<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menengok Pabrik Pupuk Kompos di Bali</title><description>Tempat Pembuangan Akhir (TPA) biasanya identik dengan tempat yang kotor dengan bau sampah yang menyengat dan sumber penyakit. Namun hal itu berbeda dirasakan saat masuk ke dalam TPA Temisi di Kabupaten Gianyar, Bali.</description><link>https://news.okezone.com/read/2011/11/24/337/533710/menengok-pabrik-pupuk-kompos-di-bali</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2011/11/24/337/533710/menengok-pabrik-pupuk-kompos-di-bali"/><item><title>Menengok Pabrik Pupuk Kompos di Bali</title><link>https://news.okezone.com/read/2011/11/24/337/533710/menengok-pabrik-pupuk-kompos-di-bali</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2011/11/24/337/533710/menengok-pabrik-pupuk-kompos-di-bali</guid><pubDate>Kamis 24 November 2011 15:02 WIB</pubDate><dc:creator>Susi Fatimah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/11/24/337/533710/nOncwR3ncl.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Suasana TPA Temisi di Kabupaten Gianyar, Bali.(Susi Fatimah/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/11/24/337/533710/nOncwR3ncl.jpg</image><title>Suasana TPA Temisi di Kabupaten Gianyar, Bali.(Susi Fatimah/Okezone)</title></images><description>GIANYAR - Tempat Pembuangan Akhir (TPA) biasanya identik dengan tempat yang kotor dengan bau sampah yang menyengat dan sumber penyakit. Namun hal itu berbeda dirasakan saat masuk ke dalam TPA Temisi di Kabupaten Gianyar, Bali.
&amp;nbsp;
Saat memasuki gerbang utama, nampak sebuah taman yang asri dengan puluhan jenis tanaman tumbuh rindang di tanah seluas 2400 meter persegi tersebut. Di tengah teman terdapat sebuah saung besar yang terbuat dari rotan khas Bali semakin menambah indah suasana TPA yang diresmikan 2008 lalu.
&amp;nbsp;
Masih dalam komplek yang sama, terdapat sebuah bangunan memanjang layaknya gudang terbuka berisi tumpukan sampah yang sudah dan belum menjadi kompos. Terlihat puluhan pekerja tengah sibuk memilah sampah organik dan non organik.
&amp;nbsp;
Tak jauh dari sana ada bangunan berukuran 400 meter persegi di dalamnya terdapat sebuah laboratorium kecil dan ruang sekretariat. Seorang wanita berkulit putih menyapa dengan ramah kedatangan kami.
&amp;nbsp;
Christine Gunawan selaku Sales and Science Manager TPA tersebut menerangkan dengan detail konsep pembangunan TPA ini. Christine menceritakan tanah yang dibangun untuk TPA tersebut dahulunya merupakan tanah yang penuh dengan tumpukan sampah, sehingga di bawah pondasi bangunan TPA tersebut merupakan sampah-sampah.
&amp;nbsp;
&quot;Dibawah pondasi ini sampah semua, kita bangun di atas sampah-sampah,&quot; katanya membuka pembicaraan.
&amp;nbsp;
Christine menjelaskan, dalam sehari TPA ini bisa menerima 100 ton sampah dalam sehari yang&amp;nbsp; berasal dari Gianyar. Dari total itu sekitar 40 sampai 50 ton sampah diolah menjadi pupuk kompos dan menghasilkan 15 hingga 20 ton kompos berkualitas setiap harinya. Jumlah tersebut meningkat setiap tahunnya.&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
Dari jumlah kompos yang dihasilkan, lanjutnya, permintaan pupuk kompos masih tergolong sedikit jumlahnya. Hal itu karena warga Gianyar sendiri enggan menggunakan kompos dalam pertaniannya. Warga lebih senang menggunakan pupuk kimia yaitu urea untuk bercocok tanam padi karena lebih cepat dan menghasilkan panen yang banyak. Meski untuk jangka panjang penggunaan pupuk kimia tidak baik.
&amp;nbsp;
Kendati tidak diterima di tempatnya sendiri, Christine bersama timnya yang berjumlah 30 orang terus berusaha agar kompos yang dihasilkan bisa laku dipasaran. Salah satunya dengan bekerjasama dengan hotel-hotel yang ada di kawasan Bali serta merambah ke Pulau Jawa.
&amp;nbsp;
Menurut Christine, penolakan warga Gianyar sudah dimaklumi. Sebelumnya ketika ingin membangun TPA tersebut pun warga sempat menolak. Namun setelah ada perundingan, TPA yang digagas oleh David Cuber seorang kebangsaan Swiss ini berhasil dibangun.
&amp;nbsp;
Christine mengaku prihatin justru pihak asing yang peduli dan tertarik pada TPA tersebut. Dia mencontohkan seperti hari ini tim dari CNN datang untuk meliput proses pengolahan sampah tersebut. Seminggu lalu, dari Swiss TV dan Jerman TV pun datang berkunjung. Sementara media lokal hanya Bali TV saja.&amp;nbsp;</description><content:encoded>GIANYAR - Tempat Pembuangan Akhir (TPA) biasanya identik dengan tempat yang kotor dengan bau sampah yang menyengat dan sumber penyakit. Namun hal itu berbeda dirasakan saat masuk ke dalam TPA Temisi di Kabupaten Gianyar, Bali.
&amp;nbsp;
Saat memasuki gerbang utama, nampak sebuah taman yang asri dengan puluhan jenis tanaman tumbuh rindang di tanah seluas 2400 meter persegi tersebut. Di tengah teman terdapat sebuah saung besar yang terbuat dari rotan khas Bali semakin menambah indah suasana TPA yang diresmikan 2008 lalu.
&amp;nbsp;
Masih dalam komplek yang sama, terdapat sebuah bangunan memanjang layaknya gudang terbuka berisi tumpukan sampah yang sudah dan belum menjadi kompos. Terlihat puluhan pekerja tengah sibuk memilah sampah organik dan non organik.
&amp;nbsp;
Tak jauh dari sana ada bangunan berukuran 400 meter persegi di dalamnya terdapat sebuah laboratorium kecil dan ruang sekretariat. Seorang wanita berkulit putih menyapa dengan ramah kedatangan kami.
&amp;nbsp;
Christine Gunawan selaku Sales and Science Manager TPA tersebut menerangkan dengan detail konsep pembangunan TPA ini. Christine menceritakan tanah yang dibangun untuk TPA tersebut dahulunya merupakan tanah yang penuh dengan tumpukan sampah, sehingga di bawah pondasi bangunan TPA tersebut merupakan sampah-sampah.
&amp;nbsp;
&quot;Dibawah pondasi ini sampah semua, kita bangun di atas sampah-sampah,&quot; katanya membuka pembicaraan.
&amp;nbsp;
Christine menjelaskan, dalam sehari TPA ini bisa menerima 100 ton sampah dalam sehari yang&amp;nbsp; berasal dari Gianyar. Dari total itu sekitar 40 sampai 50 ton sampah diolah menjadi pupuk kompos dan menghasilkan 15 hingga 20 ton kompos berkualitas setiap harinya. Jumlah tersebut meningkat setiap tahunnya.&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
Dari jumlah kompos yang dihasilkan, lanjutnya, permintaan pupuk kompos masih tergolong sedikit jumlahnya. Hal itu karena warga Gianyar sendiri enggan menggunakan kompos dalam pertaniannya. Warga lebih senang menggunakan pupuk kimia yaitu urea untuk bercocok tanam padi karena lebih cepat dan menghasilkan panen yang banyak. Meski untuk jangka panjang penggunaan pupuk kimia tidak baik.
&amp;nbsp;
Kendati tidak diterima di tempatnya sendiri, Christine bersama timnya yang berjumlah 30 orang terus berusaha agar kompos yang dihasilkan bisa laku dipasaran. Salah satunya dengan bekerjasama dengan hotel-hotel yang ada di kawasan Bali serta merambah ke Pulau Jawa.
&amp;nbsp;
Menurut Christine, penolakan warga Gianyar sudah dimaklumi. Sebelumnya ketika ingin membangun TPA tersebut pun warga sempat menolak. Namun setelah ada perundingan, TPA yang digagas oleh David Cuber seorang kebangsaan Swiss ini berhasil dibangun.
&amp;nbsp;
Christine mengaku prihatin justru pihak asing yang peduli dan tertarik pada TPA tersebut. Dia mencontohkan seperti hari ini tim dari CNN datang untuk meliput proses pengolahan sampah tersebut. Seminggu lalu, dari Swiss TV dan Jerman TV pun datang berkunjung. Sementara media lokal hanya Bali TV saja.&amp;nbsp;</content:encoded></item></channel></rss>
