi.&quot;Pembelajaran satu arah menjadikan peserta didik lebih cepat bosan dalam mempelajari stikiometri sehingga penerapan metode pembelajaran Teams Game Tournament yang dilengkapi kartu kimia ini diharapkan meningkatkan motivasi dan prestasi peserta didik dalam proses pembelajaran,&quot; katanya menerangkan.Sementara Erni Widiyastutik menyebutkan, pembuatan kartu kimia cukup mudah dan bisa dilakukan oleh para pelajar. Bahan dan alatnya diperlukan, lanjut Erni, yaitu limbah kardus, lem, gunting, spidol, plastik, dan penggaris.&quot;Kemudian, desain kartu stikiometri lalu dicetak seukuran kartu kimia berdasarkan teori yang telah diajarkan ketika SMA. Tahap akhir, kartu tersebut kami konsultasikan pada dosen pembimbing dan guru SMA untuk mendapatkan masukan dan revisi agar layak digunakan sebagai media pembelajaran di berbagai institusi pendidikan,&quot; tutur Erni.Erni mengungkapkan, kartu kimia ini telah diujicoba di SMAN 4 Yogyakarta dan mendapat sambutan positifa dari para pelajar. &quot;Memang pada mulanya siswa kebingungan, namun lama-kelamaan siswa menanggapi dengan positif,&quot; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
