<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Makna kepahlawanan dipengaruhi kepentingan penguasa</title><description>Pada masa Soekarno, tokoh-tokohnya 50 persen masih bisa dipertanggungjawabkan. Pada era Soeharto mulai dipengaruhi unsur politiknya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2011/11/10/435/527348/makna-kepahlawanan-dipengaruhi-kepentingan-penguasa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2011/11/10/435/527348/makna-kepahlawanan-dipengaruhi-kepentingan-penguasa"/><item><title>Makna kepahlawanan dipengaruhi kepentingan penguasa</title><link>https://news.okezone.com/read/2011/11/10/435/527348/makna-kepahlawanan-dipengaruhi-kepentingan-penguasa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2011/11/10/435/527348/makna-kepahlawanan-dipengaruhi-kepentingan-penguasa</guid><pubDate>Kamis 10 November 2011 08:15 WIB</pubDate><dc:creator>Dede Suryana (Okezone)</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/11/10/435/527348/bTemF2LM3X.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/11/10/435/527348/bTemF2LM3X.jpg</image><title>Ilustrasi</title></images><description>Sindonews.com-Makna&amp;nbsp; kepahlawanan, sejak zaman Soeharto mulai bergeser dari sustansi. Pemberian gelar lebih cenderung pada pertimbangan politik. Kepahlawanan seharusnya ditekankan pada tauladan dari nilai-nilai perjuangan untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi ironi jika memperingati hari pahlawan sebatas seremoni. &quot;Pada masa Soekarno, tokoh-tokohnya 50 persen masih bisa dipertanggungjawabkan,&quot; ujar sejarawan Universitas Indonesia (UI) JJ Rizal, Jakarta, Rabu, 9 November 2011.Menurutnya, pemberian gelar pahlawan tidak mutlak berdasarkan pertimbangan sejarah. Tapi, setelah ditetapkan secara resmi hari pahlawan, figur-figur yang secara historis ikut berjuang pun diberi gelar kepahlawanan.Bahkan, mulai dicampuri kepentingan rezim penguasa.&quot;Saat ini kita sudah kehilangan warisan nilai-nilai perjuangan yang dibawa oleh para pahlawan. Semua sekarang penuh dengan kepentingan,&quot; tukasnya.Menjelang tahun 1950-an, atau tepatnya tanggal 10 November ditetapkan sebagai hari pahlawan. Usulan ini datang dari mantan pimpinan tertinggi gerakan Pemuda Republik Indonesia (PRI) Sumarsono yang ikut dalam pertempuran hebat antara arek-arek Suroboyo dengan serdadu NICA yang diboncengi Belanda.Rizal mengatakan, Bung Karno sengaja menjadikan momentum kala itu&amp;nbsp; untuk melegitimasi peran militer dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Sehingga nilai kepahlawanan tersemat dalam sebuah perjuangan melawan agresi militer.&quot;Untuk memobilasi kepahlawanan secara militeristik, makanya 10 November dijadikan Hari Pahlawan,&quot; jelasnya.Secara terpisah, Menteri Koordinator Politik, hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Djoko Suyanto mengajak semua pihak untuk mencermati kembali makna kepahlawanan. Menurutnya, kepahlawanan tidak mesti dari kalangan yang mengangkat senjata saja. &quot;Tapi kepada pihak yang membangun untuk masyraakat ini, bagi yang berjuang tanpa pamrih tanpa melihat untung rugi. Jadi nilai-nilai yang perlu ditekankan,&quot; ucapnya dalam perbincangan di Sindoradio pagi ini.</description><content:encoded>Sindonews.com-Makna&amp;nbsp; kepahlawanan, sejak zaman Soeharto mulai bergeser dari sustansi. Pemberian gelar lebih cenderung pada pertimbangan politik. Kepahlawanan seharusnya ditekankan pada tauladan dari nilai-nilai perjuangan untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi ironi jika memperingati hari pahlawan sebatas seremoni. &quot;Pada masa Soekarno, tokoh-tokohnya 50 persen masih bisa dipertanggungjawabkan,&quot; ujar sejarawan Universitas Indonesia (UI) JJ Rizal, Jakarta, Rabu, 9 November 2011.Menurutnya, pemberian gelar pahlawan tidak mutlak berdasarkan pertimbangan sejarah. Tapi, setelah ditetapkan secara resmi hari pahlawan, figur-figur yang secara historis ikut berjuang pun diberi gelar kepahlawanan.Bahkan, mulai dicampuri kepentingan rezim penguasa.&quot;Saat ini kita sudah kehilangan warisan nilai-nilai perjuangan yang dibawa oleh para pahlawan. Semua sekarang penuh dengan kepentingan,&quot; tukasnya.Menjelang tahun 1950-an, atau tepatnya tanggal 10 November ditetapkan sebagai hari pahlawan. Usulan ini datang dari mantan pimpinan tertinggi gerakan Pemuda Republik Indonesia (PRI) Sumarsono yang ikut dalam pertempuran hebat antara arek-arek Suroboyo dengan serdadu NICA yang diboncengi Belanda.Rizal mengatakan, Bung Karno sengaja menjadikan momentum kala itu&amp;nbsp; untuk melegitimasi peran militer dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Sehingga nilai kepahlawanan tersemat dalam sebuah perjuangan melawan agresi militer.&quot;Untuk memobilasi kepahlawanan secara militeristik, makanya 10 November dijadikan Hari Pahlawan,&quot; jelasnya.Secara terpisah, Menteri Koordinator Politik, hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Djoko Suyanto mengajak semua pihak untuk mencermati kembali makna kepahlawanan. Menurutnya, kepahlawanan tidak mesti dari kalangan yang mengangkat senjata saja. &quot;Tapi kepada pihak yang membangun untuk masyraakat ini, bagi yang berjuang tanpa pamrih tanpa melihat untung rugi. Jadi nilai-nilai yang perlu ditekankan,&quot; ucapnya dalam perbincangan di Sindoradio pagi ini.</content:encoded></item></channel></rss>
