<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pengelolaan Tanah Abang Rugikan Pedagang Lama</title><description>Indonesia Traditional Market Watch tengah mengusut&amp;nbsp;dugaan skandal mega korupsi atas pengelolaan pasar regional Blok A Tanah Abang yang dibangun oleh perusahaan milik menteri perumahan, Djan Faridz yaitu PT Priamanaya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2011/11/09/338/527218/pengelolaan-tanah-abang-rugikan-pedagang-lama</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2011/11/09/338/527218/pengelolaan-tanah-abang-rugikan-pedagang-lama"/><item><title>Pengelolaan Tanah Abang Rugikan Pedagang Lama</title><link>https://news.okezone.com/read/2011/11/09/338/527218/pengelolaan-tanah-abang-rugikan-pedagang-lama</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2011/11/09/338/527218/pengelolaan-tanah-abang-rugikan-pedagang-lama</guid><pubDate>Rabu 09 November 2011 18:30 WIB</pubDate><dc:creator>Reka Agni Maharani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/11/09/338/527218/0Tw1SuW9ua.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/11/09/338/527218/0Tw1SuW9ua.jpg</image><title>Ilustrasi</title></images><description>JAKARTA - Indonesia Traditional Market Watch tengah mengusut dugaan skandal mega korupsi atas pengelolaan pasar regional Blok A Tanah Abang yang dibangun oleh perusahaan milik menteri perumahan, Djan Faridz yaitu PT Priamanaya.
&amp;nbsp;
Menurut Direktur eksekutif Indonesia Traditional Watch, Hasan Basri, dugaan skandal korupsi tersebut membuat pedagang-pedagang lama di Tanah Abang tersingkirkan.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Tersingkirnya pedagang lama atau pedagang pribumi disingkirkan dengan 2 cara, pertama dengan penempatan posisi dan kedua dengan harga beli maupun sewa kios yang mahal,&quot; ujarnya kepada wartawan, rabu (9/11/2011) saat konferensi pers di ruang wartawan Balaikota, Jakarta Pusat.
&amp;nbsp;
Berawal dari relokasi pasca kebakaran Pasar Tanah Abang tahun 2003, pedagang lama dipindah ke lantai 1 pasar Blok A. Tetapi menurut Hasan Basri, lantai 1 yang dimaksud kenyataannya adalah lantai 5, sehingga membuat pedagang lama tersaingi dengan pedagang-pedagang baru yang menempati kios di bawah.
&amp;nbsp;
&quot;Sedangkan kalau kita menempati kios di posisi bawah, sewanya per meter persegi bisa sampai 500 juta,&quot; imbuhnya.
&amp;nbsp;
Separuh lebih dari 3000 pedagang lama yang menempati pasar Blok A akhirnya memilih memilih berjualan di tempat lain karena merasa diperlakukan tidak adil.</description><content:encoded>JAKARTA - Indonesia Traditional Market Watch tengah mengusut dugaan skandal mega korupsi atas pengelolaan pasar regional Blok A Tanah Abang yang dibangun oleh perusahaan milik menteri perumahan, Djan Faridz yaitu PT Priamanaya.
&amp;nbsp;
Menurut Direktur eksekutif Indonesia Traditional Watch, Hasan Basri, dugaan skandal korupsi tersebut membuat pedagang-pedagang lama di Tanah Abang tersingkirkan.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Tersingkirnya pedagang lama atau pedagang pribumi disingkirkan dengan 2 cara, pertama dengan penempatan posisi dan kedua dengan harga beli maupun sewa kios yang mahal,&quot; ujarnya kepada wartawan, rabu (9/11/2011) saat konferensi pers di ruang wartawan Balaikota, Jakarta Pusat.
&amp;nbsp;
Berawal dari relokasi pasca kebakaran Pasar Tanah Abang tahun 2003, pedagang lama dipindah ke lantai 1 pasar Blok A. Tetapi menurut Hasan Basri, lantai 1 yang dimaksud kenyataannya adalah lantai 5, sehingga membuat pedagang lama tersaingi dengan pedagang-pedagang baru yang menempati kios di bawah.
&amp;nbsp;
&quot;Sedangkan kalau kita menempati kios di posisi bawah, sewanya per meter persegi bisa sampai 500 juta,&quot; imbuhnya.
&amp;nbsp;
Separuh lebih dari 3000 pedagang lama yang menempati pasar Blok A akhirnya memilih memilih berjualan di tempat lain karena merasa diperlakukan tidak adil.</content:encoded></item></channel></rss>
